Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMK

Diposting oleh Pada 5/31/2018 08:52:00 AM dengan No comments

Berikut ini adalah berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK. Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud Tahun 2018. Modul ini merupakan modul pelatihan kurikulum 2013 bagi kepala sekolah tahun 2018. Download file format PDF.

Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK
Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK

Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK

Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK:

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SEKOLAH
  1. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah jenjang SMK berisi pembelajaran tentang (1) Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK), (2) Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian, (3) Penyusunan Silabus, (4) Perancangan Pembelajaran, dan (5) Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar, (6) Strategi Pengelolaan Implementasi kurikulum 2013, dan (7) Strategi Penyempurnaan Buku KTSP.
  2. Setelah mempelajari modul ini, kepala sekolah diharapkan dapat: a. memahami spektrum PMK dan struktur kurikulum SMK b. menganalisis dokumen SKL, KI, KD, IPK, materi dan tujuan pembelajaran c. menganalisis model pembelajaran d. merencanakan praktik kerja lapangan peserta didik e. menetapkan kriteria ketuntasan minimal f. menganalisis penilaian hasil belajar g. mengembangkan silabus h. merancang program tahunan dan program semester i. menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) j. mengolah penilaian dan membuat laporan penilaian hasil belajar k. menyusun strategi pengelolaan implementasi kurikulum l. menyusun strategi penyempurnaan buku KTSP.
  3. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dalam Implementasi Kurikulum 2013 jenjang SMK terdiri dari 3 (.tiga) bagian yaitu: Bagian I. Penjelasan Umum Modul; Bagian II. Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013 SMK; Bagian III. Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013.
  4. Sebelum mempelajari modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dalam Implementasi Kurikulum 2013 ini, Saudara harus menyiapkan dokumen-dokumen berikut: a. Dukumen 1 KTSP yang sedang berlaku di sekolah Saudara b. Dokumen Silabus salah satu mata pelajaran c. Satu perangkat dokumen RPP salah satu guru.
  5. Modul ini berkaitan dengan modul Pengembangan Fungsi Supervisi Akademik dalam Implementasi Kurikulum 2013.
  6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 25 Jam Pembelajaran (JP). Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bias disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikdan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.
  7. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara harus mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan/diminta, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan perintah-perintah kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca bahan bacaan dan sumber-sumber lain yang relevan.
  8. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).
  9. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter. Waktu pelaksanaan yang direkomendasikan adalah pada awal tahun ajaran (semester satu). 

PENJELASAN UMUM MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Pengantar
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah untuk melakukan persiapan implementasi Kurikulum 2013.

Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dan Pengembangan Fungsi Supervisi Akademik dalam Implementasi Kurikulum 2013 dikembangkan untuk memfasilitasi persiapan implementasi Kurikulum 2013 dari segi manajerial dan supervisi. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).

Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal. Pencapaian kompetensi peserta didik diukur melalui penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar merupakan proses pengumpulan informasi/data tentang capaian belajar peserta didik. Penilaian tersebut dapat dilakukan oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah. Kepala sekolah mengelola pendidik (guru) melakukan pemantauan proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan pengukuran pencapaian satu atau lebih Kompetensi Dasar. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan karakter (PPK) di Indonesia mengacu pada lima nilai utama, yakni (1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri, (4) gotong royong, (5) integritas (Kemdikbud, 2016). Implementasi PPK dapat dilakukan dengan tiga pendekatan utama, yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Ketiga pendekatan ini saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan ini dapat membantu satuan pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan program dan kegiatan PPK. 

Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dalam Implementasi Kurikulum 2013 Jenjang SMK memfasilitasi Saudara untuk memahami konsep dan prinsip, dan dapat mengimplementasikan Kurikulum 2013 SMK di Sekolah yang Saudara pimpin.

Ruang lingkup isi Modul ini terdiri atas bahasan tentang: (1) Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK); (2) Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian; (3) Penyusunan Silabus; (4) Perancangan Pembelajaran; (5) Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar; (6) Strategi Pengelolaan Implementasi Kurikulum 2013; dan (7) Strategi Penyempurnaan Buku KTSP.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, pada bagian 2 modul ini terdiri dari kegiatan (1) memahami Spektrum Keahlian PMK, (2) memahami Struktur Kurikulum 2013 SMK. Topik 2 (dua) Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian meliputi (3) menganalisis Dokumen SKL, KI, KD, (4) Menganalisis IPK, Materi, dan Tujuan Pembelajaran, (5) Menganalisis Model Pembelajaran, dan (6) Merencanakan Praktik Kerja Lapangan Peserta Didik (7) Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (8) menganalisis Penilaian Hasil Belajar. Sedangkan topik 3 Penyusunan Silabus hanya kegiatan (9) menyusun Silabus. Topik 4 Perancangan Pembelajaran meliputi (10) menyusun program tahunan dan program semester, (11) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Topik 5 Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar meliputi (10) mengolah penilaian hasil belajar, dan (12) membuat laporan penilaian hasil belajar). Dan pada bagian 3 (tiga) terdiri dari (1) Mengelola Implementasi Kurikulum 2013, (2) Strategi Penyempurnaan Buku 1 KTSP, (3) Strategi Penyempurnaan Buku 2 dan 3 KTSP .

Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter sebagai bekal keterampilan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI.

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini, kepala sekolah diharapkan mampu:
  1. memahami spektrum PMK dan struktur kurikulum SMK
  2. menganalisis dokumen SKL, KI, KD, IPK, materi dan tujuan pembelajaran
  3. menganalisis model pembelajaran
  4. merencanakan praktik kerja lapangan peserta didik
  5. menetapkan kriteria ketuntasan minimal
  6. menganalisis penilaian hasil belajar
  7. mengembangkan silabus
  8. merancang program tahunan dan program semester
  9. menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  10. mengolah penilaian dan membuat laporan penilaian hasil belajar
  11. menyusun strategi pengelolaan implementasi kurikulum
  12. menyusun strategi penyempurnaan buku KTSP

Isi Modul
Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013 
Topik 1. Spektrum Keahlian PMK 
Topik 2. Analisis Kompetensi, Pembelajaran dan Penilaian
Topik 3. Pengembangan Silabus
Topik 4. Perancangan Pembelajaran
Topik 5. Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar

Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013 
Topik 1. Startegi Pengeloalan Implementasi Kurikulum 2013
Topik 2. Strategi Penyempurnaan Buku KTSP 

PRINSIP PENYUSUNAN KURIKULUM 2013 SMK
Pengantar
Saat pelaksanaan pelatihan Kurikulum 2013 SMK, Saudara berkumpul bersama kepala sekolah lain untuk melakukan serangkaian kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut terdiri atas lima topik, yaitu (1) Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK), (2) Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian, (3) Penyusunan Silabus, (4) Perancangan Pembelajaran, dan (5) Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar.

Topik 1 Spektrum Keahlian PMK meliputi (1) memahami Spektrum Keahlian PMK, (2) memahami Struktur Kurikulum 2013 SMK. Topik 2 Analisis Kompetensi, Pembelajaran, dan Penilaian meliputi (3) menganalisis Dokumen SKL, KI, KD, (4) menganalisis IPK, Materi, dan Tujuan Pembelajaran, (5) menganalisis Model Pembelajaran, dan (6) merencanakan praktik kerja lapangan peserta didik (7) menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), (8) menganalisis Penilaian Hasil Belajar. Topik 3 Penyusunan Silabus hanya kegiatan (9) mengembangkan Silabus. Topik 4 Perancangan Pembelajaran berisi kegiatan (10) menyusun program tahunan dan program semester, (11) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Topik 5 Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar adalah kegiatan (12) praktik pengolahan dan pelaporan penilaian hasil belajar.

