Berkas Edukasi

Berkas Edukasi
Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Diposting oleh Pada 9/22/2018 01:27:00 PM dengan No comments

Berikut ini adalah berkas Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Download file format PDF.

Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus:

Materi pada buku ini mencakup:
  1. Hakikat anak berkebutuhan khusus
  2. Hakikat layanan
  3. Klasifikasi anak berkebutuhan khusus
  4. Karakteristik anak berkebutuhan khusus
  5. Layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus
  6. Layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di SD

Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus
Berkebutuhan khusus merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan anak-anak luar biasa atau mengalami kelainan dalam konteks pendidikan. Ada perbedaan yang signifikan pada penggunaan istilah berkebutuhan khusus dengan luar biasa atau berkelainan. Berkebutuhan khusus lebih memandang pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi dan mengembangkan kemampuannya secara optimal, sedang pada luar biasa atau berkelainan adalah kondisi atau keadaan anak yang memerlukan perlakuan khusus.

Memahami anak berkebutuhan khusus berarti melihat perbedaan individu, baik perbedaan antar individu (inter individual) yaitu membandingkan individu dengan individu lain baik perbedaan fisik, emosi maupun intelektual, dan perbedaan antar potensi yang ada pada individu itu sendiri (intra individual). Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk memahami anak berkebutuhan khusus yaitu impairment yang berarti cacat, disability dimana seseorang mengalami hambatan karena berkurangnya fungsi suatu organ yang dimungkinkan karena kondisi cacat, dan handicaped, merupakan keadaan seseorang, yang mengalami hambatan dalam komunikasi dan sosialisasi dengan lingkungan. Kondisi handicaped inilah yang merupakan berkebutuhan khusus, karena untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran memerlukan perlakuan khusus.

Jumlah anak berkebutuhan khusus antar lembaga ada perbedaan, hal ini sebenarnya wajar, karena setiap lembaga memiliki tujuan yang berbeda sehingga cara pandang dan rumusan pengertian (definisi) anak berkebutuhan khusus bahkan istilah yang digunakan juga berbeda. Jumlah anak berkebutuhan khusus berdasarkan sensus penduduk akan lebih kecil dari angka prakiraan, hal ini berkait dengan sikap masyarakat yang masih banyak enggan mengakui keberadaan anak berkebutuhan khusus. Menurut BPS jumlah penyandang cacat ada 1,48% dari populasi, anak berkebutuhan khusus yang bersekolah menurut Dir. PSLB ada 81.434 anak, sebagai pembanding di negara maju seperti USA anak berkebutuhan khusus ada 11,5% dari populasi.

Pengelompokkan anak berkebutuhan khusus hanya diperlukan untuk kebutuhan penanganan anak secara klasikal, sedangkan untuk kepentingan yang bersifat sosial anak berkebutuhan khusus tidak perlu dikelompokkan. Anak berkebuthan khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Kelainan Mental terdiri dari:
  • Mental Tinggi
  • Mental rendah
  • Kesulitan belajar
Kelainan Fisik meliputi:
  • Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
  • Kelainan indera Penglihatan (Tunanetra)
  • Kelaianan Indera Pendengaran (Tunarungu)
  • Kelainan Wicara

Kelainan Emosi meliputi:
  • Gangguan Perilaku
  • Gangguan Konsentrasi (ADD)
  • Anak Hiperaktive (ADHD)

Ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap penyebab anak berkebutuhan khusus adapun faktor tersebut dapat dikelompokkan berikut:
  • Faktor heriditer
  • Faktor infeksi
  • Faktor keracunan
  • Kekurangan gizi

Sedangkan anak berkebutuhan khusus bila ditinjau dari waktu terjadinya kelainan dapat dikelompokkan:
  • Pre-natal
  • Peri-natal
  • Pasca-natal

Kelainan yang diderita anak dapat menimbulkan berbagai dampak, baik terhadap keluarga maupun anak itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan adanya anak berkebutuhan khusus dapat dibagi menjadi:
  • Dampak fisiologis
  • Dampak psikologis, dan
  • Dampak sosiologis.

Keberadaan anak berkebutuhan khusus di masyarakat masih belum sepenuhnya dapat diterima, sehingga banyak hal yang menyangkut hak anak-anak berkebutuhan khusus belum dapat diporoleh, atau dengan kata lain masih terjadi deskriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus baik dalam bidang sosial, hukum maupun pendidikan. Banyak usaha telah dilakukan oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan gerakan masyarakat internasional yang peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus yang melahirkan berbagai kesepakatan dan perangkat hukum perundangan yang mengikat. Adapun perjanjian dan kesepakatan serta hukum perundangan yang menaungi anak berkebutuhan khusus dapat dikemukakan sebagai berikut:
  • UUD 1945 (Amandemen)
  • UU No. 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
  • UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat
  • Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1998 tentang Upaya Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat
  • Deklarasi Bandung tahun 2004 ”Indonesia menuju Pendidikan Inklusi”.
  • Deklarasi Salamanca
  • Dsb.

Dari berbagai peraturan perundangan dan kesepakatan yang ada tersebut telah mencakup hampir semua hak anak-anak berkebutuhan khusus, hanya yang menjadi permasalahan adalah pelanggaran terhadap hak-hak anak yang belum ada sanksinya.

Hakikat Layanan
Layanan pada kakikatnya merupakan bentuk jasa yang diberikan oleh seseorang, institusi atau perusahaan kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dalam konteks anak berkebutuhan khusus, layanan diberikan kepada anak-anak yang mengalami kelainan, baik dari segi fisik, mental-intelektual, dan sosial-emosional sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang diberikan.

Selama ini pemerintah maupun swasta telah banyak memberiakan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Selain itu dukungan fasilitas dan ketenagaan (SDM) yang tidak sedikit dalam upaya pembinaan dan pelayanan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus selama ini.

Bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:
  1. Sekolah Luar Biasa (SLB); Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan.
  2. Sekolah Luar Biasa Berasrama; Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas asrama.
  3. Kelas jauh/Kelas Kunjung; Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau SDLB.
  4. Sekolah Dasar Luar Biasa; SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Tenaga kependidikan di SDLB terdiri dari kepala sekolah, guru untuk anak tunanetra, guru untuk anak tunarungu, guru untuk anak tunagrahita, guru untuk anak tunadaksa, guru agama, dan guru olahraga. 

Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi
Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum.

Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
  1. Bentuk Kelas Biasa; Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa.
  2. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus; Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal.
  3. Bentuk Kelas Khusus; Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum yang melaksanakan program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat sosialisasi.

Pendidikan inklusif merupakan suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Hal ini berkenaan dengan adanya hak setiap anak untu memperoleh pendidikan yang baik. Pendidikan inklusi mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya, tanpa memandang derajat, kondisi ekonomi, ataupun kelainannya. Penting bagi guru untuk disadari, bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif , yang terpusat pada anak. Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan di sekolah.

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi juga harus menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, yang memungkinkan semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Berbagai metode, atau strategi belajar sangat mungkin dikembangkan pada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. Adanya penghargaan terhadap diri anak, memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik.

Kurikulum, dapat menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dikembangkan sekolah sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh, modifikasi, atau secara khusus dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping khusus, yang bisa didatangkan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB) sebagai sekolah basis, ataupun guru di sekolah umum yang telah memperoleh pelatihan khusus sebagai guru pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.

Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
Klasifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami kelainan fisik mencakup anak-anak yang mengalami kelainan penglihatan (tunanetra), kelainan fungsi pendengaran (tunarungu), dan anak-anak yang mengalami kelainan tubuh (tunadaksa). Derajat kelainan masing-masing jenis ketunaan tersebut sangat beragam, dari kategori ringan sampai yang berat, namun secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun klasifikasi secara khusus.

Secara umum anak tunanetra diklasifikasan menjadi (1) Low vision (kurang lihat), yaitu penyandang tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m, dan (2) The blind, tunanetra berat, yang memiliki tingkat ketajaman penglihatan 6/60m atau kurang, serta (3) sangat berat, yang memilki ketajaman penglihatan dengan visus 0. Secara pedagogis, tunanetra dapat diklasifikasikan menjadi kategori sedang (moderate visual disability), taraf berat (severe visual disability), dan kategori ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability).

Untuk anak tunarungu secara umum diklafikasikan menjadi dua, yaitu kurang dengar (hard of hearing) dan tuli (the deaf). Sedang secara lebih rinci tunarungu dapat diklasifikasikan menjadi (1) tunarungu ringan, yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 25– 45 dB, (2) tunarungu sedang, yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 46 – 70 dB, (3) tunarungu berat, yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 71 – 90 dB, dan (4) Tunarungu sangat berat (profound), yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 90 dB ke atas.

