Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini

Diposting oleh Pada 5/30/2018 09:03:00 AM dengan No comments

Berikut ini adalah berkas Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini. Buku ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan  Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2011. Penulis  Lestari KW, M.Hum. Download file format PDF.

Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini
Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini

Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini

Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini:

PENDAHULUAN
Bagi sebagian orangtua mendampingi anak saat bermain atau belajar bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi bila harus mengaitkannya dengan tujuan dan manfaat dari setiap kegiatan bermain anak. Demikian halnya dengan mengembangkan kemampuan matematika pada anak. Anak lebih sering diminta menghapalkan angka-angka, jumlah, bentuk-bentuk geometri, berbagai lambang dan bahasa matematika, tanpa perlu memahami prinsip-prinsip dasarnya. Bila demikian, maka sangat besar kemungkinan anak akan mengalami kesulitan ketika memasuki kelas 3 SD. Orangtua kemudian baru menyadari bahwa anak-anak mereka sesungguhnya belum memahami konsep dasar matematika.

Padahal, anak sudah mulai mengembangkan konsep matematika dari berbagai kegiatan sehari-hari. Misalnya ke- tika bayi, anak tahu bahwa dia kecil sedangkan ibu dan ayah- nya besar, meskipun anak belum dapat mengungkapkannya dalam bahasa lisan. Ketika berusia batita (bawah tiga tahun), anak tahu bahwa jika ia menumpuk satu balok pada balok yang lain maka baloknya akan bertambah banyak (jadi dua) meskipun ia tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa lisan. Anak juga tahu kalau ia punya dua balok dan teman- nya punya sepuluh balok, maka balok temannya lebih ban- yak sehingga anak ingin mengambilnya dari temannya. Selain itu, anak sering memilih sendiri mainannya meskipun ia tidak tahu dasar pemilihannya. Anak juga tahu jadwal kegiatannya dalam sehari bila hal itu memang dilakukan secara rutin.

Buku ini memberikan sedikit pengetahuan bagi para orang- tua anak usia dini dalam mendampingi anak-anaknya untuk mengenalkan konsep matematika. Orangtua diharapkan da- pat memotivasi anak untuk senang belajar serta mengurangi kesulitan yang dialami anak dalam belajar matematika kelak di kemudian hari.

MENGENALKAN KONSEP MATEMATIKA PADA ANAK

Pengertian Matematika
Matematika merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam menjalankan kehidupannya se- hari-hari. Misalnya ketika berbelanja maka kita perlu memi- lih dan menghitung jumlah benda yang akan dibeli dan harga yang harus dibayar. Saat akan pergi, kita perlu mengingat arah jalan tempat yang akan didatangi, berapa lama jauhnya, serta memilih jalan yang lebih bisa cepat sampai di tujuan, dll.

Bila kita berpikir tentang matematika maka kita akan mem- bicarakan tentang persamaan dan perbedaan, pengaturan informasi/data, memahami tentang angka, jumlah, pola-pola, ruang, bentuk, perkiraan dan perbandingan.

Pengetahuan tentang matematika sebenarnya sudah bisa diperkenalkan pada anak sejak usia dini (usia lahir-6 tahun). Pada anak-anak usia di bawah tiga tahun, konsep matema- tika ditemukan setiap hari melalui pengalaman bermainnya. Misalnya saat membagikan kue kepada setiap temannya, menuang air dari satu wadah ke wadah lain, mengumpulkan manik-manik besar dalam satu wadah dan manik-manik yang lebih kecil pada wadah yang lain, atau bertepuk tangan mengkuti pola irama. Mengenalkan Konsep matematika dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari.

Mengenalkan Konsep Angka pada anak usia bawah 3 tahun
Untuk mengenalkan konsep angka pada anak usia dibawah 3 tahun dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
  1. membilang, yaitu menyebutkan bilangan berdasarkan urutan,
  2. mencocokan setiap angka dengan benda yang sedang dihitung,
  3. membandingkan antara kelompok benda satu dengan kelompok benda yang lain untuk mengetahui jumlah benda yang lebih banyak, lebih sedikit, atau sama

Anak-anak mulai dapat mengembangkan pemahaman-nya tentang konsep angka bila mereka diajak menggunakan angka-angka di dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Misal- nya mengajak anak menyanyikan lagu yang memuat angka seperti lagu Satu-satu, meminta tiga anak untuk membantu menata meja makan atau meletakan alat /bahan main.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orang tua dalam mengembangkan konsep angka pada anak usia bawah tiga tahun, yaitu :

Pada bayi (0-8 bulan) :
  1. Sambil memakaikan kaos kaki pada bayi, tersenyum pada bayi dan mengucapkan “Nah ini satu kaos kaki untuk kaki kiri, dan satu lagi untuk kaki kanan. Dua kaos kaki untuk dua kaki”.
  2. Saat akan menyuapkan biskuit yang dihaluskan, sambil tersenyum ke bayi kita ucapkan” Sekarang waktunya makan biskluit ya”. Dan ketika bayi terlihat senang, maka kita bisa ucapkan “Kamu mau tambah biskuitnya. Kamu pasti lapar ya.”