Kegiatan-kegiatan tersebut dicapai melalui strategi diskusi kelompok, studi kasus, curah pendapat (brainstorming), dan presentasi. Saudara dapat melakukannya secara berkelompok, namun Jika tidak memungkinkan karena jumlah peserta terbatas, silakan kerjakan kegiatan secara individual.

Topik 1 Spektrum Keahlian PMK
Topik 1 ini memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada Saudara untuk memahami Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 4678/D/KEP/MK/2016 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan, menggantikan Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan yang diberlakukan pada tahun 2013. Pada keputusan tersebut ditegaskan bahwa “Spektrum sebagaimana dimaksud merupakan acuan dalam pembukaan dan penyelenggaraan Bidang/Program/Kompetensi Keahlian pada SMK/MAK”. Juga memahami Struktur Kurikulum 2013 SMK mengacu pada Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor 13/D/KEP/KR/2017 tentang Struktur Kurikulum SMK.

Kegiatan utama yang dilakukan pada topik 1 berupa kegiatan diskusi kelompok, mengamati, mengidentifikasi, curah pendapat, dan presentasi tentang perancangan Spektrum Keahlian PMK; Spektrum Keahlian yang berlaku; program pendidikan 3 Tahun dan 4 Tahun di SMK, serta Struktur Kurikulum 2013 SMK. Sebagai referensi kegiatan ini, Saudara dapat membaca bahan bacaan 1 dan suplemen tentang Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 4678/D/KEP/MK/2016 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan

Dengan melaksanakan serangkaian kegiatan pada topik 1 ini, Saudara akan berlatih memahami jenis-jenis program pendidikan serta rambu-rambu penyelenggaraannya, sebagai acuan dalam membuka dan mengembangkan program pendidikan pada SMK/MAK. Pada Spektrum Keahlian diorganisasikan dalam bentuk Bidang Keahlian, Program Keahlian, dan Kompetensi Keahlian; dilengkapi dengan ruang lingkup kompetensi untuk masing-masing Kompetensi Keahlian. di sekolah tempat Saudara bertugas.

    Download Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK



    Download File:
    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMK. Semoga bisa bermanfaat.
    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA

    Diposting oleh Pada 5/30/2018 11:42:00 PM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA. Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud Tahun 2018. Modul ini merupakan modul pelatihan kurikulum 2013 bagi kepala sekolah tahun 2018. Download file format PDF.

    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA
    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA

    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA

    Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA:

    PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
    1. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013, terdiri dari: (1) Analisis Dokumen SKL,KI, KD, Silabus, (2) Analisis Materi Dalam Buku Teks Pelajaran, (3) Analisis Model Pembelajaran, (4) Analisis Perancangan Perencanaan Pembelajaran, (5) Analisis Penilaian dan Pengelolaan Hasil Belajar, (6) Strategi Pengelolaan Implementasi kurikulum 2013, dan (7) Strategi Penyempurnaan Buku KTSP.
    2. Setelah mempelajari modul ini, kepala sekolah diharapkan mampu: a. Menganalisis dokumen SKL, KI,KD, mengembangkan IPK, dan Silabus b. Menganalisis materi dalam buku teks pelajaran c. Menganalisis karakteristik pembelajaran HOTS dan menganalisis model pembelajaran d. Menganalisis Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), dan telaah dokumen RPP e. Menganalisis perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan hasil penilaian belajar f. Mengelola implementasi kurikulum 2013 g. Menyempurnakan buku KTSP.
    3. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 jenjang SMA terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu: Bagian I. Penjelasan Umum Modul; Bagian II. Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013 SMA; Bagian III. Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013.
    4. Sebelum mempelajari modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dalam Implementasi Kurikulum 2013 ini, Saudara harus menyiapkan dokumen-dokumen berikut: a. Silabus yang terbaik b. Buku Teks Materi Pembelajaran c. Buku tentang model Pembelajaran yang dimiliki d. Program tahunan,dan program semester satu mapel e. RPP yang terbaik (satu KD) f. Jurnal kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran g. Buku nilai (kelas X).
    5. Modul ini berkaitan dengan modul Pengembangan Fungsi Supervisi Akademik dalam Implementasi Kurikulum 2013.
    6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 25 Jam Pembelajaran (JP). Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikdan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.
    7. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara harus mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan/diminta, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan perintah-perintah kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca bahan bacaan dan sumber-sumber lain yang relevan.
    8. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan hidup di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).
    9. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter. Waktu pelaksanaan yang direkomendasikan adalah pada awal tahun ajaran (semester satu).

    PENJELASAN UMUM MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah untuk melakukan persiapan implementasi Kurikulum 2013.

    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 dikembangkan untuk memfasilitasi persiapan implementasi Kurikulum 2013 dari segi manajerial. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).

    Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal. Pencapaian kompetensi peserta didik diukur melalui penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar merupakan proses pengumpulan informasi/data tentang capaian belajar peserta didik. Penilaian tersebut dapat dilakukan oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah. Kepala sekolah mengelola pendidik (guru) melakukan pemantauan proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan pengukuran pencapaian satu atau lebih Kompetensi Dasar. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan karakter (PPK) di Indonesia mengacu pada lima nilai utama, yakni (1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri, (4) gotong royong, (5) integritas (Depdikbud, 2016). Implementasi PPK dapat dilakukan dengan tiga pendekatan utama, yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Ketiga pendekatan ini saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan ini dapat membantu satuan pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan program dan kegiatan PPK. 

    Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 ini memfasilitasi Saudara untuk memahami pengelolaan kurikulum 2013 dengan mempelajari prinsip penyusunan kurikulum dan pengembangan strategi penyusunan kurikulum. Modul manajemen implementasi kurikulum 2013 ini meliputi 7 topik utama, yaitu analisis SKL,KI,KD,IPK dan Silabus, analisis materi dalam buku teks pelajaran, analisis penilaian dan pengolahan hasil belajar, analisis model pembelajaran, merancang perangkat pembelajaran, strategi pengelolaan implementasi kurikulum 2013, dan strategi penyempurnaan buku KTSP

    Pembelajaran manajemen implementasi Kurikulum 2013 akan dilakukan melalui serangkaian kegiatan yaitu menganalisis SKL, KI, KD, IPK dan Silabus; menganalisis materi dalam buku teks pelajaran; Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM); Analisis penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan; Praktik pengolahan dan pelaporan hail penilaian; menganalisis model pembelajaran, dan merancang perangkat pembelajaran meliputi: Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), pengembangan silabus, dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) sebagai salah satu proses penjaminan mutu SKL, strategi pengelolaan implementasi kurikulum 2013, dan strategi penyempurnaan buku KTSP. Kegiatan-kegiatan ini akan Saudara lakukan bersama kepala sekolah lain melalui diskusi, curah pendapat (brainstorming), studi kasus, simulasi, dan lain-lain. Kegiatan ini dapat dilakukan secara mandiri jika jumlah peserta tidak memungkinkan.

    Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter sebagai bekal keterampilan peserta didik agar mampu bertahan hidup di abad XXI.