Demikian pula untuk anak tunadaksa yang dapat diklasifikasikan menjadi (1) Cerebral palsy (CP) dalam taraf ringan, dapat berjalan tanpa alat bantu, mampu berbicara dan dapat menolong dirinya sendiri. Taraf sedang, memerlukan bantuan untuk berjalan, latihan berbicara, dan mengurus diri sendiri. Berat, memerlukan perawatan tetap dalam ambulansi, berbicara, dan menolong diri sendiri. (2) Berdasarkan letaknya, mencakup spastic, kekakuan pada sebagian atau seluruh ototnya. Dyskenisia, gerakannya tak terkontrol (athetosis), serta terjadinya kekakuan pada seluruh tubuh yang sulit digerakkan (rigid). Ataxia, gangguan keseimbangan, koordinasi mata dan tangan tidak berfungsi, dan cara berjalannya gontai. Campuran, yang mengalami kelainan ganda, dan (3) Polio, dengan tipe spinal, kelumpuhan pada otot-otot leher, sekat dada, tangan dan kaki; tipe bulbair, kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau lebih saraf tepi yang menyebabkan adanya gangguan pernapasan; tipe bulbispinalis, gangguan antara tipe spinal dan bulbair; dan encephalitis, yang umumnya ditandai dengan adanya demam, kesadaran menurun, tremor, dan kadang-kadang kejang.

Klafifikasi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami kelainan mental intelektual dan emosional mencakup anak-anak yang mengalami kelainan keterbelakangan mental (tunagrahita), dan anak-anak yang mengalami kelainan perilaku sosial (tunalaras). Derajat kelainan masing-masing jenis ketunaan tersebut juga sangat beragam, dari kategori ringan sampai yang berat, namun secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun klasifikasi secara khusus.

Secara umum anak tunagrahita diklasifikasan menjadi (1) tunagrahita ringan; dengan tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam penyesuaian sosial maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada lingkungan sosial yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil, (2) tunagrahita sedang; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50; mampu melakukan keterampilan mengurus diri sendiri (self-helf); mampu mengadakan adaptasi sosial di lingkungan terdekat; dan mampu mengerjakan pekerjaan rutin yang perlu pengawasan atau bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered work-shop), dan (3) tunagrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang kehidupannya selalu tergantung bantuan dan perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus sendiri dan berkomunikasi secara sederhana dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan (IQ) kurang dari 30.

Sedang anak-anak yang mengalami kelainan perilaku sosial- emosional (tunalaras) dapat diklasifikasikan menjadi; (1) berdasarkan perilakunya, mencakup (a) beresiko tinggi; hiperaktif suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai oranglain, mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka mencuri, mengejek, dan sebagainya, (b) beresiko rendah; autism, kawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering menangis, malu, dan sebagainya, (c) kurang dewasa; suka berfantasi, berangan-anagan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, suka mengantuk, mudah bosan, dan sebagainya, dan (d) agresif; memiliki gang jahat, suka mencuri dengan kelompoknya, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah; (2) berdasarkan kepribadian, mencakup kekacauan perilaku, menarik diri (withdrawll), ketidakmatangan (immaturity), dan agresi sosial.

Anak-anak berkebutuhan khusus, yang mengalami berkelainan akademik dalam konteks ini mencakup anak-anak berbakat dan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar khusus. Derajat kelainan masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus tersebut juga sangat beragam, dari kategori ringan sampai yang berat, namun secara umum dapat dilihat klasifikasi secara umum maupun klasifikasi secara khusus.

Secara umum anak berbakat diklasifikasan berdasarkan standar Stanford Binet, yaitu meliputi, (1) kategori rata-rata tinggi , dengan tingkat kapasitas intentelektual (IQ): 110-119, (2) kategori superior, dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) :120-139, dan (3) kategori sangat superior, dengan tingkat intelektual (IQ) :140-169.

Untuk anak berkesulitan belajar spesifik, secara umum dapat diklasifikasikan menjadi; (1) Kesulitan Berlajar Perkembangan. Pengelompokkan kesulitan belajar pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) adalah kesulitan belajar perkembangan, hal ini dikarenakan anak balita belum belajar secara akademis, tetapi belajar dalam proses kematangan prasyarat akademis, seperti kematangan persepsi visual-auditory, wicara, daya deferensiasi, kemampuan sensory-motor dsb., dan (2) Kesulitan Belajar Akademik, Anak-anak usia sekolah yaitu usia di atas 6 tahun masuk dalam kelompok kesulitan belajar akademik, disebabkan karena kesulitan belajar akademik anak-anak ini mengalami kesulitan bidang akademik di sekolah yang sangat spesifik yaitu kesulitan dalam satu jenis/bidang akademik seperti berhitung/matematika (diskalkulia), kesulitan membaca (disleksia), kesulitan menulis (disgraphia), kesulitan berbahasa (disphasia), kesulitan/tidak terampil (dispraksia), dsb.

Selain klasifikasi yang telah disebutkan tersebut, sebenarnya masih banyak klasifikasi lain berdasarkan konsep dan kepentingannya masing- masing. Termasuk di dalamnya adalah klasifikasi untuk anak berkesulitan belajar khusus, berdasarkan gangguan atau jenis kesulitan yang dialami.

Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
Anak-anak berkelainan fisik terdiri dari tunanetra, tunarungu dan tunadaksa, adapun karakteristik kelainan fisik meliputi:
1. Tunanetra
  • Fisik, adanya kelainan pada indera penglihatan
  • Kemampuan akademik, tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya.
  • Motorik, kurang dapat melakukan mobilitas secara umum
  • Sosial-emosional, mudah tersinggung dan bersifat verbalism yaitu dapat bicara tetapi tidak tahu nyatanya.
2. Tunarungu
  • Fisik, kesan lahiriah tidak menampakan adanya kelainan pada anak
  • Kemampuan akademik, tidak berbeda dengan keadaan anak-anak normal pada umumnya.
  • Motorik, sering anak tunarungu kurang memiliki keseimbangan motorik dengan baik.
  • Sosial-emosional, sering memperlihatkan rasa curiga yang berlebihan, mudah tersinggung.

3. Tunadaksa
  • Fisik, jelas menampakkan adanya kelainan baik fisik, maupun motorik.
  • Kemampuan akademik, untuk tunadaksa ringan tidak berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Sedangkan untuk tunadaksa berat terutama bagai anak yang mengalami gangguan neuro-muscular sering disertai dengan keterbelakangan mental.
  • Motorik, banyak tunadaksa yang mengalami gangguan motorik baik motorik kasar maupun motorik halus.
  • Sosial-emosional, anak tunadaksa memiliki kecenderungan rasa rendah diri (minder) dalam pergaulan dengan orang lain.

Tunagrahita adalah seseorang yang memiliki kapasitas intelektual (IQ) di bawah 70 yang disertai dengan ketidak mampuan dalam penyesiuaian diri dengan lingkungan sehingga memiliki berbagai permasalahan sosial, untuk itu diperlukan layanan dan perlakuan pendidikan khusus. Tunagrahita dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu sehingga terdapat berbagai istilah kalsifikasi dan karakteristiknya, menurut psikologi tunagrahita dibagi menjadi mild, moderate, severe, dan profound. Sedang kedokteran membagi menjadi debil, imbesil dan idiot, serta dalam pendidikan dapat di kelompokkan menjadi mampu didik, mampu latih dan perlu rawat. Karakteristik berdasar klasifikasi klinik atau adanya ciri fisik yang khas meliputi Down’s syndrome, kritin, macro cephalus (hidro cephalus), dan microcephalus. Pada dasarnya anak tunagrahita memiliki karakteristik yang relatif homogin berdasar klasifikasinya. Adapun karakteristik tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
  1. Tingkat ringan, memiliki kemampuan paling tinggi setraf dengan anak kelas 5 SD, mampu di ajar memca, menulis dan berhitung sederhana. Dalam sosialisasi masih mampu mnyesuaikan diri dengan lingkungan sosial secara terbatas.
  2. Tingkat sedang, memiliki kemampuan akademik maksimal setaraf dengan anak kelas 2 SD, biasanya sering disertai gangguan motorik dan komunikasi sehingga sangat sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, aktifitas sosialnya hanya sebatas untuk memelihara diri sendiri.
  3. Tingkat berat, anak ini tidak mampu dididik maupun dilatih, kemampuannya paling tinggi setaraf anak pra-sekolah, sepanjang hidupnya anak ini bergantung pada orang lain.
Karakteristik anak tunalaras secara umum menunjukkan adanya gangguan perilaku, seperti suka menyerang (agresive), gagngguan perhatian dan hiperaktive. Secara akademik anak tunalaras sering ditemui tidak naik kelas hal ini dikarenakan gangguan perilakunya bukan karena kapasitasv intelektualnya. Karakteristik emosi- sosial anak tunalaras suka melanggar norma baik yang berlaku di institusi seperti sekolah maupun masyarakat sehingga anak ini sering disebut dengan anak maladjusted. Tunalaras sering menunjukkan kepribadian yang tidak matang (immature) dan menunjukkan adanya kecemasan (anxietas).