Pada bayi (8-12 bulan):
  1. Sediakan wadah-wadah mainan dan letakan masing-masing penutup didekatnya.Ajaklah bayi untuk meletakan tutup pada setiap wadah mainan
  2. Letakan 2 buah mainan dihadapan bayi. Ajaklah bayi untuk memilih mainan yang akan dimainkan dan meraih mainan tersebut.
  3. Beri contoh gagasan pada bayi untuk memberikan tanda “minta lagi” bila ingin meminta tambah biskuit lagi setelah menghabiskan biskuitnya.

Pada anak usia 12-24 bulan:
  1. Ajaklah anak bernyanyi lagu satu satu, balonku, dll, yang mengandung angka sambil bergerak mengikuti irama.
  2. Ajaklah anak untuk membantu memasukan setiap kuas lukis ke masing-masing wadah cat.
  3. Mintalah anak untuk memasukan bola plastik ke keranjang, kemudian ajaklah anak untuk menghitung bersama-sama jumlah bola yang ada di keranjang.
  4. Berikan gagasan agar anak boleh meminta lagi playdough bila bungkahan playdough yang diberikan masih kurang.

Pada anak usia 24-36 bulan:
  1. Siapkan beberapa buah mainan mobil-mobilan dan balok asesoris. Ajaklah anak untuk menyusun barisan antrian mobil. Berikan gagasan untuk meletakan batasan pada setiap mobil dengan menggunakan balok asesoris.
  2. Ajukan anak dengan pertanyaan seperti, “ Berapa umurmu sekarang?” Ketika anak menjawab ” dua” maka tunjukan dengan dua jari sambil mengucapkan “dua”.
  3. Ajaklah anak untuk bersama-sama bermain menumpuk beberapa balok atau kardus. Ketika selesai, tanyakan pada anak, “bangunan siapa yang lebih tinggi”. Biarkan anak berkata “punyaku yang lebih tinggi”. Kemudian mintalah anak untuk menghitung balok atau kardus yang sudah ditumpuknya.

Mengenalkan Konsep Pola dan Hubungan pada anak usia bawah 3 tahun
Pola merupakan susunan benda yang terdiri atas warna, bentuk, jumlah, atau peristiwa. Contoh susunan pola berdasarkan ukuran: besar, kecil, besar, kecil. Susunan pola berdasarkan warna: merah, biru, merah, biru. Dan, susunan pola berdasarkan peristiwa sehari-hari: sesudah makan biskuit, saya minum susu.

Untuk mengembangkan kemampuan mengenal pola dan hubungan, anak perlu diberi banyak kesempatan untuk menggali dan memanipulasi benda dan mencatat persamaan dan perbedaanya.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua dalam mengembangkan pola dan hubungan:

Pada bayi usia 0-8 bulan:
  1. Kenakan pakaian yang lebih berwarna warni, dan biarkan anak memperhatikan corak pakaian tersebut.
  2. Sambil membawa botol susu datangi anak dan biarkan anak melambaikan tangan menyambut kedatangan anda.
  3. Letakan bayi di karpet yang bersih dan tidak berdebu. Biarkan anak merasakan permukaan karpet dengan kakinya.

Pada bayi 8-12 bulan:
  1. Ambilah sebuah sendok kemudian dekatkan ke depan mulut anak. Biarkan anak membuka mulutnya.
  2. Letakan bermacam-macam cangkir plastik dengan ukuran yang berbeda. Biarkan anak bermain dengan cangkir-cangkir tersebut dan mencoba menumpuknya.
  3. Letakan secara acak beberapa balok lunak atau kardus di lantai. Berikan gagasan agar anak mau mengumpulkan dan menyusun balok atau kardus menjadi sebuah baris.

Pada anak usia 12-24 bulan:
  1. Sediakan alat musik gendang atau bisa dibuat dari kaleng bekas biskuit atau susu ditutup karet balon. Ajak anak agar mau memukul gendang tersebut. Berikan beberapa contoh irama pukulan gendang untuk ditiru anak.
  2. Sediakan air dalam baskom berukuran sedang, cangkir plastik, dan botol aqua bekas. Berikan gagasan agar anak menuang air dengan cangkir ke botol.
  3. Ketika membacakan buku cerita, ucapkan kalimat yang diulang-ulang pada beberapa halaman berikutnya, misalnya: “Nah, kucing yang tadi warna bulunya putih. Kalau kucing yang ini warna bulunya hitam. ”
  4. Ketika membacakan buku cerita, sambil menunjuk ke gambar ucapkan “ Kelinci mana yang lebih besar ?” Amati jawaban anak.