    Tujuan Pembelajaran
    Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu:
    1. Menganalisis dokumen SKL, KI, KD, pengembangan IPK, dan silabus
    2. Menganalisis materi dalam buku teks pelajaran
    3. Menganalisis penilaian dan pengolahan hasil belajar
    4. Menganalisis model pembelajaran
    5. Merancang pembelajaran
    6. Mengelola implementasi Kurikulum 2013
    7. Menyempurnakan buku KTSP 

    Isi Modul
    Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013
    Topik 1. Analisis dokumen SKL, KI, KD, dan Silabus
    Topik 2. Analisis materi dalam buku teks pelajaran
    Topik 3. Analisis model pembelajaran
    Topik 4. Merancang pembelajaran
    Topik 5. Analisis penilaian, pengolahan dan pelaporan hasil belajar

    Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013
    Topik 1. Startegi Pengeloalaan Implementasi kurikulum 2013
    Topik 2. Strategi Penyempurnaan Buku KTSP

      Download Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA



      Download File:
      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMA.pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMA. Semoga bisa bermanfaat.
      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP

      Diposting oleh Pada 5/30/2018 10:58:00 PM dengan No comments

      Berikut ini adalah berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP. diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud Tahun 2018. Modul ini merupakan modul pelatihan kurikulum 2013 bagi kepala sekolah tahun 2018. Download file format PDF.

      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP
      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP

      Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP

      Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP:

      PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
      1. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah jenjang SMP berisi pembelajaran tentang Analisis dokumen SKL, KI-KD, dan Silabus, analisis materi dalam buku teks pelajaran, analisis penilaian dan pengelolaan hasil belajar, analisis model pembelajaran, merancang pembelajaran, strategi pengelolaan implementasi kurikulum 2013, dan strategi Penyempurnaan Buku KTSP.
      2. Setelah mempelajari ini, kepala sekolah diharapkan dapat memahami proses: a. menganalisis dokumen SKL,KI-KD, silabus, b. menganalisis materi dalam buku teks pelajaran, c. menganalisis penilaian dan pengolahan hasil belajar, d. menganalisis model pembelajaran, e. merancang pembelajaran, f. melaksanakan strategi Pengelolaan Implementasi kuriklum 2013, g. melaksanakan strategi Penyempurnaan Buku KTSP.
      3. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 jenjang SMP terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu: Bagian I. Penjelasan Umum Modul; Bagian II. Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013, Bagian III. Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013.
      4. Sebelum mempelajari modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 ini, Saudara harus menyiapkan dokumen-dokumen berikut: a. Dokumen KTSP buku I b. Dokumen silabus 7 mata pelajaran yang berbeda c. Dokumen 7 RPP terbaik dari mata pelajaran yang berbeda d. Buku teks mata pelajaran.
      5. Modul ini berkaitan dengan modul Pengembangan Fungsi Supervisi Akademik dalam Implementasi Kurikulum 2013.
      6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 25 Jam Pembelajaran (JP). Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.
      7. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara harus mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan/diminta, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan perintah-perintah kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca bahan bacaan dan sumber-sumber lain yang relevan.
      8. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).
      9. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter. Waktu pelaksanaan yang direkomendasikan adalah pada awal tahun ajaran (semester satu).

      Tujuan Pembelajaran
      Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu memahami proses:
      1. Menganalisis dokumen SKL,KI-KD, silabus
      2. Menganalisis materi dalam buku teks pelajaran
      3. Menganalisis penilaian dan pengolahan hasil belajar
      4. Menganalisis model pembelajaran
      5. Merancang pembelajaran
      6. Menyusun strategi pengelolaan implementasi kuriklum 2013
      7. Menyempurnakan Buku KTSP

      Isi Modul
      Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013
      Topik 1. Analisis dokumen SKL,KI-KD, dan Silabus
      Topik 2. Analisis materi dalam buku teks pelajaran
      Topik 3. Analisis penilaian dan pengelolaan hasil belajar
      Topik 4. Analisis model pembelajaran
      Topik 5. Perancangan pembelajaran

      Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013
      Topik 1. Strategi Pengelolaan Implementasi Kurikulum 2013
      Topik 2. Strategi Penyempurnaan Buku KTSP

        Download Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP



        Download File:
        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SMP.pdf

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SMP. Semoga bisa bermanfaat.
        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD

        Diposting oleh Pada 5/30/2018 09:34:00 PM dengan No comments

        Berikut ini adalah berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Jenjang SD. Download file format PDF. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2018. Modul ini merupakan modul pelatihan kurikulum 2013 bagi kepala sekolah tahun 2018.

        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD
        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD

        Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD

        Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD:

        PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL MANAJEMEN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SEKOLAH
        1. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah jenjang Sekolah Dasar berisi pembelajaran tentang menganalisis dokumen, SKL, KI, KD, IPK, dan silabus, pembelajaran tematik terpadu dan analisis materi dalam buku, perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan, perancangan pembelajaran dan bimbingan psiko-edukatif. Serta mengelola implementasi kurikulum 2013 dan strategi penyempurnaan Buku 1, Buku 2, dan Buku 3 KTSP.
        2. Setelah mempelajari modul ini, kepala sekolah diharapkan dapat: a. menganalisis dokumen, SKL, KI, KD, IPK, dan silabus, b. memahami pembelajaran tematik terpadu dan menganalisis materi dalam buku, c. menganalisis perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan hasil belajar d. merancang pembelajaran. e. memahami bimbingan psiko-edukatif. f. menyusun strategi pengelolaan implementasi kurikulum 2013, dan g. menyusun strategi penyempurnaan buku KTSP.
        3. Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 jenjang Sekolah Dasar terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu: Bagian I. Penjelasan Umum Modul; Bagian II. Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013, Bagian III. Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013.
        4. Sebelum mempelajari modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 ini, Saudara harus menyiapkan dokumen-dokumen berikut: a. Dokumen KTSP; b. Dokumen Program Tahunan (Prota), c. Dokumen Program Semester (Prosem), d. Dokumen Silabus e. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) f. Dokumen Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) g. Buku guru dan buku siswa h. Kalender pendidikan i. Permendikbud Nomor 103 tahun 2014 j. Permendikbud Nomor 20 tahun 2016 k. Permendikbud Nomor 22 tahun 2016. l. Permendikbud Nomor 24 tahun 2016.
        5. Modul ini merupakan prasyarat dengan modul Pengembangan Fungsi Supervisi Akademik dalam implementasi Kurikulum 2013.
        6. Waktu untuk mempelajari modul ini 25 Jam Pembelajaran (JP). Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga  Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.
        7. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara harus mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan/diminta, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan perintah-perintah kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca bahan bacaan dan sumber-sumber lain yang relevan.
        8. Modul ini disusun dengan mengintegrasikan keterampilan yang diperlukan peserta didik agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka).
        9. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah dengan tetap mengintegrasikan literasi, kompetensi dan karakter. Waktu pelaksanaan yang direkomendasikan adalah pada awal tahun ajaran (semester satu).
        Isi Modul
        Modul ini terdiri atas 7 topik utama:
        1. Prinsip Penyusunan Kurikulum 2013
        2. Analisis Dokumen: SKL, KI, KD, IPK, dan Silabus
        3. Pembelajaran tematik terpadu dan analisis Materi dalam buku
        4. Perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan Belajar
        5. Perancangan Pembelajaran
        6. Bimbingan Psiko Edukatif
        7. Pengembangan Strategi Penyusunan Kurikulum 2013
        8. Strategi Pengelolaan Implementasi kurikulum 2013
        9. Strategi Penyempurnaan Buku KTSP

          Download Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

          Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD



          Download File:
          Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Tingkat SD.pdf

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 SD. Semoga bisa bermanfaat.
          Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan

          Diposting oleh Pada 5/30/2018 10:43:00 AM dengan No comments

          Berikut ini adalah berkas Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan. Download file format PDF.

          Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan
          Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan

          Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan

          Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga - Direktorat Jenderal PAUD-DIKMAS -Kemdikbud RI Tahun 2016.

          Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan:

          Latar Belakang
          Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan kemitraan yang kuat antara satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat.

          Kemitraan antara satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”.