Berbakat merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya anak berkelainan mental tinggi yaitu di atas rata-rata anak normal. Adapun karakteristik atau ciri yang menonjol pada anak berbakat meliputi:
  1. Karakteristik Intelektual, cepat dalam belajar, rasa ingin tahunya tinggi, daya konsentrasinya cukup lama, memiliki daya kompetetif tinggi.
  2. Karakteristik Sosial-emosional, mudah bergaul atau menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, memiliki sifat kepemimpinan (leadership) terhadap teman sebayanya, bersifat jujur, dan memiliki tenggangg rasa serta mampu mengontrol emosi.
  3. Karakteristik Fisik-kesehatan, berpenampilan menarik, memiliki daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit, dapat memelihara penampilan fisik yang bersih dan rapi.

Berkesulitan belajar merupakan istilah generik, sehingga mengandung berbagai bentuk kesulitan di segala bidang. Kesulitan belajar spesifik dikenal dengan istilah disfungsi minimal otak (DMO) oleh dunia kedokteran. Berkesulitan belajar spesifik pada dasarnya dapat dipaham dengan 4 demensi yaitu:
  • Kesenjangan antara kapasitas intelektual dan prestasi belajar
  • Adanya disfungsi minimal otak
  • Adanya gangguan pada proses psikologi dasar
  • Adanya kesulitan pada pencapaian prestasi belajar akademik

Kesulitan belajar dapat dibagi menjadi kesulitan belajar perkembangan bagi anak pra-sekolah dan kesulitan belajar akademik bagi anak usia sekolah. Sedangkan karakteristik spesifik dapat ditunjukkan sesuai dengan sebutan atau gejala yang muncul yaitu: disleksia, disgraphia, dispraksia, diskalkulia, disphasia, body awarness, Dsb. Anak berkesulitan belajar spesifik memiliki karakteristik yang unik setiap anak memiliki karakteristik yang ber beda-beda (heterogen) sehingga untuk penangananya setiap anak akan berbeda sesuai dengan hasil diagnosisnya. Untuk itu penanganan anak tidak ada di sekolah khusus tetapi di sekolah umum dengan kelas remidial.

Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Prinsip dasar layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus adalah sebagai berikut (a) Keseluruhan anak (all the children), (b) kenyataan (reality), (c) program yang dinamis (a dynamic program) , (d) kesempatan yang sama (equality of opportunity), (e) kerjasama (cooperative), (f) kasih sayang , (g) keperagaan, (h) keterpaduan dan keserasian antar ranah, (i) pengembangan minat dan bakat, (j) kemampuan anak, (k) model, (l) pembiasaan, (m) latihan, (n) pengulangan, (o) penguatan Selain prinsip tersebut di atas ada juga prinsip lain yang perlu diperhatikan guru adalah (a) prinsip totalitas, (b) prinsip keperagaan, (c) prinsip berkesinambungan, (d) prinsip aktivitas, dan (e) prinsip individual.

Secara umum, pendekatan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ada dua, yaitu (1) pendekatan kelompok/klasikal, dan (2) pendekatan individual. Pendekatan kelompok, memilki kelebihan dalam hal pelaksanaan dari segi waktu, tenaga, dan biaya. Sedangkan pendekatan individual, pencapaian kompetensi yang diharapkan tentu akan lebih baik dan lebih efektif, sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Selain itu, jika berorientasi ke pencapaian hasil belajar anak, ada dua pendekatan yang digunakan dalam layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus, yaitu pendekatan remidial dan pendekatan akseleratif. Pendekatan remidial bertujuan untuk membantu anak berkebutuhan khusus dalam upaya mencapai kompetensi yang ditentukan dengan lebih menekankan pada hambatan atau kekurangan yang ada pada anak berkebutuhan khusus. Pendekatan remidial didasarkan pada bagian-bagian sub kompetensi yang belum dicapai oleh anak.

Pendekatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bergantung pada kelainan yang dialami anak. Anak tunanetra layanan pendidikan meliputi (1) penguasaan braille, (2) latihan orientasi dan mobilitas, (3) penggunaan alat bantu dalam pembelajaran berhitung dan matematika, meliputi cubaritma, papan taylor frame, abacus (sempoa) dalam operasi penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan beberapa konsep matematika braille, (4) pembelajaran pendidikan jasmani bagai anak tunanetra, dan (5) pembelajaran IPA. Anak tunarungu, layanan pendidikan adalah terletak pada pengembangan persepsi bunyi dan komunikasi. Anak tunadaksa layanan pendidikan utama terletak pada bina gerak. Untuk memberikan layanan bina gerak yang tepat diperlukan dukungan terapi, khususnya fisioterapi untuk memulihkan kondisi otot dan tulang anak agar tidak semakin menurun kemampuannnya.

Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunagrahita lebih diarahkan pada pendekatan indivudual dan pendekatan remidiatif. Tujuan utama layanan pendidikan bagi anak tunagrahita adalah penguasaan kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari dalam mengelola diri sendiri. Untuk mencapai itu perlu pembelajaran mengurus diri sendiri dan pengembangan keterampilan vocational terbatas sesuai dengan kemampuannnya. Layanan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita meliputi latihan senso motorik, terapi bermain dan okupasi, dan latihan mengurus diri sendiri.

Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunalaras adalah pendekatan bimbingan dan konseling serta terapi. Pendekatan terapi yang sering digunakan untuk layanan pendidikan anak tunalaras adalah (1) insight-oriented therapies; (2) play therapy; (3) group therapy; (4) behavior therapi; (5) marital and family therapy; dan (6) drug therapy.

Pendekatan layanan pendidikan bagi anak berbakat di sekolah dasar dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap penjaringan (screening) dan tahap seleksi (identifikasi) setelah teridentifikasi keberbakatan anak, langkah selanjutnya adalah menentukan layanan pendidikan bagi mereka. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagai anak berbakat, yaitu layanan akselerasi, layanan kelas khusus, layanan kelas unggulan, dan layanan bimbingan sosial dan kepribadian.

Pendekatan layanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar spesifik ada tiga macam, yaitu layanan remidiasi, layanan kompensasi dan layanan prevensi.

Fasilitas pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus bergantung pada karakteristik masing-masing anak. Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra adalah braille dan peralatan orientasi mobilitas, serta media pelajaran yang menungkinkan anak untuk memanfaatan fungsi perabaan dengan optimal. Fasilitas pendidikan bagi anak tunarungu meliputi audiometer, hearing aids, telephone-typewriter, mikro komputer, audiovisual, tape recorde, spatel, cermin. Fasilitas pendidikan untuk anak tunagrahita adalah latihan sensomotorik dan pembentukan motorik halus. Fasilitas pendukung pendidikan untuk anak tunadaksa berkaitan dengan aksesibilitas gedung dan ruangan dan fasilitas fisioterapi, terapi bermain, dan terapi okupasi. Selain itu, bagi anak tunadaksa adalah fasilitas mobilisasi meliputi kruk, splint, brace, dan kursi roda. Fasilitas pendukung pendidikan bagi anak tunalaras lebih berkaitan dengan fasilitas terapi bermain, terapi okupasi, dan fisioterapi.

Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di SD
Langkah awal yang dilakukan dalam menemukan dan menentukan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar adalah melalui identifikasi. Secara umum, identifikasi adalah upaya menemukenali anak-anak yang diduga mengalami kelainan, atau berkebutuhan khusus. Kegiatan ini sangat penting dilakukan oleh guru, untuk dapat mememukan dan memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan pendidikannya.

Identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik, diantaranya melalui observasi yang dilakukan secara seksama dan sistematis, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk melengkapi data atau informasi yang diperoleh melalui observasi tersebut, perlu dilakukan pula wawancara dengan orangtua, keluarga, teman sepermainan, ataupun dengan fihak-fihak lain yang dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan seorang anak. Selain itu identifikasi juga dapat dilakukan melalui teknik tes yang berupa serangkaian tugas yang harus dikerjakan anak, baik yang sederhana buatan guru sendiri ataupun tes psikologi yang telah distandarkan. Tes buatan guru sendiri dapat dirancang berdasarkan usia anak, sedangkan tes psikologi merupakan bentuk tes yang sudah dibakukan.