Pada anak usia 24-36 bulan:
  1. Ajak anak untuk mengelompokan mainan mobil-mobilan atau boneka berdasarkan ukuran besar dan kecil.
  2. Berikan anak sebuh gendang atau mainan yang berbunyi bila dipukul. Anda memegang botol plastik kosong. Mintalah anak untuk memukul gendang setelah anda memukul botol. Lakukan ini berulang-ulang. Selanjutnya anak memukul gendang terlebih dulu diikuti anak.
  3. Ajak anak untuk menumpuk buku-buku mulai dari yang berukuran besar hingga yang paling kecil.

Mengenalkan Konsep Hubungan Geometri dan Ruang pada anak usia bawah 3 tahun
Pengertian yang dimaksud di sini adalah anak mengenal bentuk-bentuk geometri (segitiga, segi empat, persegi, ling- karan) yang sama dan posisi dirinya dalam suatu ruang. Anak bisa paham tentang pengertian ruang yang dimaksud di sini ketika mereka sadar akan posisi dirinya dihubungkan dengan benda-benda dan penataan di sekelilingnya. Anak belajar ten- tang lokasi/tempat dan letak/posisi, seperti: di atas, di bawah, pada, di dalam, di luar. Selain itu, anak juga belajar tentang pengertian jarak, seperti: dekat, jauh, dll.

Mengenalkan hubungan geometri dan ruang pada anak bisa dilakukan dengan cara mengajak anak bermain sambil mengamati berbagai benda di sekelilingnya. Anak akan be- lajar bahwa benda yang satu mempunyai bentuk yang sama dengan benda yang satunya. Ketika anak melihat buah apel dan bercerita, “Buah apel ini bentuknya seperti bola,” maka sebenarnya anak sedang mengembangkan pengertian ten- tang geometri. Orang tua yang memiliki anak usia 1-3 tahun dapat menyediakan balok-balok lunak atau kardus-kardus be- kas obat dari berbagai ukuran agar anak bisa bereksplorasi dan membangun.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan hubungan geometri dan ruang pada anak:

Pada bayi 0-8 bulan:
  1. Letakan sebuah botiol susu di hadapan bayi. Biarkan bayi memegang botol tersebut dan merasakan bentuk botol dengan kedua tangannya.
  2. Selimuti bayi. Biarkan bayi memegang dan merasakan keseluruhan bentuk dan permukaan selimut.
  3. Biarkan bayi merangkak atau merayap sepanjang tepi meja untuk merasakan bentuk meja.

Pada bayi 8-12 bulan:
  1. Ajak anak merangkak kedalam terowongan. Biarkan anak merasakan berada di ruang tertutup tetapi masih bisa memandang dan menjangkau luar dengan kedua tanggannya.
  2. Ajak anak untuk melempar bola plastik ke dalam keranjang.

Pada anak usia 12-24 bulan:
  1. Sediakan boneka dan kotak yang ukurannya lebih kecil dari boneka tersebut. Berikan gagasan agar anak mau mencoba memasukan boneka ke kotak. Setelah anak mengerti bahwa kota terlalu kecil maka ambil kotak lain yang lebih besar, birakan anak memasukan boneka ke kotak tersebut.
  2. Sediakan kotak yang permukaannya terdapat beberapa lubang berbentuk segitiga, persegi, lingkaran, segiempat. Biarkan anak memasukan keping segitiga, persegi, lingkaran dan segiempat ke kotak tersebut.

Pada anak 24-36 bulan:
  1. Ajak anak bermain meniup busa sabun di luar. Amati apa yang diucapkan anak. (Misalnya:” Lihat ada banyak bola!”
  2. Ajak anak untuk mengenal nama-nama benda di sekitar, misal: “Lihat, piring ini seperti apa bentuknya”. Biarkan anak yang menjawab.

Mengenalkan konsep Memilih dan Mengelompokan pada anak usia bawah 3 tahun
Memilih dan mengelompokan meliputi kemampuan mengamati dan mencatat persamaan dan perbedaan benda. Anak-anak usia di bawah tiga tahun mengenal persamaan dan perbedaan melalui kelima indera mereka pada saat bereksplorasi dengan benda-benda di sekitar. Anak belajar melalui memperhatikan, mendengar, menyentuh, merasakan, mencium bau benda-benda yang dimainkannya, sehingga mengetahui benda-benda yang sama dan yang berbeda.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengelompokan pada anak :

Pada bayi 0-8 bulan:
  1. Ketika bayi menangis, katakan: “Ya ibu datang. Ibu mendengar suaramu.” Bayi akan belajar mengenali suara anda.
  2. Berikan 2 macam mainan bayi yang berbunyi. Biarkan bayi menunjukan minat pada mainan tertentu dan memainkannya.