          Keluarga sebagai unsur dalam ekosistem yang terdekat dengan anak mempunyai banyak kesempatan berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bentuk dan cara interaksi dengan anak yang dilakukan dalam keluarga akan mempengaruhi tumbuh kembang dan karakter anak. Karakter anak harus dibentuk di keluarga, serta didukung oleh satuan pendidikan dan masyarakat. Proses penumbuh kembangan karakter anak tidak mudah, banyak tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, pelaku pendidikan harus berperan aktif dan menjalin kemitraan dan membangun komunikasi yang efektif dengan keluarga, khususnya orang tua.

          Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga mendukung upaya peningkatan kapasitas para pelaku pendidikan khususnya di satuan pendidikan melalui kegiatan Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan di 160 Kabupaten/Kota pada 34 Provinsi.

          Untuk menunjang pelaksanaan bimbingan teknis tersebut, disusun modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan. Modul tersebut disusun untuk memberikan panduan kepada narasumber, fasilitator dan penyelenggara dalam pelaksanaan bimbingan teknis tersebut.

          Tujuan
          Tujuan umum disusunnya modul ini adalah sebagai pedoman untuk mempermudah narasumber, fasilitator, dan penyelenggara dalam melaksanakan bimbingan teknis penyelenggaraan pendidikan keluarga pada satuan pendidikan.

          Tujuan khususnya adalah agar peserta mampu:
          1. Memahami kebijakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga;
          2. Memahami dan menyadari pentingnya mendidika anak di era digital;
          3. Memahami dan menyadari pentingnya pengasuhan positif;
          4. Memahami model kemitraan pendidikan keuarga di satuan pendidikan;
          5. Memahami pengelolaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan;
          6. Memahami pentingnya pertemuan wali kelas dengan orang tua/wali;
          7. Memahami pentingnya kelas orang tua;
          8. Memahami pentingnya kelas inspirasi;
          9. Memahami pentingnya pentas kelas akhir tahun ajaran; dan
          10. Memahami pentingnya rencana tindak lanjut/rencana aksi

          Hasil yang Dicapai
          Hasil yang ingin dicapai adalah:
          1. Adanya pemahaman tentang kebijakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga;
          2. Adanya pemahaman dan kesadaran tentang mendidik anak di era digital;
          3. Adanya pemahaman dan kesadaran tentang pengasuhan positif;
          4. Adanya pemahaman tentang model kemitraan pendidikan keluarga di satuan pendidikan;
          5. Adanya pemahaman tentang pengelolaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan;
          6. Adanya pemahaman tentang pentingnya pertemuan wali kelas dengan orang tua/wali;
          7. Adanya pemahaman tentang pentingnya kelas orang tua;
          8. Adanya pemahaman tentang pentingnya kelas inspirasi;
          9. Adanya pemahaman tentang pentingnya pentas kelas akhir tahun ajaran; dan
          10. Adanya pemahaman tentang pentingnya rencana tindak lanjut/rencana aksi.

          Metode/Strategi
          Metode penyampaian materi pada bimbingan teknis pendidikan keluarga bervariatif, antara lain:
          1. Ceramah dan Tanya jawab; Metode ceramah dan tanya jawab yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metode yang bervariasi, digunakan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif dan interaktif melalui tanggapan balik, perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta.
          2. Curah Pendapat; Metode curah pendapat disini merupakan suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta, dengan menggunakan cara Brainstorming, Round Robin, dan Meta Plan. Tujuannya untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama.
          3. Diskusi Kelompok; Diskusi kelompok merupakan pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang pasif dalam diskusi yang lebih luas. Metode diskusi yang digunakan adalah Gallery Walk dan World Café.
          4. Simulasi (Role Playing); Metode simulasi merupakan metode pelatihan dengan melibatkan peserta secara aktif. Beberapa peserta diajak untuk berperan sebagai pihak-pihak tertentu untuk memeragakan pemecahaman masalah yang sedang dihadapi secara spontan.
          5. Demonstrasi; Demonstrasi adalah sebuah pendekatan pembelajaran dengan menunjukkan langsung pembelajaran kepada peserta.
          6. Pembelajaran Berbasis Masalah; Pembelajaran berbasis masalah (PBM) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan PBM, peserta bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata.
          7. Praktek; Praktek adalah sebuah pendekatan pembelajaran dengan mempraktekkan langsung menyusun rencana aksi pendidikan keluarga di satuan pendidikan.

          Ruang Lingkup
          1. Kebijakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga
          2. Mendidik anak di era digital
          3. Pengasuhan positif
          4. Model kemitraan satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat
          5. Pengelolaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan
          6. Pelaksanaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan: Pertemuan Wali kelas dengan orang tua/wali
          7. Pelaksanaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan: Kelas orang tua
          8. Pelaksanaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan: Kelas inspirasi
          9. Pelaksanaan pendidikan keluarga di satuan pendidikan: Pentas kelas akhir tahun ajaran
          10. Rencana tindak lanjut
          11. Refleksi dan evaluasi

            Download Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan

            Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

            Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan



            Download File:

            Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan.pdf


            Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Keluarga pada Satuan Pendidikan. Semoga bisa bermanfaat.
            Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

            Diposting oleh Pada 5/15/2018 09:21:00 AM dengan No comments

            Berikut ini adalah berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Materi Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013 Edisi II 2018 Satgas GLS Ditjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Download file format PDF dan .docx Microsoft Word.

            Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018
            Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

            Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

            Dalam modul ini dibahas antara lain Latar Belakang, Tujuan Penyusunan, Masalah, Solusi, Implementasi Kegiatan Literasi, Persiapan, Rapat Koordinasi, Pembentukan Tim Literasi Sekolah, Sosialisasi, Persiapan Sarana Prasarana, Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi, Tindak Lanjut, Strategi Literasi Dalam Pembelajaran, Tujuan, Peta Konsep Strategi Literasi, Indikator literasi dalam Pembelajaran, Alat Bantu, Contoh Penerapan Strategi Literasi dalam Pembelajaran, dan lain-lain.

            Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018:

            Pengantar
            Pasal 4 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa: Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah yang belum siap melaksanakan K13 untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2006 sambil melakukan persiapan-persiapan sehingga selambat-lambatnya pada tahun 2019/2020 sekolah tersebut telah mengimplementasikan K13 setelah mencapai kesiapan yang optimal.

            Untuk memfasilitasi sekolah (SMP) meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru dan membantu sekolah mengimplementasikan K13, Direktorat PSMP menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 bagi SMP. Pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 tersebut – dengan sejumlah program pendukung lainnya – diharapkan mampu menjadikan jumlah SMP pelaksana K13 rata-rata naik 25% setiap tahun. Pada tahun 2016 ditargetkan sekitar 9.000 SMP telah melaksanakan K13, sementara pada tahun 2017 diharapkan 18.000 SMP (50%), pada tahun 2018 kurang lebih 27.000 (75%), dan pada tahun 2019 semua SMP (100%) di seluruh wilayah Indonesia.

            Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan K13 yang dilaksanakan oleh Direktorat PSMP pada tahun 2015, masalah utama yang dihadapi oleh para guru dalam pelaksanaan K13 adalah dalam menyusun RPP, mendisain instrumen penilaian, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian, dan mengolah dan melaporkan hasil penilaian. Memperhatikan hal tersebut, pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran dan penilaian, menyajikan pembelajaran dan melaksanakan penilaian, serta mengolah dan melaporkan hasil penilaian pencapian kompetensi peserta didik. Pada tahun 2018 dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 perlu dilakukan penyesuaian.

            Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menuntut guru untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai- nilai utama PPK yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegaiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan Abad 21 seperti khususnya keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skills), keterampilan untuk bekerjasama (Collaboration), kemampuan untuk mencipta atau daya cipta (Creativity), dan kemampuan untuk berkomunikasi (Commnication).

            Penguatan Pendidikan Karakter merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul Pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi Penguatan Pendidikan Karakter yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat sehingga implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter, kecakapan literasi, dan HOTS.

            Untuk menjamin bahwa pelatihan pelaksanaan K13 di semua jenjang baik nasional, provinsi, kabupaten/kota maupun sekolah sasaran mencapai hasil yang diharapkan, Direktorat PSMP menetapkan bahwa materi pelatihan untuk semua jenjang tersebut menggunakan materi standar yang disusun oleh Direktorat PSMP bersama dengan Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan Pusat Penilaian Pendidikan. Materi-materi tersebut didasarkan pada dokumen-dokumen dan ketentuan-ketentuan terakhir mengenai pelaksanaan K13. Setiap unit materi terdiri atas tujuan, uraian materi, tahapan sesi pelatihan, teknik penilaian kinerja peserta pelatihan, dan daftar sumber-sumber bahan untuk pengayaan. Selain itu, materi dilengkapi dengan sejumlah Lembar Kerja yang memberi panduan dan/atau inspirasi kegiatan pelatihan.

            Penyusunan materi pelatihan ini terselesaikan atas peran serta berbagai pihak. Direktorat PSMP menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penyusun dan penelaah yang telah bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan materi pelatihan yang layak. Semoga materi yang disusun ini merupakan amal baik yang tiada putus amalnya.

            Materi pelatihan ini hendaknya dipandang sebagai bahan minimal dari pelatihan yang dilaksanakan pada setiap jenjang. Selain itu, dengan dinamisnya perkembangan kurikulum, materi yang disusun ini perlu selalu disesuaikan dengan perkembangan.

            Akhirnya Direktorat PSMP mengharapkan materi ini digunakan sebaik-baiknya oleh pelaksana pelatihan implementasi K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP. Masukan- masukan untuk penyempurnaan materi ini sangat diharapkan dari berbagai pihak, terutama dari para instruktur dan peserta pelatihan.

            Latar Belakang
            Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai 'keberaksaraan' dan selanjutnya dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal, ―melek baca dan tulis" ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.

            Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja. Menurut Word Economic Forum (2016), peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka). Berikut adalah penggambaran hal itu (Word Economic Forum, 2016).

            Selain itu, ada juga tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai oleh peserta didik, yakni literasi kesehatan, keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan kriminal (bagi siswa SD disebut ―sekolah aman‖) (Wiedarti, Mei 2016). Literasi gesture pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para difabel. Semua ini merambah pada pemahaman multiliterasi. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan karakter (PPK) di Indonesia mengacu pada lima nilai utama, yakni (1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas (Depdikbud, 2016).

            Menurut Cope dan Kalantzis (2000), pedagogi multiliterasi yang dikembangkan oleh New London Group merupakan pandangan yang melihat semakin berkembangnya dimensi literasi yang multibahasa dan multimodal. Dengan demikian, sekolah dan masyarakat perlu mengembangkan praktik dan keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk-bentuk teks konvensional maupun bentuk-bentuk teks inovatif, simbol, dan multimedia (Abidin, 2015). Beragam teks yang digunakan dalam satu konteks ini disebut teks multimodal (multimodal text). Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi--menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran dengan memadukan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi)--diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat.

            Hal ini sesuai dengan apa yang tersaji dalam peta jalan gerakan literasi nasional (GLN). Dalam buku tersebut, makna dan cakupan literasi meliputi: :‖(a) literasi sebagai rangkaian kecakapan membaca, menulis, berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; (b) literasi sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; (c) literasi sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan , dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari, (d) literasi sebagai teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.

            Berdasarkan uraian tersebut, istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian, Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing.

            Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun sekolah yang literat. Untuk itu, implementasi GLS pun merupakan sebuah proses agar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akhirnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

            Saat ini kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya guru dan siswa. Hal ini disebabkan antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah selain buku-teks pelajaran. Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.

            Pada sisi lain, hasil beberapa tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

            PIRLS atau Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca siswa kelas IV. PISA atau Programme for International Student Assessment mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. INAP atau Indonesia National Assessment Programme (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca, matematika, dan sains.

            INAP/AKSI disejajarkan dengan PIRLS karena sama-sama untuk SD kelas IV. Hasil AKSI menunjukkan bahwa kemampuan yang berkategori kurang adalah 77,13% untuk matematika; 46,83% untuk membaca, dan 73,61% untuk sains. Yang berkategori cukup adalah 20,58% untuk matematika; 47,11% untuk membaca; 25,38% untuk sains. Yang berkategori baik adalah 2,29% untuk matematika; 6,06% untuk membaca, dan 1,01% untuk sains.

            Sejalan dengan hal tersebut, hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies tahun 2016 untuk tingkat kecakapan orang dewasa juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Indonesia berada di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap siswa. Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-Laksono. ed., 2016).

            Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum sepenuhnya menyentuh aspek pembelajaran di kelas karena kondisi sekolah dan kelas berbeda-beda. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun 2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, (2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar, (3) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama, (4) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Luar Biasa, (5) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas; (6) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, (7) Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, (8) Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama; (9) Strategi Literasi dalam Pembelajaran untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama (tahun 2017). Beberapa panduan GLS telah direvisi. Seperti halnya buku ini (edisi II), beberapa panduan GLS ediisi revisi juga diterbitkan pada tahun 2018.

            Salah satu pelatihan tersebut adalah pelatihan dan/atau penyegaran instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan terutama menekankan pada peningkatan keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21, termasuk keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013.

            Materi penyegaran Kurikulum 2013 ini merupakan edisi II (2018) dengan beberapa penambahan dan penyempurnaan. Seperti halnya edisi I yang terbit tahun 2017, materi ini dilengkapi dengan materi presentasi dan alat bantu berwujud pengatur grafis pada bagian akhir yang memandu aktivitas peserta untuk mendalami dan mengimplementasi strategi literasi dalam pembelajaran. Semua perangkat ini diharapkan dapat memandu instruktur dan pemangku kepentingan di jenjang nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah dalam pelaksanaan, pengembangan, dan penguatan strategi literasi dalam pembelajaran.

            Tujuan Penyusunan
            Tujuan penyusunan materi penyegaran ini adalah untuk:
            1. Memberikan inspirasi kepada peserta pelatihan untuk memanfaatkan beragam sumber belajar, termasuk buku-teks-pelajaran dan buku-nonteks-pelajaran dalam pembelajaran.
            2. Memandu peserta pelatihan menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran guna mengembangkan karakter, meningkatkan keterampilan berliterasi, dan meningkatkan kompetensi.

            Masalah
            Masalah 1
            Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berliterasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Guru seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Saat guru meminta siswa membaca, guru pun juga perlu membaca untuk memberi contoh yang baik bagi siswanya. Tradisi literasi (kemampuan komunikasi yang artikulatif secara verbal dan tulisan serta kemampuan menyerap informasi melalui teks) juga belum tumbuh secara koheren dalam diri beberapa guru.
            Masalah 2
            Upaya untuk menyosialisasikan dan meningkatkan keterampilan berliterasi di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru. Materi ajar dan teks yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan keterampilan berliterasi siswa. Selain itu, strategi literasi dalam pembelajaran belum diterapkan secara optimal.