Sebagai pendalaman materi ini, latihan-latihan dan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk anak berkebutuhan khusus sangat dianjurkan. Melalui aktivitas ini didukung dengan pencermatan karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus, maka seorang guru tidak akan mengalami kesulitan dalam menemukenali anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar.

Asesmen merupakan aktivitas yang amat penting dalam proses pembelajaran di sekolah, untuk itu pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif dan komprehentif terhadap kondisi dan kebutuhan anak. Pada intinya asesmen berorientasi pada upaya pengumpulan informasi secara sistematis dalam upaya perencanaan dan implementasi pembelajaran siswa di sekolah.

Tujuan daripada pelaksanaan asesmen dalam konteks pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus diantaranya adalah untuk (1) penseleksian anak-anak yang berkebutuhan khusus, (2) penempatan siswa berkebutuhan khusus, sesuai dengan kemampuannya, (3) perencanaan program dan strategi pembelajaran, dan (4) mengevaluasi serta memantau perkembangan belajar siswa. Pelaksanaan asesmen tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu merumuskan tujuannya dengan memperhatikan tahapan ruang lingkup materinya. Langkah selanjutnya adalah merumuskan prosedurnya, yang dapat dilakukan melalui tes formal maupun informal untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Dari hasil informasi yang telah diperoleh, selanjutnya diolah dan dianalisis guna menentukan tujuan pembelajaran, dan strateginya dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Sebagai tindak lanjutnya adalah implementasi kegiatan pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam upaya pelaksanaan asesmen untuk anak-anak berkebutuhan khusus antara lain melalui observasi, tes formal dan informal, dan wawancara, dengan didukung beberapa instrumen seperti checklist ataupun skala penilaian.

Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang unik, dengan berbagai ragam permasalahan belajar yang dihadapi di sekolah. Untuk mengobtimalkan potensinya, maka perlu dirancang program khusus yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan masing-masing individu, yang mungkin selama ini masih mengikuti program umum di sekolahnya.

Program pembelajaran individual (PPI) merupakan salah satu program yang disusun sesuai dengan kebutuhan individu anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus, baik untuk pendidikan jangka pendek atau jangka panjang Langkah awal untuk mengembangkan program pembelajaran individu adalah dengan melakukan identifikasi dan asesmen untuk mengetahui kompetensi dan bidang kesulitan yang dialami oleh seorang anak. Informasi tersebut sangat diperlukan, terutama untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai. Untuk mengembangkan program ini, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu; (1) mendeskripsikan kompetensi siswa secara rinci pada saat sekarang dalam berbagai bidang pelajaran; (2) merumuskan tujuan, baik jangka panjang (tahunan) ataupun tujuan jangka pendek, secara khusus dalam kegiatan pembelajaran; (3) menentukan teknik dan alat evaluasi untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai; (4) mengembangkan ranah kurikulum yang akan dibuat atau diprogramkan, serta (5) menetapkan strategi pembelajaran, sesuai dengan penekanan pada ranah kurikulumnya.

Pelaksanaan program dilakukan dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan tim, dan mempersiapkan materi dan lembar kegiatan, fasilitas dan sumber, serta kalender akademik yang akan digunakan. Selama pelaksanaan, kegiatan harus selalu dipantau dan dievaluasi untuk melihat perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai siswa.

    Download Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus



    Download File:
    Bahan Ajar Cetak Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus - Suparno.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Semoga bisa bermanfaat.
    Buku High Order Thinking Skills (HOTS)

    Diposting oleh Pada 9/22/2018 10:37:00 AM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Buku High Order Thinking Skills (HOTS). Download file format PDF.

    Buku High Order Thinking Skills (HOTS)
    Buku High Order Thinking Skills (HOTS)

    Buku High Order Thinking Skills (HOTS)

    Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Buku High Order Thinking Skills (HOTS):

    Definition
    Higher order thinking skills include critical, logical, reflective, metacognitive, and creative thinking. They are activated when individuals encounter unfamiliar problems, uncertainties, questions, or dilemmas. Successful applications of the skills result in explanations, decisions, performances, and products that are valid within the context of available knowledge and experience and that promote continued growth in these and other intellectual skills. Higher order thinking skills are grounded in lower order skills such as discriminations, simple application and analysis, and cognitive strategies and are linked to prior knowledge of subject matter content. Appropriate teaching strategies and learning environments facilitate their growth as do student persistence, self-monitoring, and open-minded, flexible attitudes.

    This definition is consistent with current theories related to how higher order thinking skills are learned and developed. Although different theoreticians and researchers use different frameworks to describe higher order skills and how they are acquired, all frameworks are in general agreement concerning the conditions under which they prosper.

    Teaching Strategies
    Lessons involving higher order thinking skills require particular clarity of communication to reduce ambiguity and confusion and improve student attitudes about thinking tasks. Lesson plans should include modeling of thinking skills, examples of applied thinking, and adaptations for diverse student needs. Scaffolding (giving students support at the beginning of a lesson and gradually requiring students to operate independently) helps students develop higher order learning skills. However, too much or too little support can hinder development.

    Useful learning strategies include rehearsal, elaboration, organization, and metacognition. Lessons should be specifically designed to teach specific learning strategies. Direct instruction (teacher-centered presentations of information) should be used sparingly. Presentations should be short (up to five minutes) and coupled with guided practice to teach subskills and knowledge.

    Teacher and/or student-generated questions about dilemmas, novel problems, and novel approaches should elicit answers that have not been learned already.

    Sincere feedback providing immediate, specific, and corrective information should inform learners of their progress.

    Small group activities such as student discussions, peer tutoring, and cooperative learning can be effective in the development of thinking skills. Activities should involve challenging tasks, teacher encouragement to stay on task, and ongoing feedback about group progress.

    Computer-mediated communication and instruction can provide access to remote data sources and allow collaboration with students in other locations. It can be effective in skill building in areas such as verbal analogies, logical thinking, and inductive/deductive reasoning.

    Assessment
    Valid assessment of higher order thinking skills requires that students be unfamiliar with the questions or tasks they are asked to answer or perform and that they have sufficient prior knowledge to enable them to use their higher order thinking skills in answering questions or performing tasks. Psychological research suggests that skills taught in one domain can generalize to others. Over long periods of time, individuals develop higher order skills (intellectual abilities) that apply to the solutions of a broad spectrum of complex problems.

    Three item/task formats are useful in measuring higher order skills: (a) selection, which includes multiple-choice, matching, and rank-order items; (b) generation, which includes short- answer, essay, and performance items or tasks; and (c) explanation, which involves giving reasons for the selection or generation responses.

    Classroom teachers recognize the importance of having students develop higher order skills yet often do not assess their students’ progress. Several performance-based models are available to assist them in teaching and assessing these skills. Comprehensive statewide assessment of higher order skills is feasible but would be expensive. Florida and a number of other states now incorporate the measurement of higher order skills in their statewide assessments.

      Download Buku High Order Thinking Skills (HOTS)

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku High Order Thinking Skills (HOTS) ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Buku High Order Thinking Skills (HOTS)



      Download File:
      High Order Thinking Skills (HOTS) - FJ King, Ph.D., Ludwika Goodson, M.S., dan Faranak Rohani, Ph.D..pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku High Order Thinking Skills (HOTS). Semoga bisa bermanfaat.
      Perkembangan Peserta Didik

      Diposting oleh Pada 9/22/2018 09:45:00 AM dengan No comments

      Berikut ini adalah salah satu berkas mengenai Perkembangan Peserta Didik. Download file format PDF.

      Perkembangan Peserta Didik
      Perkembangan Peserta Didik

      Perkembangan Peserta Didik

      Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas mengenai Perkembangan Peserta Didik:

      KARAKTERISTIK DAN PERBEDAAN INDIVIDU

      Individu dan Karakteristiknya

      Pengertian Individu
      Individu adalah manusia yang berkedudukan sebagai pribadi yang utuh, pilah, tunggal, dan khas. Dalam kaitannya dengan pendidikan, akan lebih ditekankan hakikat manusia sebagai kesatuan makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang hidup untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat. Setiap individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya karena ciri-ciri yang khusus.

      Karakteristik Individu
      Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial. Karakteristik yang berkaitan dengan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Rangsangan dari berbagai faktor lingkungan membantu perkembangan potensi-potensi biologis dan kemudian membentuk pola karakteristik tingkah laku yang berbeda pada setiap individu.