Pada bayi 8-12 bulan:
  1. Sediakan 2 macam buah-buahan masing-masing jenis 3, misal: apel dan jeruk pada sebuah wadah. Ajaklah anak untuk memilih buah dan meletakan di luar wadah.
  2. Sediakan beberapa macam alat dapur yang bisa dibunyikan seperti: tutup panci, tutup gelas, piring kaleng, dll. Biarkan anak memilih alat tersebut dan membunyikannya menggunakan supit kayu atau plastik untuk makan mi.

Pada anak 12-24 bulan:
  1. Memberikan sebuah gambar kucing pada anak. Biarkan anak menyebutkan nama binatang tersebut.
  2. Sediakan 5 buah balok lunak warna merah. Ajak anak untuk membariskan balok-balok tersebut seperti barisan balok berdasarkan pola warna merah.

Pada anak 24-36 bulan:
  1. Sediakan 1 keranjang dan beberapa bola plastik terdiri dari 3 warna, masing-masing warna 4 bola. Ajak anak untuk memasukan semua bola yang berwarna misalnya yang berwarna kuning ke keranjang.
  2. Sediakan bermacam-macam kotak kardus dari berbagai ukuran dan bentuk. Ajak anak untuk menumpuk kotak- kota tersebut menjadi seperti sebuah menara. Biarkan anak memilih kotak-kotak yang sama bentuk dan ukurannya untuk ditumpuk.

Mengembangkan konsep angka pada anak usia 3-6 tahun
Konsep angka dikembangkan melalui 3 tahap:
  1. Menghitung. Tahap awal menghitung pada anak adalah menghitung melalui hapalan atau membilang. Orangtua dapat mengembangkan kemampuan ini melalui kegiatan menyanyi, permainan jari, dll yang menggunakan angka.
  2. Hubungan satu-satu.Maksudnya adalah menghubungkan satu, dan hanya satu angka dengan benda yang berkaitan. Teknik ini bisa dilakukan melalui kegiatan sehari-hari.
  3. Menjumlah, membandingkan dan simbol angka.

Ketika orangtua meminta anak mengambilkan 3 buah biskuit, dan anak membawa 3 buah biskuit. Anak tersebut mengerti tentang konsep jumlah. Anak yang paham urutan angka, akan tahu bahwa kalau menghitung 3 biskuit dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri maka jumlahnya akan sama. Anak yang paham konsep perbandingan akan paham benda yang lebih besar, jumlahnya lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.

Beberapa contoh kegatan yang dapat dilakukan orang tua dalam mengembangkan konsep angka, yaitu:
  1. Meminta anak menghitung jumlah cangkir yang diperlukan untuk mengisi botol sampai penuh dengan pasir.
  2. Meminta anak menghitung jumlah balok yang diperlukan untuk membuat bangunan yang dibuat anak.

Mengembangkan Konsep Pola dan Hubungan pada anak usia 3-6 tahun
Tujuan mengenalkan pola dan hubungan pada anak usia 3-6 tahun adalah mengenalkan dan menganalisa pola-pola sederhana, menjiplak, membuat, dan membuat perkiraan ten- tang kemungkinan dari kelanjutan pola.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan pola dan hubungan pada anak:
  1. Mengajak anak bermain menyusun antrian mobil-mobilan membentuk pola barisan merah, hitam, merah, hitam, merah, hitam.
  2. Mengajak anak bermain membuat rantai gelang dari kertas warna putih, biru, hijau, putih, biru, hijau.

Mengembangkan Konsep Hubungan Geometri dan Ruang pada anak usia 3-6 tahun
Anak belajar mengenal bentuk-bentuk dan penataan di lingkungan sekitar. Saat anak bermain dengan balok, cat lukis, menggambar, menggunting bentuk-bentuk geometri, mengembalikan balok ke rak, sebenarnya anak sedang bela- jar tentang bangun datar dan bangun ruang serta kegunaannya. Pertama anak belajar mengenal bentuk-bentuk sederhana (segitiga, lingkaran, segi empat). Kedua, anak belajar tentang ciri-ciri dari setiap bentuk geometri. Selanjutnya, anak belajar menerapkan pengetahuannya untuk berkreasi membangun dengan bentuk-bentuk geometri.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan hubungan geometri dan ruang pada anak:
  1. Mengajak anak bermain meniup busa sabun menggunakan sedotan plastik yang ditekukan pada bagian ujungnya sehingga membentuk lingkaran lalu diikatkan ke batang sedotan. Ajak anak mengamati bahwa bentuk gelembung-gelembung sabun yang ditiup anak seperti bentuk lingkaran.
  2. Sediakan kardus-kardus bekas (obat, susu), botol- botol plastik, sedotan plastik, kertas warna, dll. Ajak anak untuk membangun sebuah halaman impian untuk tempat bermainnya menggunakan barang-barang bekas tersebut.