            Solusi
            Guru perlu memahami bahwa upaya pengembangan literasi tidak berhenti ketika siswa dapat membaca dengan lancar dan memiliki minat baca yang baik sebagai hasil dari pembiasaan budaya literasi. Pengembangan literasi perlu terjadi pada pembelajaran di semua mata pelajaran melalui upaya untuk mengembangkan karakter serta meningkatkan kompetensi berpikir tingkat tinggi. Para guru perlu mengoptimalkan strategi literasi dalam pembelajarannya. Pengembangan kemampuan literasi di sekolah akan membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa. Penggunaan teks dan/atau bahan ajar yang bervariasi, disertai dengan perencanaan yang baik dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berliterasi siswa.

            Implementasi Kegiatan Literasi
            Implementasi penumbuhan budaya literasi di sekolah memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, sertatindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan operasionalisasi hal-hal yang telah dipersiapkan. Pemantauan dan evaluasi merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan.Tindak lanjut merujuk pada hal-hal yang perlu dilakukan selanjutnya (penyusunan program lanjutan).

            Penumbuhan literasi di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan tersebut dilakukan dalam tiga tahapan literasi yaitu tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Agar dapat melaksanakan tiga tahapan literasi tersebut diperlukan kegiatan persiapan, sebagai berikut.

            Persiapan
            1. Rapat Koordinasi
            Kegiatan ini dilaksanakan untuk membicarakan maksud dan tujuan dilaksanakannya literasi di sekolah. Rapat koordinasi digelar oleh kepala sekolah dan diikuti oleh:
            a. Kepala Sekolah
            b. Para Wakil Kepala Sekolah
            c. Perwakilan Guru dan Karyawan

            Tujuan rapat koordinasi ini antara lain:
            a. Pemahaman tentang literasi
            b. Pembentukan tim literasi sekolah (TLS)
            c. Penyusunangaris besar program kerja literasi sekolah (dilanjutkan oleh TLS)
            d. Persiapan materi sosialisasi lietrasi

            2. Pembentukan Tim Literasi di Sekolah (TLS)
            Kepala sekolah membentuk TLSmelalui Surat Keputusan Kepala Sekolahyang menyertakan tugas pokok dan fungsi anggota tim. Susunan anggota TLS disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Pembentukan TLS dapat dibaca dalam buku ―Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama.‖ (Kisyani-Laksono dkk. 2016).

            3. Sosialisasi
            a. Sosialisasi pada Guru dan Karyawan.
            Sosialisasi ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan komitmen guru dan karyawan tentang pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.
            b. Sosialisasi pada Siswa
            Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang literasi, tujuan pelaksanaan literasi, dan mekamisme pelaksanaan literasi.
            c. Sosialisasi pada Komite Sekolah dan Orang Tua Siswa
            Sosialisasi pada komite sekolah dan orang tua siswa bertujuan untuk memberitahukan adanya kegiatan literasi di sekolah dan berharap agar komite dan orang tua siswamendukung kegiatan tersebut. Dalam kegiatan sosialisasi ini diperlukan narasumber yang memahami dan mampu menjelaskan tentang literasi di sekolah.

            4. Persiapan Sarana Prasarana
            Untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah diperlukan ekositem sekolah yang literat dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang perlu dimiliki oleh sekolah antara lain:
            a. Perpustakaan sekolah (cf. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Parasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
            b. Pojok baca di kelas dan lingkungan sekolah
            c. Jumlah buku sesuai dengan Permendiknas no 24 tahun 2007: (1) Buku teks pelajaran: 1 eksemplar/mata pelajaran/peserta didik,
ditambah 2 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (2) Buku panduan pendidik: 1 eksemplar/mata pelajaran/guru mata pelajaranbersangkutan, ditambah 1 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (3) Buku pengayaan: 870 judul/sekolah, terdiri atas 70% nonfiksi dan
30% fiksi.
Banyak eksemplar/sekolah minimum: 1000 untuk 3--6 rombongan belajar, 1500 untuk 7--12 rombongan belajar, 2000 untuk 13--18 rombongan belajar, 2500 untuk 19--24 rombongan belajar; (4) Buku referensi: 20 judul/SMP; (5) Sumber belajar lain: 20 judul/SMP (Bandingkan dengan Permendikbud No 23 tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal:Satu set buku teks untuk setiap perserta didik dan 200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi untuk SMP!).
            d. Web sekolah
            e. Akses internet di lingkungan sekolah
            f. Spanduk, poster,leaflet, dan/atau brosur penumbuhan budaya literasi

            Pelaksanaan
            Pada dasarnya, pelaksanaan GLS dapat dilihat pada tiga hal berikut ini.
            1. mengacu pada perencanaan
            2. mengacu pada keterampilan abad XXI dengan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter (PPK):(1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas.
            3. menggunakan daftar cek instrumen pengembangan budaya literasi di sekolah (pelaksanaan tiga tahapan literasi) yang terdapat dalam lampiran 1 dan daftar cek indikator pelaksanaan strategi literasi dalam pembelajaran. Pembahasan mengenai strategi literasi dalam pembelajaran terdapat dalam Bab III.

            Tiga kegiatan pelaksanaan GLS di sekolah merupakan dasar untuk membangun dan mengembangkan budaya literasi sekolah, dimulai dari Kegiatan Pembiasan, Kegiatan Pengembangan, dan Kegiatan Pembelajaran.

            Secara lebih rinci, ihwal ketiga kegiatan pelaksanaan GLS dapat dipelajari dalam ―Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah‖ dan ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖. Adapun indikator tiga kegiatan pelaksanaan literasi sekolah ada di lampiran 1 yang merupakan gabungan dari instrumen kegiatan pembiasaan (13 butir pertanyaan), pengembangan (17 butir pertanyaan), dan pembelajaran (23 butir pertanyaan) yang terdapat dalam ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖, 2016). Instrumen terdiri atas 27 butir pertanyaan. Satu butir pertanyaan dimungkinkan berada dalam tiga atau dua kegiatan sekaligus (contoh: 15 menit membaca ada dalam semua jenis kegiatan GLS). Berikut adalah petunjuk butir dan nomor dari setiap tahapan (tabel instrumen budaya literasi sekolah dengan 27 butir nomor terdapat dalam lampiran).

            Tindak Lanjut
            Hasil pemantauan dan evaluasi dapat dicermati sebagai bahan refleksi. Tindak lanjut diwujudkan dengan penyusunan perencanaan lanjutan dalam hal kegiatan berliterasi. Jika dalam pengisian instrumen masih ada hal-hal yang ―belum atau kurang, penyusunan rencana lanjut berpumpun (berfokus) pada upaya supaya yang ―belum menjadi ―sudah atau yang kurang menjadi baik. Jika hasil refleksi menunjukkan bahwa semua sudah dilakukan dan semua sudah baik, perlu dilakukan rencana lanjutan untuk mengimbaskan hal tersebut kepada sekolah-sekolah yang ada di sekitar.

            Strategi Literasi Dalam Pembelajaran
            Tujuan
            Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll. (cf. Robb, L, 2003).

            Konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, adapun literasi adalah bagaimana mengajarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam pembelajarannya. Salah satu tujuan penting dari strategi literasi dalam pembelajaran konten adalah untuk membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (Ming, 2012: 213). Dengan demikian strategi literasi dalam pembelajaran akan membentuk karakteristik siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi).