      Perbedaan Individu
      Dua aspek yang menonjol dalam perkembangan individu yaitu semua manusia mempunyai unsur kesamaan dalam pola perkembangan, dan di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk manusia secara sosial dan biologis, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.

      Bidang-Bidang Perbedaan
      Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu sebelum mengukur kapasitas mental adalah dengan menghitung umur kronologi. Umur kronologi kemudian menentukan tingkat kematangan siswa dan karena itu memungkinkan dia untuk dididik hendaknya dilihat sebagai komponen perbedaan. Perbedaan antara satu dengan yang lainnya dan persamaan merupakan ciri dari pembelajaran pada suatu tingkat pembelajaran. Sejauh mana tingkat tujuan pendidikan, isi dan teknik pendidikan ditetapkan, disesuaikan dengan perbedaan itu.

      Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan fisik, sosial kepribadian, intelejensi dan kemampuan dasar, serta perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah. Perbedaan yang lain yang terdapat pada manusia yaitu perbedaan kognitif, individual dalam kecakapan bahasa, kecakapan motorik, latar belakang, bakat, dan perbedaan dalam kesiapan belajar.

      Aspek-Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
      Setiap individu hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan non fisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap.

      Pertumbuhan Fisik
      Pertumbuhan manusia merukan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya sejak anak belum lahir hingga ia dewasa.

      Pertumbuhan sebelum lahir
      Masa sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan sangat kompleks karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan saraf yang membentuk sistem lengkap.

      Pertumbuhan setelah lahir
      Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertumbuhan manusia berlangsung hingga dia dewasa. Pertumbuhan fisik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perilaku anak sehari-hari. Secara langsung pertumbuhan fisik seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisik akan mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan orang lain.

      Intelek
      Intelek atau daya pikir dipengaruhi oleh kemampuan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik.

      Emosi
      Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi khusus yang dimiliki manusia, emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan perilaku fisik.

      Sosial
      Manusia tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan manusia lainnya. Akhirnya manusia mengenal kehidupan bersama atau berkehidupan sosial.

      Bahasa
      Fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi. Setiap manusia cenderung berkomunikasi dengan dunia sekitarnya. Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.

      Bakat Khusus
      Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki oleh seorang individu yang hanya sedikit rangsangan atau latihan kemampuan itu telah berkembang dengan baik.

      Sikap, Nilai, dan Moral
      Bloom mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan motorik. Sikap, nilai, dan moral ditanamkan sejak anak-anak hingga ia mampu mengikuti berbagai ketentuan yang ada dalam masyarakat.

      PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

      Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
      Pertumbuhan berbeda dengan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.

      Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan pematangan fisik.

      Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala yang nampak, proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang tinggi berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar.

      Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut yaitu perubahan ukuran, perbandingan, mengganti hal-hal yang lama, dan berubah untuk memperoleh hal-hal yang baru.

      Tugas-Tugas Perkembangan
      Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologis manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya.

      Tugas-tugas perkembangan tersebut dikaitkan dengan fungsi belajar karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar mampu melakukan penyesuaian diri dalam kehidupan nyata.

      Havighurst mengemukakan sepuluh jenis tugas perkembangan remaja seperti: mencapai hubungan dengan lawan jenis secara lebih memuaskan dan matang; mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial; mencapai keadaan badannya dan menggunakannya secara efektif; mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa; mencapai kebebasan ekonomi; memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan; menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga; mengembangkan keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga negara yang kompeten; menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial; dan menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.

      Hukum-Hukum Pertumbumbuhan dan Perkembangan
      Hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan antara lain hukum cephalopodal yang menyatakan pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Hukum proximodistal menyatakan bahwa pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Perkembangan terjadi dari umum ke khusus. Perkembangan berlangsung dalam tahap-tahap perkembangan. Pada setiap masa perkembangan yang berbeda ciri antara ciri yang ada pada suatu masa perkembangan yang lainnya. Hukum tempo dan ritme perkembangan, tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa berlaku umum.

      Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan

      Remaja Menurut Hukum
      Dalam hubungannya dengan hukum, hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (uu perkawinan no 1/1974 tentang perkawinan).

      Remaja Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik
      Dalam ilmu kedokteran, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Secara anatomis berarti alat-alat kelamin khususnya serta keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuk yang sempurna.

      Batasan Remaja Menurut WHO
      Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan di mana pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual, mengalami perkembangan psikologi dan pola identitas menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang relatif lebih mandiri.

      Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis
      Salah satu ciri remaja adalah perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa, yang ditandai dengan proses entropy dan negentropy. Entropy adalah keadaan di mana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Negentropy adalah keadaan di mana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.

      Definisi Remaja untuk Masyarakat Indonesia
      Menurut Sarlito, tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah.

      Jenis-Jenis Kebutuhan dan Pemenuhannya
      Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menuju kedewasaan, kebutuhan manusia mengalami perubahan. Kebutuhan sosial psikologis lebih banyak dari pada kebutuhan fisik karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas. Kebutuhan ini disebabkan berbagai dorongan seperti kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, keyakinan diri, dan aktualisasi diri. Menurut lewis kebutuhan manusia meliputi kebutuhan jasmani, psikologis, ekonomi, sosial, politik, penghargaan dan aktualisasi diri.

      Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya
      Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat dikelompokkan menjadi kebutuhan organik, emosional, berprestasi, dan kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.

      Berbagai masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhannya yaitu: upaya untuk dapat mengubah sikap dari anak-anak menuju dewasa. Kesulitan dalam menerima perubahan fisiknya. Kebingungan remaja dalam memahami fungsi seks yang menyebabkan salah tingkah dan menentang norma. Penyesuaian sosial yang dirasa sulit oleh remaja. Perbedaan nilai dan norma kehidupan.

      Usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan remaja seperti pendidikan kesehatan dan UKS pada sekolah, pendidikan seksual, dan mengenalkan remaja pada berbagai norma sosial.

      PERTUMBUHAN FISIK
      Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan itu meliputi perubahan ukiran tubuh, proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan fisik anak antara lain pengaruh keluarga, gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, bentuk tubuh.

      Perubahan-perubahan psikologi yang muncul disebabkan oleh perubahan fisik seperti kecanggungan karena perubahan tubuh, ketegangan emosional, lebih memperhatikan diri sendiri. Salah satu konsekuensi masa remaja yang penting adalah pengaruh jangka panjang terhadap sikap, perilaku sosial, minat, dan kepribadian.

      PERKEMBANGAN INTELEK, SOSIAL, DAN BAHASA

      Perkembangan Intelek
      Intelek berarti kecakapan untuk berpikir, mengamati dan mengerti, kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan, kecakapan mental yang besar dan pikiran atau intelegensi. Intelegensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya.

      Dalam berpikir operasional terdapat dua sifat penting yaitu sifat deduktif hipotesis dan bepikir pola operasional juga berpikir kombinatoris. Faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek yaitu bertambahnya informasi yang disimpan seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif, banyaknya pengalaman masalah, adanya kebebasan berpikir.

      Bakat Khusus
      Bakat mencakup 3 dimensi yaitu dimensi perseptual yaitu kemampuan mengadakan persepsi meliputi kepekaan indra, perhatian, orientasi waktu, luasnya daerah persepsi. Dimensi psikomotorik mencakup enam faktor meliputi kekuatan, impuls, kecepatan gerak, ketelitian, koordinasi, dan keluwesan. Dan dimensi intelektual meliputi lima faktor meliputi faktor ingatan, pengenalan, evaluatif, konvergen, dan berpikir divergen.

      Bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang perlu dikembangkan atau dilatih, kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan atau latihan.

      Jadi bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan relatif yang bersifat umum atau khusus. Bakat khusus yang dimaksud adalah kemampuan di bidang tertentu. Bakat ini seperti bakat seni, matematika, bahasa, olahraga, musik, klerikal, guru, dan dokter.

      Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat dapat terwujud.

      Faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus yaitu terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan anak, faktor dari anak seperti tidak mempunyai minat, dan tidak memiliki motivasi. Dari lingkungan seperti orang tua kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan atau ekonomi yang tidak mencukupi.

      Bakat khusus dapat diamati dengan melakukan observasi terhadap apa yang dikerjakan anak. Orang tua yang mengenali bakat anak dapat membantu sekolah dalam prosedur pemanduan anak berbakat dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang ciri dan keadaan anak mereka.

      Perkembangan Sosial
      Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial. Sepanjang hidup pola kehidupan sosial anak terbentuk.

      Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini kebutuhan remaja telah cukup kompleks cakrawala interaksi sosial, dan pergaulan remaja telah cukup luas. Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, dalam bentuk penetapan pilihan kelompok yang diikuti didasari oleh berbagai penimbangan, seperti moral, ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemampuan. Masalah umum yang dihadapi oleh remaja dan yang paling rumit adalah penyesuaian diri. Faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial remaja yaitu keluarga, kematangan, status sosial ekonomi, pendidikan, dan kapasitas mental, emosi, dan intelegensi.

      Dalam perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan dirinya sendiri dan orang lain. Pemikiran terwujud dalam refleksi diri dan kritik hasil pergaulannya.

      Perkembangan Bahasa
      Sesuai dengan fungsinya bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan Bahasa. Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang yang terbentuk dari lingkungan. Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu umur anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, dan kondisi fisik.

      Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun bahasa yang baik, logis, dan sistematis. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan dan kekaburan persepsi yang diperolehnya. Ketidaktepatan hasil pemrosesan pikir ini diakibatkan kekurangmampuan dalam bahasa.

      Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan bahasa remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan yaitu dengan cara melakukan pengulangan pelajaran yang telah disusun ulang oleh siswa, menambah pembendaharaan bahasa dengan menambah pembendaharaan bahasa yang dipilih secara tepat oleh guru.

      PERKEMBANGAN AFEKTIF

      Perkembangan Emosi
      Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud pada suatu tingkah laku yang tampak yang ditandai dengan perubahan fisik. Beberapa kondisi emosional seperti cinta/ kasih sayang, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kecemasan.

      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi yang terarah pada satu objek, kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi adalah belajar dengan coba- coba, belajar dengan cara meniru, belajar dengan mempersamakan diri, belajar melalui pengkondisian, dan pelatihan atau belajar di bawah pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan yang tidak menyenangkan dan menyenangkan akan mempermudah siswa belajar.

      Perbedaan ekspresi disebakan oleh kondisi fisik dan kemampuan intelektualnya. Anak yang pandai cenderung bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibanding anak yang kurang pandai dan anak yang lebih pandai lebih mampu mengendalikan ekspresi emosi.

      Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja dilakukan dengan cara mengerti remaja, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan berhasil dalam bidang yang diajarkan. Implikasinya terhadap penyelenggaraan pendidikan, guru harus mampu memperkecil ledakan emosi dengan cara tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan dan memulai aktivitas baru.

      Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
      Nilai-nilai kehidupan adalah norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, keajiban dan sebagainya. Dalam kaitannya dalam pengamalan nilai-nilai hidup maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.

      Keterkaitan antara nilai, moral, sikap, dan tingkah laku akan tampak berpengaruh dalam pengamalan nilai-nilai yang dihayati dan didorong oleh moral kemudian terbentuk sikap tertentu terhadap nilai tersebut dan terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud. Upaya yang dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi, menciptakan iklim lingkungan yang serasi.


      TUGAS PERKEMBANGAN KEHIDUPAN BERPRIBADI, PENDIDIKAN DAN KARIER, DAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

      Perkembangan Kehidupan Pribadi sebagai Individu
      Kehidupan pribadi sukar untuk dirumuskan karena sangat kompleks dan unik. Pada hakikatnya manusia merupakan pribadi yang utuh dan memiliki sifat sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek seperti aspek emosional, sosio-psikologi dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual yang terpadu secara integratif dengan faktor lingkungan.

      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi yaitu lingkungan, faktor bakat, pendidikan status sosial ekonomi, filsafat hidup, kepedulian terhadap kesehatan. Upaya pengembangan proses pertumbuhan dan perkembangan kehidupan pribadi seperti hidup sehat dan teratur, mengerjakan tugas dan pekerjaan sehari-hari, hidup bermasyarakat dalam melakukan pergaulan dengan sesama, cara pemecahan masalah yang dihadapi, mengikuti aturan kehidupan keluarga, melakukan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.

      Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
      Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya. Baik di jalur pendidikan sekolah yang baik yang dialami oleh remaja sebagai peserta didik di dalam lingkungan keluarga, sekolah, atau kehidupn bermasyarakat. Masing-masing lingkungan kehidupan pendidikan tidak selalu sama dasar dan tujuannya. Oleh karena itu remaja ditantang untuk mampu mengatasi problema keanekaragaman tersebut dan mampu menempatkan dirinya dengan tepat dan harmonis pada lingkungan pendidikan keluarga, masyarakat, sekolah. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kehidupan pendidikan dan karier yaitu faktor sosial pendidikan, faktor lingkungan, dan faktor pandangan hidup.

      Sikap remaja terhadap pendidikan sekolah banyak diwarnai oleh karakteristik guru yang mengajarnya. Guru yang baik “baik” di mata para siswa tidak hanya tergantung kepada keadaan guru itu sendiri, melainkan tergantung pada banyak faktor. Guru yang baik itu adalah guru yang akrab dengan siswanya dan menolong siswa dalam pelajaran. Berhubungan kehidupan pendidikan merupakan bagian awal dari kehidupan karier, maka dengan perbedaan kehidupan pendidikan tersebut konsekuensinya akan membawa perbedaan individual di dalam kehidupan kariernya. Kehidupan karier seseorang juga berbeda-beda. Dalam arti sempit, pendidikan merupakan persiapan menuju suatu karier, sedangkan dalam arti luas pendidikan itu merupakan bagian dari proses perkembangan karier remaja. Remaja, yang dilihat dari segi usia mencakup 12-21 tahun, menurut Ginzberg (Alexander, dkk., 1980) perkembangan kariernya telah sampai pada periode pilihan tentatif dan sebagian berada pada periode pilihan realistis, sedangkan menurut super (Alexander, dkk., 1980) perkembangan karier anak remaja itu berbeda pada tahap eksplorasi, terutama sub tahap tentatif dan sebagian dari sub tahap transisi. Melihat bahwa dua teori yang dikemukakan oleh dua penulis itu hampir sama, maka di sini akan diuraikan salah satu di antaranya, yaitu teori yang dikemukakan oleh Ginzerberg.

      Perkembangan Remaja Berkenan dengan Kehidupan Berkeluarga
      Perkembangan remaja dalam hubungannya dengan persiapan mereka untuk memasuki kehidupan baru, yaitu kehidupan berkeluarga. Sebagaimana telah diuraikan di depan bahwa secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual, yang berarti bahwa secara biologis remaja telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan telah mulai tertarik kepada lawan jenis. Berkenan dengan upaya untuk menetapkan pilihan pasangan hidup, perkembangan sosial psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagai cara yang ditunjukkan dalam bentuk perilaku.

      Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan
      Memperhatikan banyaknya faktor kehidupan yang berada di lingkungan remaja, maka pemikiran tentang penyelenggaran pendidikan juga harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Sekalipun dalam penyelenggaraan pendidikan yang diakui bahwa tidak mungkin memenuhi tuntutan dan harapan seluruh faktor yang berlaku tersebut. Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang tergabung di dalam kelas, sekalipun masing-masing di antara mereka sangat berbeda- beda. Pengakuan terhadap kemampuan setiap pribadi yang beraneka ragam itu menjadi kurang. Oleh karena itu, yang harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan, kebebasan dan semacamnya.

      PENYESUAIAN DIRI REMAJA

      Konsep dan Proses Penyesuaian Diri
      Makna akhir dari hasil pendidikan seorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantu dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai cara untuk mempertahankan eksistensinya dengan membuat rencana untuk mengatasi berbagai macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien.

      Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan,. Respon penyesuaian, baik dan buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi yang lebih wajar. Penyesuaian sebagai proses ke arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal.

      Dalam melakukan penyesuaian diri individu mendapatkan rintangan- rintangan, dalam hubungannya dengan rintangan tersebut ada individu yang dapat menyesuaikan secara positif, namun ada juga yang melakukan penyesuaian yang salah.

      Dalam penyesuaian diri secara positif individu akan melakukan penyesuaian menghadapi masalah secara langsung, penyesuaian dengan melakukan eksplorasi, dengan coba-coba, dengan mencari pengganti, dengan menggali kemampuan diri, dengan belajar, inhibisi dan pengendalian diri, perencanaan yang cermat.

      Kegagalan dalam penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah. Bentuk penyesuaian yang salah itu yaitu seperti reaksi bertahan dengan cara mencari-cari alasan, melemparkan kegagalan pada orang lain, dan memutarbalikan keadaan, reaksi menyerang, dan reaksi melarikan diri secara bertahap yaitu kondisi fisik, perkembangan dan kematangan intelektual, sikap, moral, dan emosional, kondisi lingkungan, dan penentu kultural dan agama.

      Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Remaja
      Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga. Sikap orang tua yang menolak akan menyebabkan remaja tidak dapat menyesuaikan diri, orang tua yang otoriter menyebabkan remaja akan otoriter terhadap temannya dan cenderung menentang otoritas yang ada.

      Penyesuaian remaja dengan kehidupan sekolah, permasalahan yang ditimbulkan akan timbul ketika remaja memasuki jenjang sekolah yang baru. Persoalan lain yang dihadapi siswa seperti memilih sekolah.

      Implikasi Proses Penyesuaian Remaja terhadap Penyelanggaraan Pendidikan
      Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Dalam kaitannya dengan pendidikan, peranan sekolah pada hakikatnya sebagai rujukan dan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah. Oleh karena itu setiap sekolah menunjuk wali siswa yang akan membantu siswa yang menghadapi kesulitan dalam pelajaran, mempunyai masalah pribadi dan masalah penyesuaian diri maupun tuntutan sekolah.

      Upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian remaja khususnya di sekolah yaitu menciptakan situasi sekolah yang menimbulkan rasa betah bagi anak didik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, usaha memahami anak didik secara menyeluruh, menggunakan metode dan alat ajar yang menimbulkan gairah belajar, prosedur yang memperbesar motivasi belajar, ruang kelas yang memenuhi syarat kesehatan, tata tertib yang jelas, teladan para guru dalam berbagai segi pendidikan, program bimbingan dan penyuluhan yang baik.

      Sifat guru yang efektif seperti memberi kesempatan, ramah dan optimis, mampu mengontrol diri, mempunyai rasa humor, mengetahui dan mengakui kesalahan sendiri, jujur dan objektif memperlakukan siswa, dan menunjukkan pengertian dan rasa simpati akan menyebabkan remaja berkurang kemungkinannya untuk mengalami permasalahan-permasalahan.

        Download berkas mengenai Perkembangan Peserta Didik

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas tentang Perkembangan Peserta Didik ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

        Perkembangan Peserta Didik



        Download File:
        Resume Buku Perkembangan Peserta Didik - Prof. Dr. Sunarto dan Dra. Ny. B. Agung.pdf

        Demikian yang bisa kami sampaikan keterangan berkas dan share file mengenai Perkembangan Peserta Didik. Semoga bisa bermanfaat.
        Media Pembelajaran Berbasis E-Learning

        Diposting oleh Pada 9/21/2018 02:43:00 PM dengan No comments

        Berikut ini adalah berkas mengenai Media Pembelajaran Berbasis E-Learning. Download file format PDF.

        Media Pembelajaran Berbasis E-Learning
        Media Pembelajaran Berbasis E-Learning

        Media Pembelajaran Berbasis E-Learning

        Pada berkas ini membahas tentang penerapan model pembelajaran yang dapat berkesinambungan dan memberikan pengaruh positif dalam pelaksanaannya. Berkaitan dengan pembelajaran, pemanfaatan teknologi informasi dalam hal ini e-learning diperlukan tidak hanya pendidik yang terampil memanfaatkan teknologi serta teknologi untuk pembuatan bahan ajar, akan tetapi diperlukan suatu rancangan agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan efektif.

        Dalam sebuah rancangan pembelajaran terdapat suatu proses untuk memandu pelaku untuk mendesain, mengembangkan, menerapkan konten e-learning dengan memanfaatkan infrastruktur dan aplikasi e-learning yang tersedia. Pada tahap selanjutnya dalam implementasi e-learning terdapat tahap evaluasi yang dimanfaatkan untuk merevisi atau penyesuaian terhadap tahap-tahap sebelumnya. Desain instruksional merupakan proses dinamis yang dapat berubah-ubah sesuai dengan informasi dan evaluasi yang diterima bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

        Bab ini selanjutnya akan membahas lebih detail tentang media pembelajaran berbasis e-learning, diantaranya meliputi.
        1. Pemanfaatan Media E-Learning
        2. Teknologi Penunjang E-Learning
        3. Pengajaran Berbasis Web
        4. IT Pembelajaran Berbasis Multimedia

        Pemanfaatan Media E-learning
        E-Learning adalah sistem pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran. Sebagian besar beransumsi bahwa elektronik yang dimaksud disini lebih diarahkan pada penggunaan teknologi komputer dan internet. Melalui komputer, siswa dapat belajar secara individual baik secara terprogram maupun tidak terprogram. 

        Secara tidak terprogram siswa dapat mengakses berbagai bahan belajar dan informasi di internet menggunakan fasilitas di internet seperti mesin percari data (search engine). 

        Secara bebas siswa dapat mencari bahan dan infomasi sesuai dengan minat masing-masing tanpa adanya intervensi dari siapapun. Sebagian user komputer juga sering dimanfaatkan untuk hiburan seperti bermain game, namun demikian hal tersebut tidak dapat dihindari sebab penggunaan media elektronik terutama internet bebas digunakan.

        Internet juga dapat digunakan secara terprogram, salah satunya dengan program e-learning. Pada program ini sekolah atau pihak penyelenggara menyediakan sebuah situs / web e-learning yang menyediakan bahan belajar secara lengkap baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Kegiatan siswa dalam mangaskses bahan belajar melalui e-learning dapat dideteksi dari apa yang mereka pelajari, bagaimana prosesnya, bagaimana kemajuan belajarnya, berapa skor hasil belajarnya dan lain sebagainya. Di indonesia pada umumnya masih bersifat blendded e-learning, yaitu e-learning bukan alat pelengkap dari pembelajaran konvensional. Perkembanagn teknologi komunikasi dan informasi telah membuka kemungkinan yang luas untuk dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Hal ini disebabkan pesatnya teknologi komunikasi dan informasi yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia.

        Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: technology based learning dan technology based web-learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari audio information technologies dan video information technologies. Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah data information technologies

        Media yang diharapkan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah berupa internet harus mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dengan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Kondisi yang harus mampu didukung oleh internet tersebut terutama berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan, yang kalau dijabarkan secara sederhana, bisa diartikan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk mengajak siswa mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memeperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut. Strategi pembelajaran yang meliputi pengajaran, diskusi, membaca, penugasan, presentasi dan evaluasi (Boettcher 1999). 

        Teknologi Penunjang E-learning
        E-learning merupakan salah satu bentuk model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning mempunyai ciri-ciri, antara lain (Mayer, 2008) menyebutkan beberapa hal, diantaranya 1) memiliki konten yang relevan dengan tujuan pembelajaran; 2) menggunakan metode instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan untuk meningkatkan pembelajaran; 3) menggunakan elemen-elemen media seperti kata-kata dan gambar-gambar untuk menyampaikan materi pembelajaran; 4) memungkinkan pembelajaran langsung berpusat pada pengajar (synchronous elearning) atau di desain untuk pembelajaran mandiri (asynchronous elearning); 5) membangun pemahaman dan ketrampilan yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara perseorangan atau meningkatkan kinerja pembelajaran kelompok.

        Sedangkan menurut Rusman dkk (2011) e-learning memiliki karakteristik, antara lain (a) interactivity (interaktivitas); (b) independency (kemandirian); (c) accessibility (aksesibilitas); (d) enrichment (pengayaan). E- learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas.

        E-learning merupakan sebuah bentuk kemajuan teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan. Istilah e-learning lebih tepat ditujukan sebagai bentuk usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet. Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi akan berjalan efektif jika peran pengajar dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator pembelajaran atau memberikan kemudahan pembelajar untuk belajar bukan hanya sebagai pemberi informasi. Proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi merupakan bimbingan dari pengajar untuk memfasilitasi pembelajaran pembelajar yang efektif (Munir, 2009).

        Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara peserta didik dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini. Menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu email, mailing list (milis), news group, dan world wide web (WWW).

        Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.

        Dengan demikian karakteristik e-learning dapat disimpulkan, antara lain 1) dapat digunakan sebagai jasa teknologi, di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi jarak dan tempat; 2) memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks); 3) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang dapat disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; 4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

        Pembelajaran yang efektif adalah yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal dalam proses pembelajarannya sebagai alat bantu. Salah satu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran adalah dengan memanfaatkan e-learning. Dengan demikian pendayagunaan ICT untuk pendidikan menjadi demikian penting, baik dalam rangka penyiapan tenaga ICT yang andal maupun mendukung proses pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Upaya tersebut diharapkan akan mampu menutup jurang kesenjangan digital, yang pada gilirannya diharapkan akan mampu meningkatkan daya saing bangsa dalam rangka meningkatkan perekonomian negara dan SDM yang handal. Contoh kongkrit dalam pendayagunaan ICT adalah proses belajar dikelas yang menggunakan internet sebagai media pembelajaran sebagai media yang diharakan akan menjadi bagian suatu proses belajar di sekolah, internet diharapkan mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antar guru dengan siswa. Kondisi yang perlu didukung oleh internet berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan, yaitu sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukakan untuk mengajak siswa mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut. (Boettcher 1999). 