Mengembangkan Konsep Pengukuran pada anak usia 3-6 tahun
Anak belajar pengukuran dari berbagai kesempatan melalui kegiatan yang membutuhkan kreativitas. Tahap awal anak tidak menggunakan alat, tetapi mengenalkan konsep lebih panjang, lebih pendek, lebih ringan, cepat, dan lebih lambat. Tahap berikutnya, anak diajak menggunakan alat ukur bukan standar, seperti pita, sepatu, dll. Pada tahap lebih tinggi lagi, anak diajak menggunakan jam dinding, penggaris, skala, termometer.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan pengukuran pada anak:
  1. Mengajak anak mengukur panjang dan lebar rak mainan menggunakan balok unit.
  2. Mengajak anak menghitung jumlah cangkir berisi pasir yang diperlukan untuk mengisi penuh sebuah ember kecil.
  3. Mengajak anak mengukur karpet menggunakan pita.

Mengembangkan Konsep Pengumpulan, Pengaturan dan Tampilan Data pada anak usia 3-6 tahun
Pada awalnya anak mulai memilih benda tanpa tujuan. Selanjutnya anak memilih mainan dengan tujuan, misalnya berdasarkan warna, ukuran , atau bentuk. Pada tahap yang lebih tinggi anak dapat memilih mainan berdasarkan lebih dari satu variabel, misal berdasarkan warna dan bentuk, atau warna, bentuk dan ukuran.

Pengetahuan tentang grafik merupakan bentuk perluasan dari memilih dan mengelompokan. Membuat grafik merupakan cara anak untuk menampilkan bermacam-macam informasi/data dalam bentuk yang berlainan. Misalnya anak membuat grafik sederhana tentang jenis sepatu yang dipakai anak.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan pengumpulan, pengaturan dan tampilan data pada anak:
  1. Mengajak anak mengumpulkan bermacam-macam daunan-daunan. Kemudian ajak anak mengelompokan bentuk daun-daunan tersebut. Setelah itu, buatlah daftar tentang jumlah daun untuk setiap bentuknya dengan cara menyusun daun-daun yang sama menjadi barisan tegak lurus ke atas. Ajak anak mencatat jumlah setiap kelompok daun.
  2. Mengajak anak membuat grafik tentang keadaan cuaca setiap hari dalam 1 bulan.

TIPS UNTUK ORANG TUA
Beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua dirumah:
  • Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari di rumah. Misalnya membantu meletakan piring dan gelas ke rak, meletakan baju-baju yang sudah disetrika ke lemari. merapikan handuk dan selimut di lemari.
  • Menyediakan anak berbagai kesempatan dalam kegiatan sehari-hari yang menggunakan angka. Misalnya menata meja makan, menata alat main sesuai fungsi, meletakan kaos kaki pada masing-masing sepatu.
  • Meminta anak untuk membantu menata sepatu anggota keluarga dirak mulai dari sepatu ukuran kecil hingga yang berukuran besar.
  • Mengajak anak untuk membantu menata buku-buku, berdasarkan ukuran, ketebalan buku, atau jenis kertasnya.
  • Memberi kesempatan pada anak untuk sering bermain dengan playdough, atau tanah liat. Biarkan anak berkreasi dengan bahan tersebut.
  • Ajak anak untuk berlari, melompat, meloncat pada gambar bentuk-bentuk geometri yang dibuat dari tali, kapur, dll.

    Download Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini



    Download File:
    Buku Parenting - Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Parenting Konsep Matematika Untuk Anak Usia Dini. Semoga bisa bermanfaat.
    Kesiapan Anak Bersekolah

    Diposting oleh Pada 5/30/2018 08:15:00 AM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah. Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan  Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2011. Penulis Puji Lestari Prianto, M.Psi. Download file format PDF.

    Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah
    Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah

    Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah

    Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah:

    Memasuki pendidikan di SD memiliki warna tersendiri dalam kehidupan suatu keluarga, terlebih jika ananda merupakan anak pertama. Berbagai hal diupayakan pada anak agar ia berhasil masuk SD. Sejauh ini kebanyakan orangtua hanya menganggap, untuk masuk SD, anak sudah harus berusia 7 tahun serta sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Oleh karena itu, banyak orangtua menyiapkan anaknya ke arah kemampuan-kemampuan tersebut. Padahal, harusnya tidak demikian, karena masih banyak kemampuan lainnya yang juga perlu diasah agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Nah, agar ibu dan ayah dapat memberikan bantuan yang juga maksimal kepada anak, maka ibu dan ayah dapat membaca seri buku panduan yang lainnya, seperti Mengembangkan Kmampuan Dasar Anak Mengenai Angka dan Konsep Matematik; Mengembangkan Kemampuan Awal Membaca Anak Usia Dini; Anak Bertanya Orangtua Menjawab, dan lainnya. Selamatmembaca dan menyiapkan anak masuk SD.