            Pembelajaran yang menerapkan strategi literasi penting untuk menumbuhkan pembaca yang baik dan kritis dalam bidang apapun. Berdasarkan beberapa sumber, dapat disarikan tujuh karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif (cf. Beers 2010: 20-21; Pahl&Rowsell 2005: 82), antara lain:
            1. Pemantauan pemahaman teks (siswa merekam pemahamannya sebelum, ketika, dan setelah membaca).
            2. Penggunaan berbagai moda selama pembelajaran (literasi multimoda)
            3. Instruksi yang jelas dan eksplisit.
            4. Pemanfaatan alat bantu seperti pengatur grafis dan daftar cek.
            5. Respon terhadap berbagai jenis pertanyaan.
            6. Membuat pertanyaan.
            7. Analisis, sintesis, dan evaluasi teks.
            8. Meringkas isi teks.
            Menyimak karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi, dapat disimpulkan bahwa strategi literasi dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, berbasis teks, berbasis proyek, berbasis masalah, inquiry, discovery, dan saintifik sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut(Beers 2010; Greenleaf dkk, 2011; Robb, 2003; Toolin, 2004).

            Indikator Literasi dalam Pembelajaran
            Pada dasarnya, silabus berbagai mata pelajaran di SMP sudah menunjukkan adanya strategi literasi dalam pembelajaran. Penuangan silabus ke dalam kegiatan pembelajaran dapat diceksilangkan dengan indikator literasi dalam pembelajaran.

            Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa istilah ―teks‖ dalam literasi dapat berwujud teks tulis, lisan (audio), visual, auditori, audiovisual, spasial, nonverbal (kinestesik dsb). Wujud teks bisa digital atau nondigital. Sejalan dengan itu, istilah "membaca" yang digunakan dalam kegiatan literasi juga merujuk pada membaca dalam arti luas.

            Biarpun demikian, pembelajaran di sekolah tidak pernah lepas dari teks tulis karena tersedia buku siswa. Oleh sebab itu, pada tahap awal, strategi literasi dalam pembelajaran dapat berfokus pada teks tulis tersebut.

            Berikut adalah daftar cek untuk indikator literasi untuk menguatkan langkah-langkah pembelajaran, menumbuhkembangkan karakter, dan mengasah kompetensi. Pernumbuhkembangan karakter tertentu dan pengasahan kompetensi yang berkelindan dengan strategi literasi dalam pembelajaran disesuaikan dengan materi yang disajikan. Strategi literasi dalam pembelajaran bukan materi, tetapi merupakan strategi yang berwujud langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini nomor yang tersaji tidak merujuk pada urutan (dalam pembelajaran hal tersebut tidak harus urut). Semakin banyak tanda cek pada kolom ―sudah berarti strategi literasi dalam pembelajaran semakin sarat.

              Download Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

              Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

              Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018



              Download File:

              Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.pdf
              Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.docx

              Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Semoga bermanfaat.

              Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013

              Diposting oleh Pada 5/08/2018 10:41:00 AM dengan No comments

              Berikut ini adalah berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013. Download file format .docx Microsoft Word.

              Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013
              Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013

              Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013

              Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA/MA Kurikulum 2013:

              Naskah Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat di SMA ini dimaksudkan sebagai acuan dalam pelaksanaan dan pengembangan tugas pokok Tim Pengembang Kurikulum (TPK) SMA dalam melakukan program peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat di SMA. Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat ini disusun untuk dapat membantu TPK SMA dalam melaksanakan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat sesauai dengan tuntutan Kurikulum 2013. 

              Latar Belakang
              Sebagai konsekuensi keberadaan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pembinaan SMA menerbitkan berbagai model pendukung pembelajaran agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia dapat memenuhi acuan atau standar tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

              Upaya pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) sebagaimana Permendikbud No. 54 tahun 2013, standar isi yang mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal sesuai Permendikbud No. 64 tahun 2013, serta kerangka dasar dan struktur kurikulum Permendikbud No 69 tahun 2013 yang merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis, dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, merupakan pengorganisasian kompetensi inti, matapelajaran, beban belajar, dan kompetensi dasar pada setiap Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, isi kurikulum yang terdiri dari kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), serta struktur kurikulum yang akan dicapai dan diikuti oleh peserta didik melalui proses pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu.

              Permendikbud 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum mengamanatkan bahwa Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik. 

              SKL terdiri atas kriteria kualifikasikemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelahmenyelesaikan masa belajar secara tuntas di satuan pendidikan pada jenjangpendidikan dasar dan menengah. Agar KD, KI, maupun SKL tercapai, satuan pendidikan perlu mengelola stuktur kurikulum dengan cermat sehingga pada pelaksanaannya sejalan dengan kemampuan dan minat peserta didik. 

              Pilihan kelompok peminatan merupakan bagian penting dalam upaya pencapaian SKL, KI, dan KD oleh peserta didik. Hal ini dikarenakan ketepatan dalam memilih kelompok peminatan merupakan bagian dari rencana awal peserta didik untuk menentukan fakultas atau jurusan pada jenjang pendidikan selanjutnya yakni perguruan tinggi.

              Untuk membantu peserta didik mencapai berbagai kompetensi yang diharapkan, pemilihan kelompok peminatan menjadi bagian penting diusahakan setepat mungkin. Dengan demikian, matapelajaran yang diambil akan sesuai dengan minat dan kemampuan serta berdampak pada perkembangan fisik dan psikologisnya.

              Dalam PP nomor 32 tahun 2013 Pasal 77K ayat (1) bagian a, b, dan c dinyatakan bahwa strukutur kurikulum di SMA terdiri dari muatan umum, muatan peminatan akademik, dan muatan lintas minat akademik. Hal ini diperjelas dalam Permendikbud No. 69 tahun 2013 bahwa matapelajaran-matapelajaran dikelompokan ke dalam a). Kelompok matapelajaran wajib, b). Kelompok matapelajaran peminatan, dan c). Pilihan Kelompok Peminatan dan Pilihan Matapelajaran Lintas Kelompok Peminatan. Oleh karena itu, satuan pendidikan sebaiknya memfasilitasi peserta didik dalam mengambil kelompok matapelajaran peminatan sesuai minat yang didukung dengan kemampuan. Satuan pendidikan diharapkan mampu melayani kebutuhan peserta didik yang dituangkan dalam ketentuan khusus berupa dokumen sekolah. Dokumen ini selanjutnya menjadi acuan untuk pelaksanaan pemilihan kelompok peminatan maupun pemilihan matapelajaran lintas kelompok peminatan pada setiap awal tahun pelajaran dan acuan pelaksanaan pendalaman minat awal tahun pelajaran bagi pesrta didik kelas XI atau XII. 

              Guna mengimplementasikan Permendikbud nomor 54/2013 tentang SKL, Permendikbud nomor 64/2013tentang SI, serta Permendikbud nomor 69/2013tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum, Direktorat Pembinaan SMA memandang perlu menyusun model penyelenggaraan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat SMA sehingga dapat dijadikan acuan oleh satuan pendidikan. 

              Tujuan
              Model ini bertujuan :
              1. memberikan pemahaman lebih luas untuk melaksanakan pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat;
              2. memberikan gambaran strategi implementasi pelaksanaan pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat;
              3. mendorong peningkatan mutu pembelajaran melalui pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat yang tepat; dan
              4. memberikan gambaran pindah pilihan kelompok peminatan.

              Ruang Lingkup
              Ruang lingkup model ini meliputi pengertian dan konsep penyelenggaraan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat sertapengorganisasiannya.

              Pengertian Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat

              Pengertian Peminatan
              Peminatan adalah suatu keputusan yang dilakukan peserta didik untuk memilih kelompok matapelajaran sesuai minat, bakat, dan kemampuan selama mengikuti pembelajaran di SMA. Pemilihan peminatan dilakukan atas dasar kebutuhan untuk melanjutkan keperguruan tinggi.