        Ironisnya, guru masih sedikit sekali menggunakan media internet ini sebagai media pembelajaran, kemungkinan disebabkan kurang pahamnya guru mengoperasikan komputer, sehingga timbul rasa keminderan dalam diri seorang guru untuk mengajak siswanya belajar dengan menggunakan media internet, padahal mau tidak mau kita tidak munkin terhindar dari teknologi komunikasi dan informasi. Banyak hal yang dapat dilakukan seorang guru agar mampu menyesuaikan diri dalam era pembelajaran yang semakin canggih, terutama manggunakan media internet. Kompetensi guru harus lebih ditingkatkan, misal dengan mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, kursus-kursus, dan sekolah agar lebih tanggap untuk mengirim guru-gurunya mengikuti pelatihan-pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan maupun sekolah-sekolah lain, dan memberikan kesempatan yang sama kepada guru-guru untuk dapat lebih aktif dalam mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, serta mengadakan pelatihan komputer secara internal dilingkungan sekolah masing- masing. Bila hal itu dapat kita lakukan mudah-mudahan dapat mengurangi jumlah guru yang sangat alergi terhadap komputer dan dapat melakukan proses belajar dikelas dengan menggunakan media internet. Institusi pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran berbasis internet biasanya menggunakan web encaned course, yaitu pemanfaatan internet sebagai penunjang peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama web life course, karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka dikelas antara guru dengan siswa. 

        Sekolah merupakan sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan antara sub-sistem dengan sub sistem lainnya yaitu meliputi pihak sekolah, pemerintah daerah dan pemerintah pusat, komite sekolah, dan peran masyarakat. Sekolah yang ingin memanfaatkan internet sebagai media embelajaran harus bisa diberi otonomi dan keluwesan-keluwesan yang lebih besar dalam mengelola sumber daya pendidikan di sekolah tersebut. Karena walau bagaimanapun kita tidak bisa terhindar dari globalisasi yang salah satunya adalah meningkatnya pembelajaran teknologi komunikasi dan informasi. Dengan demikian, terlihat bahwa media lain yang selama ini telah dipergunakan sebagai media pendidikan secara luas, internet juga mempuyai peluang yang tak kalah besarnya, dan bahkan mungkin karena keunikanya yang bisa mengakses segala informasi dari penjuru dunia. Internet bisa menjadi media pembelajaran yang paling terkemuka dan dipergunakan secara luas di sekolah-sekolah, terutama sekolah yang berstandar Nasional dan Sekolah Berstandar Internasioanal.

        Pengajaran Berbasis Web
        Menurut Clark (1996), WBI adalah pengajaran individual yang dikirim melalui jaringan komputer umum atau pribadi dan ditampilkan oleh web browser. Oleh karena itu kemajuan WBI akan terkait dengan kemajuan teknologi web (perangkat keras dan perangkat lunak) maupun Pertumbuhan jumlah situs-situs web di dunia yang sangat cepat. Kemajuan perangkat keras ditandai dengan pemakaian teknologi ATM (asynchronous transfer mode) dan serat optis yang memungkinkan transfer data yang besar dan cepat.

        Disamping itu perkembangan WBI juga dipacu oleh besarnya keuntungan yang didapat bila dibanding dengan media pengajaran lainnya. Pemanfaatan internet dalam WBI ini mampu mendorong perkembangan universitas terbuka atau pembelajaran jarak jauh, karena WBI dianggap paling murah dibanding CAI/CBI, siaran radio, kaset video, dan lainnya. Dengan WBI ini belajar tidak lagi terikat dengan waktu dan ruang tentunya.

        Dalam web bisa diperoleh informasi video dan suara sekaligus teks dan gambar serta dimungkinkan komunikasi interaktif dari berbagai sumber informasi di seluruh dunia. Di samping itu, menurut McManus (1995) ternyata jaringan internet bukanlah semata-mata suatu media, tetapi lebih dari itu juga merupakan pemberi materi dan sekaligus materinya. Seorang dosen yang mengajarkan suatu topik tertentu melalui web akan dengan mudah menghubungkannya dengan situs-situs web yang berkaitan dengan topik tersebut. Seperti halnya dalam program belajar jarak-jauh lainnya, tidak ada suatu cara untuk menjamin bahwa orang yang duduk mengerjakan soal-soal di depan komputer yang letaknya jauh di belahan bumi sana adalah mahasiswa yang telah terdaftar. Karena sifat internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya mahasiswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumbar belajar apat teratasi.

        Perkembangan IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Indonesia baru memasuki tahap mempelajari pengembangan dan penerapan IT untuk memasuki milenium ketiga ini. Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang demikian besar bagi bidang pendidikan. Setiap sistem sekolah dikembangkan moderat terhadap teknologi untuk mereka belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan teknologi informasi menjadi kunci menuju sekolah masa depan yang lebih baik.

        Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alas an untuk mendukung pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang sering kali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT di bumi nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

        Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet, memungkingkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut electronic univercity. Pengembangan e-university bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet.

        Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara online dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. 

        IT Pembelajaran Berbasis Multimedia
        Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu unsur konkrit yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan itu, hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah masalah prestasi belajar. Masalah umum yang sering dihadapi oleh peserta didik khususnya siswa masih cukup banyak yang belum dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan prestasi belajar tersebut mengalami kegagalan dalam bidang akademik baik faktor-faktor yang berada dalam diri siswa maupun faktor-faktor yang berada diluar diri siswa seperti tingkat intelegensi yang rendah, kurangnya motivasi belajar, cara belajar yang kurang efektif, minimnya frekuensi dan jumlah waktu belajar, tingkat disiplin diri yang rendah, media belajar atau bahan ajar yang masih kurang disediakan pihak sekolah dan sebagainya.

        Demi mencapai prestasi belajar yang memuaskan tersebut dengan sistem pendidikan yang semakin maju dan didukung juga perkembangan teknologi. Teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Pembelajaran berbasis multimedia menjadi semakin umum. Meskipun memiliki keterbatasan,dan tentu tidak harus dilihat sebagai pengganti untuk face-to-face interaksi, itu memang memiliki banyak keuntungan untuk pengembangan guru profesional.

        Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi peserta didik, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaiamana siswa dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien. Sumber informasi tidak lagi terfokus pada teks dari buku semata-mata tetapi lebih luas dari itu. 

        Kemampuan teknologi multimedia yang semakin baik dan berkembang akan menambah kemudahan dalam mendapatkan pengetahuan siswa.

        Kerjasama antar pakar dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu seseorang harus berkelana jauh menempuh ruang dan waktu untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitihan dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui internet, vi email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharing dan mailing list. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi, diharapkan di masa depan virtual university sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif di dunia pendidikan.

        Ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan Seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. Apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Sebab perlu diketahui bahwa cyber law belum diterapkan pada dunia hukum di Indonesia.

        Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomuniksai, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara personal komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia diberbagai tempat di Indonesia. untuk itu perlu dipikirkan akses ke internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses internet dapat diperbesar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga pada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. 

        Rangkuman
        1. WBI adalah pengajaran individual yang dikirim melalui jaringan komputer umum atau pribadi dan ditampilkan oleh web browser. Oleh karena itu kemajuan WBI akan terkait dengan kemajuan teknologi web (perangkat keras dan perangkat lunak) maupun Pertumbuhan jumlah situs-situs web di dunia yang sangat cepat. Kemajuan perangkat keras ditandai dengan pemakaian teknologi ATM (asynchronous transfer mode) dan serat optis yang memungkinkan transfer data yang besar dan cepat.
        2. Tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. 1) e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi; 2) e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet; 3) e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.
        3. Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
        4. Ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya.

          Download berkas mengenai Media Pembelajaran Berbasis E-Learning

          Selengkapnya mengenai Media Pembelajaran Berbasis E-Learning ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

          Download File:

          Buku Teknologi, Informasi dan Komunikasi (Prinsip dan Aplikasi dalam Studi Pemikiran Islam)


          Demikian yang bisa kami sampaikan berkas mengenai Media Pembelajaran Berbasis E-Learning. Semoga bisa bermanfaat.

          Formulir Kontak

          Nama

          Email *

          Pesan *