    Pendidikan Dasar, khususnya sekokah dasar (SD), wajib hukumnya. Artinya, semua anak dalam rentang usia tertentu harus melaksanakan kewajiban belajar. Ibu-ayah memiliki tanggung jawab untuk mengirim anaknya bersekolah dan dapat dikenai tindakan jika ibu-ayah sampai gagal melaksanakan kewajiban ini.

    Tentunya, untuk masuk SD, ananda perlu dipersiapkan lebih dahulu. Kalau ibu-bapak diajukan pertanyaan, “Apa yang Ibu- Bapak siapkan untuk ananda yang akan masuk SD?” Berbagai jawaban pun muncul, dari membiasakan bangun pagi, menyiapkan pakaian, membelikan alat tulis dan buku, membelikan seragam, dan lainnya. Namun jawaban yang paling banyak, biasanya adalah “menyiapkan ananda supaya bisa membaca, menulis, dan berhitung”. Jawaban ini muncul karena kebanyakan orangtua beranggapan, untuk masuk SD sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ada juga yang berpandangan, di SD itu hanya mau menerima anak (murid) yang sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung.

    Cobalah simak perbincangan ibu-ibu di suatu TK yang sedang menunggui anaknya. Begitu seorang ibu tahu anaknya sebentar lagi akan masuk SD, maka pertanyaan yang muncul dari ibu-ibu lain adalah, “Wah, anaknya sudah bisa baca, tulis, dan hitung, ya?”

    Memang, tidak dapat disangkal bahwa kemampuan membaca, menulis dan berhitung amat dibutuhkan di SD. Namun, mempersiapkan ananda untuk menekuni pendidikannya di SD bukanlah semata-mata ia sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung saja, karena sebenarnya masih banyak lagi kemampuan lain yang perlu dipersiapkan sebelum anak masuk SD. Sikap-sikap seperti tidak bergantung pada ibu atau nenek atau si mbak yang menunjukkan bagaimana kemandirian ananda; mau berbagi dengan teman; mau bersosialisasi alias bergaul dengan teman lain; tidak malu; dan lain-lainnya, justru lebih diperlukan oleh ananda yang akan masuk SD. Jadi, agar ananda siap masuk SD, diperlukan kesiapan dalam seluruh aspek perkembangannya, dari fisik, kecerdasan, sosial-emosional, hingga bahasa.

    Buku ini disusun sebagai panduan bagi para orangtua— bukan hanya ibu, tetapi juga ayah—untuk mempersiapkan ananda tercinta yang akan masuk SD. Diharapkan setelah membaca buku ini, ibu dan ayah menjadi tahu, apa saja yang harus dilakukan agar ananda siap masuk SD. Dengan begitu, ketika tiba saatnya masuk SD, ananda benar-benar sudah siap dan—yang penting pula—kelak ananda pun menjadi senang belajar di SD.

    CIRI-CIRI ANAK SIAP SEKOLAH
    Sebelum ibu-ayah memahami apa yang harus dipersiapkan untuk ananda yang akan masuk SD, baiklah kita ketahui dulu ciri-ciri anak usia SD.

    Anak usia SD umumnya dikenal pula dengan sebutan anak usia sekolah. Sebagian besar dari kita paham, ditinjau dari usia, seorang anak akan masuk SD jika ia sudah mencapai usia 7 tahun. Di usia ini biasanya anak telah memiliki kesiapan untuk masuk SD atau memiliki kematangan sekolah. Namun, pada kenyataannya, tidak semua anak usia 7 tahun sudah siap masuk SD. Mengapa? Karena, kesiapan anak untuk bersekolah, ternyata tidak hanya dilihat dari sisi anaknya saja, melainkan juga sisi keluarga, terutama kesiapan orangtuanya.

    Ibu dan ayah harus siap untuk melepas anaknya yang akan bersekolah. Jika ibu-ayah takut melepas ananda untuk sekolah, berarti ibu-ayah belum siap untuk menyekolahkan ananda. Begitu pula jika ibu-ayah melepas tanggung jawab dengan menyerahkan semua urusan ananda kepada sekolah, sebenarnya menunjukkan ibu-ayah tidak siap melepas ananda bersekolah. Di sisi lain, ibu-ayah juga tidak bisa selalu melayani ananda sampai-sampai ananda tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak tahu harus berbuat apa karena biasanya dia sudah tahu beres akan kebutuhannya sebab sudah biasa dibantu orangtua atau keluarganya.