              Struktur kurikulum merupakan sekelompok matapelajaran yang dapat diikuti dan diambil selama peserta didik menempuh pendidikan seperti tertuang dalam PP No. 32 tahun 2013, Pasal 77B ayat(1) Struktur Kurikulum merupakan pengorganisasian Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, muatan Pembelajaran, matapelajaran, dan beban belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan, dalam ayat (4) Struktur Kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pengorganisasian matapelajaran untuk setiap satuan pendidikan dan/atau program pendidikan, serta ayat (7) Struktur Kurikulum untuk satuan pendidikan menengah terdiri atas: a. muatan umum; b. muatan peminatan akademik; c. muatan akademik kejuruan; dan d. muatan pilihan lintas minat/peminatan. 

              Demikian juga struktur kurikulum SMA sebagaimana tercantum dalam Permendikbud nomor 69 tahun 2013 matapelajaran yang dapat diikuti dan diambil terdiri atas Kelompok Matapelajaran Wajib dan Matapelajaran Pilihan. Matapelajaran pilihan terdiri atas pilihan akademik untuk Sekolah Menengah Atas. Matapelajaran pilihan ini memberi corak kepada fungsi satuan pendidikan, dan didalamnya terdapat pilihan sesuai dengan minat peserta didik. Struktur ini menerapkan prinsip bahwa peserta didik merupakan subjek dalam belajar yang memiliki hak untuk memilih matapelajaran sesuai dengan minatnya.

              Pengertian Lintas Minat
              Dalam Kurikulum 2013, peserta didik selain memilih kelompok matapelajaran (peminatan), mereka diberi kesempatan untuk mengambil matapelajaran dari kelompok peminatan lain. Hal ini memberi peluang kepada peserta didik untuk mempelajari matapelajaran yang diminati namun tidak terdapat pada kelompok mataplajaran peminatan.

              Pengertian Pendalaman Minat
              Peserta didik yang memiliki kemampuan akademik di atas peserta didik lain diberi kesempatan untuk mendalami matapelajaran-matapelajaran pada kelompok peminatannya. Hal ini memberi kesempatan bagi peserta didik yang pada matapelajaran tertentu di kelompok peminatannya memiliki kemampuan dan prestasi tertentu sehingga penguasaan terhadap substansi matapelajaran bersangkutan menjadi tumpuan bagi kelangsungan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

              Konsep Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat
              Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 12 ayat (1) butir b, menyatakan bahwa peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

              Agar bakat, minat, dan kemampuan peserta didik terlayani maka salah satu kebijakan penting dalam Kurikulum 2013 adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memilih kelompok matapelajaran (peminatan) yang diminati.

              Pemilihan kelompok matapelajaran tersebut dipilih peserta didik semenjak masuk ke SMA atau kelas X semester pertama. Seperti tertuang dalam tabel 3 di atas, peserta didik boleh memilih kelompok matapelajaran, yakni peminatan Matematika dan Ilmu Alam, atau Ilmu-ilmu Sosial, atau Ilmu Bahasa dan Budaya. 

              Sebagai contoh pertama, apabila seorang peserta didik X, sesuai minat dan bakatnya, rekomendasi dari guru BK SMP/MTs, dan angket dari guru BK SMA, serta didukung oleh data prestasi, baik nilai rapor SMP/MTs dan nilai UN SMP/MTs memilih peminatan Matematika dan Ilmu Alam, maka peserta didik ini selama duduk di bangku SMA wajib untuk mempelajari matapelajaran Matematika, Biologi, Fisika, dan Kimia disamping matapelajaran-matapelajaran yang ada di kelompok wajib A dan B.Contoh kedua, peserta didk Y memilih peminatan Ilmu-ilmu Sosial maka dia wajib untuk mempelajari matapelajaran Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi beserta matapelajaran-matapelajaran yang ada di kelompok wajib A dan B. Demikian pula peserta didik Z memilih peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya maka dia wajib mempelajari matapelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Arab (misalnya sebuah SMA menetapkan Bahasa dan Sastra Arab sebagai bahasa asing lain wajib pada peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya), dan Antropologi.

              Untuk lintas minat, peserta didik kelas X memilih matapelajaran di luar matapelajaran-matapelajaran wajib A dan B serta di luar kelompok peminatan yang telah dipilihnya. Peserta didik tersebut harus memilih dua matapelajaran dari kelompok peminatan yang lain. Misalnya peserta didik X di atas dapat memilih geografi dan ekonomi; atau geografi dan antropologi; atau bahasa dan sastra inggris dengan bahasa dan sastra arab. Peserta didik Y dapat memilih matematika dan biologi; atau matematika dengan bahasa dan sastra inggris; atau bahasa dan sastra inggris dengan bahasa dan sastra arab. Peserta didik Z bisa memilih biologi dan kimia; atau sejarah dan ekonomi; atau biologi dan sejarah.

              Khusus untuk kelompok peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya, satuan pendidikan boleh membuka matapelajaran bahasa dan sastra asing lainnya, misalnya Bahasa dan Sastra Jepang dengan Bahasa dan Sastra Korea. Selain itu, peserta didik yang memilih peminatan ilmu Bahasa dan Budaya dapat memilih lintas minat di peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya juga. Sebagai contoh peserta didik di peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya selain dapat memilih lintas minat di peminatan Matematika dan Ilmu Alam atau Ilmu-ilmu Sosial, juga dapat memilih bahasa Asing yang disediakan sekolah selain bahasa asing yang telah dipilihnya sebagai peminatan.Dengan demikian peserta didik yang telah memilih peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya dengan matapelajaran Bahasa dan Satra Prancis, dapat pula memilih matapelajaranBiologi danBahasa dan Sastra Korea nat, atau matapelajaran Sejarah dan Bahasa dan Sastra Jepang; sebagai matapelajaran lintas minat. Satuan pendidikan sebaiknya menyarankan peserta didik untuk mempertahankan matapelajaran lintas minat, salah satu pilihannya sampai di kelas XII. Peserta didik di kelas X mengikuti dua matapelajaran lintas minat sebanyak 6 jam pelajaran, dan di kelas XI dan kelas XII mengikuti satu matapelajaran lintas minat sebanyak 4 jam pelajaran sesuai dengan Permendikbud No. 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum.

              Pemilihan matapelajaran lintas minat dan pendalaman minat bersifat opsional, artinya seorang peserta didik dapat mengambil dua matapelajaran lintas minat; atau satu matapelajaran lintas minat dan satu pendalaman minat; atau dua matapelajaran pendalaman minat

              Pada saat kelas XI, peserta didik dapat melanjutkan salah satu matapelajaran lintas minat atau mengambil matapelajaran untuk pendalaman minat. 

              Pendalaman minat dapat dilakukan mulai dari kelas X, akan tetapi karena peserta didik baru mengenal dan mempelajari beberapa matapelajaran maka dalam menentukan pendalaman minat sebaiknya diperhatikan hal-hal seperti; 1) dilakukan mulai kelas XI; 2) mendapat rekomendasi dari guru matapelajaran yang akan dipilih dan disetujui oleh guru bimbingan konseling; 3) bagi satuan pendidikan yang telah memiliki kerja sama dengan perguruan tinggi,bentuk dan pelaksanaan kerja sama diatur dengan perguruan tinggi bersangkutan;dan 4) memiliki peserta didik yang memang mempunyai potensi lebih untuk matapelajaran tertentu yang terdapat pada perguruan tinggi tersebut dapat mengikutsertakan pembelajaran peserta didiknya pada perguruan tinggi tersebut.

                Download Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013

                Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

                Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013



                Download File:
                Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013.docx

                Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA/MA Kurikulum 2013. Semoga bisa bermanfaat.

                Formulir Kontak

                Nama

                Email *

                Pesan *