    Selain lingkungan keluarga, lingkungan di sekitar anak juga turut memberikan sumbangan terhadap kesiapan anak memasuki dunia sekolah. Keadaan ini bisa dimengerti karena bagaimana interaksi atau hubungan anak dengan lingkungan teman sebaya maupun orang dewasa lain, dapat memengaruhi perkembangan dirinya. Coba tengok si Budi, anak keluarga Pak Eddy yang berusia 4 tahun. Di lingkungan rumahnya, Budi memiliki banyak teman dan bersama teman-temannya itu, Budi suka suka bermain sepeda meskipun masih roda 4. Ketika bertemu dengan orangtua dari temannya atau orang dewasa lain, Budi selalu menyapa, “Selamat pagi, Pak.” atau “Selamat pagi, Bu.” Ketika diajak ke pasar, Budi juga suka bertanya pada tukang sayur, “Pak, ini jualan sayur apa?”; “Kalau sayuran wortel seperti apa?”

    Keunggulan Budi yang memiliki banyak teman dan tidak malu untuk menegur orang dewasa kenalan ibu-ayahnya, merupakan “buah” dari kebiasaan ibu-ayah yang suka mengajak Budi untuk berkenalan dengan lingkungan sekitar rumahnya. Selain juga, juga ibu-ayah kerap memberikan contoh dan kesempatan bagaimana bertanya dan berbicara dengan orang lain. Tak heran bila akhirnya kemampuan berbicara Budi juga mengalami perkembangan yang baik. Begitu pun dengan jawaban yang diberikan oleh Budi atas pertanyaan dari teman- teman maupun orang lain di sekitarnya, ikut meningkatkan kemampuan bahasa dan pergaulan (interaksi) Budi dengan lingkungannya.

    Kemampuan berbahasa dan berinteraksi sebagaimana yang dimiliki Budi merupakan kemampuan yang nantinya dapat menyumbang kesiapan anak untuk masuk sekolah. Dengan demikian, selain perkembangan bahasa dan sosial, perkembangan fisik, emosional, serta kecerdasan (yang banyak berkaitan dengan kemampuan berpikir), juga memberikan sumbangan bagi kesiapan anak untuk sekolah.

    Dari apa yang diutarakan di atas tampak bahwa usia bukan merupakan satu-satunya hal yang menentukan kesiapan atau kematangan seorang anak. Oleh karena itu ketika kita mulai memikirkan si kecil untuk masuk SD, maka kita perlu memahami ciri-ciri dari anak yang siap untuk sekolah.

    CIRI-CIRI ANAK SIAP SEKOLAH
    1. Dari perkembangan fisik: Anak dapat meniti. Kalau berjalan di titian, ia tidak jatuh karena sudah lebih bisa mengontrol keseimbangan dirinya, Anak dapat memegang alat tulis dengan benar, misalnya ketika ia menulis atau menggambar sesuatu. Perhatikan tahapan bagaimana anak memegang alat tulis, Anak mulai bisa memusatkan pandangannya pada benda-benda kecil. Itulah sebabnya anak dapat mengoordinasikan mata dan tangannya. Misal, anak bisa mengancingkan baju sendiri, menyusun balok-balok, atau memasukkan balok sesuai dengan bentuknya.
    2. Dalam menggambar, Anak dapat membuat coretan-coretan yang lebih bermakna. Gambaran yang tadinya hanya garis-garis tidak beraturan sudah dapat dibuat dalam bentuk tertentu seperti orang, rumah, mobil, roda, bunga, dan lainnya.
    3. Ketergantungan pada ibu-ayah atau orang dewasa lain mulai berkurang. Anak mulai mandiri dan menunjukkan rasa tanggung jawabnya. Contoh, anak bisa makan sendiri, habis bermain membereskan mainan sendiri, dan bisa mandi sendiri meskipun belum bersih betul.
    4. Anak sangat menyukai kegiatan yang dipilih sendiri dan ia sangat menikmatinya.
    5. Anak mulai bisa lebih berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya pada suatu hal. Itulah sebabnya dalam mengerjakan sesuatu anak terlihat lebih tekun.
    6. Anak dapat berbagi dan bermain bersama-sama dengan temannya. Contoh, waktu bermain balok-balok, anak bisa bermain bersama-sama dengan temannya membangun sesuatu.
    7. Anak senang berbicara, pertanyaan anak juga sudah lebih rumit. Pertanyaan yang diajukan tidak lagi menggunakan kata tanya “apa”, tetapi sudah berkembang menjadi “mengapa”. Contoh, “Ayah, mengapa ayam kalau dari jauh menjadi kecil?” Anak juga cepat tanggap jika ada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang sudah ibu-ayah ucapkan, “Kata Ibu, sebelum makan harus cuci tangan dulu, tapi kok Ayah boleh makan padahal belum cuci tangan?”

    PANDUAN MENYIAPKAN ANAK MASUK SD
    Dengan melihat ciri-ciri kesiapan anak masuk SD, inilah yang perlu dilakukan ibu-ayah agar ananda siap masuk SD.
    1. Sering mengajak anak berkunjung ke lingkungan di luar rumah, agar anak terbiasa dengan berbagai lingkungan yang ada, misalnya diajak ke pasar, ke warung, ke rumah bu RT. Dorong ananda untuk berkenalan dan minta ia memerhatikan kegiatan yang sedang dilakukan di pasar atau warung, dan sebagainya.
    2. Tanyakan pada anak, apa yang telah dilakukannya di hari itu. Hargailah setiap jawaban anak. Hindari pertanyaan yang diajukan bertubi-tubi karena akan membuat anak kesal dan akhirnya tidak mau bercerita. Contoh, “Adik sedang apa? Tadi waktu Ibu ke pasar, Adik menangis tidak? Besok Adik mau ikut Ibu dan Bapak ke rumah Eyang?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat anak bingung; dia belum menjawab satu pertanyaan, eh sudah diajukan lagi pertanyaan lain.
    3. Berkunjung ke SD yang ada di dekat rumah atau SD yang akan dituju kelak dan berkenalanlah dengan guru-guru di sana. Hal ini berguna bagi anak agar tidak malu dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Kalau sering berkunjung dan berkenalan dengan guru- guru di sana, anak pun akan terbiasa dengan lingkungan sekolahnya kelak. Jika anak memiliki kakak di SD, tentu akan lebih mudah bagi ibu-ayah untuk memperkenalkan lingkungan SD.
    4. Ajak anak untuk menyalurkan kegiatan fisiknya secara lebih terarah, misalnya berlari, memanjat pohon, meniti trotoar (pinggir jalan raya).
    5. Perbanyak kegiatan yang menunjang perkembangan motorik halus seperti bermain tanah liat, membuat tulisan di atas pasir atau tepung dengan menggunakan jari tangan, membantu ibu menggiling adonan, membantu ibu memeras santan, dan lainnya. Tanamkan tanggung jawab dan kemandirian kepada anak, seperti selesai makan membawa piring ke dapur untuk dicuci ibu, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dan lain-lain. Pada awalnya ibu-ayah memberikan contoh, kemudian melakukannya bersama anak, selanjutnya biarkan anak melakukannya sendiri, sehingga lama kelamaan akhirnya anak terbiasa dan tidak selalu minta tolong ibu-ayah maupun orang dewasa lainnya.
    6. Ciptakan kondisi belajar sambil bermain sehingga anak terbiasa bahwa belajar itu menyenangkan. Contoh, sambil mengajak anak ke pasar diperkenalkan nama sayuran dan warnanya, apa bedanya dengan sayuran lain, dan seterusnya.
    7. Hargai setiap hasil karya anak. Ketika anak menunjukkan hasil tempelan aneka daun-daunan di sebuah kertas, katakan kepada anak, “Wah... bagus sekali hasil buatanmu, Nak. Ibu boleh tahu tidak ini apa?”.Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Hindari perkataan seperti, “Mestinya bentuknya seperti ini...” (sambil ditunjukkan caranya). Komentar seperti ini akan mengecilkan hati anak dan membuat anak merasa tidak dihargai hasil karyanya, akhirnya anak jadi malas untuk berkarya lagi.
    8. Jawablah setiap pertanyaan anak, namun jika ibu-ayah tidak tahu, katakanlah secara terus terang, “Wah, Nak...Ibu belum tahu kenapa kapal terbang bisa terbang.... Coba nanti kita tanya Bapak, mungkin Bapak tahu jawabnya.”
    9. Boleh juga bila ibu-ayah mau memperkenalkan anak dengan kegiatan menulis, membaca, dan berhitung untuk membantu perkembangan kemampuan dasar anak. Akan tetapi lakukan melalui kegiatan yang menyenangkan dan sambil bermain sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Misalnya, kegiatan menulis, “Ayo... sekarang membuat titik-titik air hujan.”

    Yang Harus Dihindari Oleh Ibu Dan Ayah:
    1. Memaksa anak belajar menulis, membaca, atau berhitung di saat anak belum siap.
    2. Menuntut terlalu tinggi pada anak. Misalnya, anak harus bisa menulis dengan rapi, sehingga jika terjadi kesalahan, anak harus menghapus dan mengulangnya kembali sampai betul.
    3. Menyempurnakan hasil karya anak, karena ibu-ayah tidak puas dengan hasil karya anak. Cara ini sungguh tidak bijak, karena dapat membuat anak menjadi kecil hati.

      Download Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah



      Download File:
      Buku Parenting - Kesiapan Anak Bersekolah.pdf

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Parenting Kesiapan Anak Bersekolah. Semoga bisa bermanfaat.

      Formulir Kontak

      Nama

      Email *

      Pesan *