Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi

Berikut ini adalah berkas Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi. Download file format PDF.

Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi
Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi

Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi:

Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam tiga tahun pelaksanaannya, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah disambut baik oleh sekolah di seluruh Indonesia. Gerakan ini bahkan telah terintegrasi baik dengan program implementasi Kurikulum 2013, Penguatan Pendidikan Karakter, dan program-program Kemendikbud lainnya. Namun demikian, tentunya masih terdapat banyak kendala dalam pelaksanaan GLS di sekolah. Kondisi sekolah yang terpencil, minimnya fasilitas dan infrastruktur pendidikan di banyak daerah, serta keterbatasan bahan bacaan yang sesuai bagi peserta didik hanyalah sedikit dari beragamnya kendala yang harus dihadapi oleh warga sekolah.

Dalam keterbatasan itu, beberapa sekolah telah berinovasi memanfaatkan potensi sekolah dalam mengembangkan kegiatan literasi dengan melibatkan komunitas di sekitar sekolah. Hal ini tentunya patut diapresiasi. Inovasi-inovasi tersebut perlu didukung agar lebih menumbuhkan budaya literasi dan meningkatkan capaian akademik peserta didik secara lebih menyeluruh dan bermakna.

Manual GLS ini dibuat untuk menyempurnakan kegiatan literasi di sekolah. Dengan tetap berfokus pada upaya untuk menumbuhkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah dengan kreatif, mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik, manual ini menyajikan berbagai kegiatan melalui kecakapan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis dengan media multimodal. Saya berharap manual ini dapat diimplementasikan dengan optimal oleh warga sekolah, terutama, untuk membumikan penerapan enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, literasi sains, finansial, digital, serta literasi budaya dan kewargaan peserta didik kita.

A. PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa peran guru sangat besar dalam pencapaian prestasi siswanya. Penelitian John Hattie (2008) di New Zealand menunjukkan bahwa kontribusi guru terhadap hasil belajar siswa sebesar 58%. Di Amerika, penelitian sejenis yang dilakukan oleh Mourshed, Chijioke, dan Barber (2010) menunjukkan kontribusi guru terhadap hasil belajar siswa sebesar 53%. Besaran persentase senada ditemukan oleh Pujiastuti, Raharjo, dan Widodo (2012) yang menemukan bahwa kontribusi guru terhadap hasil belajar siswa sebesar 54,5% (Tim UKMPPG, 2018). Peran penting guru ini akan semakin mengembang jika guru juga berperan sebagai penggerak literasi.

Selain berperan besar dalam pencapaian prestasi siswa, guru yang hebat selayaknya menjadi teladan literasi bagi para siswanya. Banyak cara yang dapat ditempuh, beberapa di antaranya dapat diwujudkan melalui: (1) guru sebagai penggerak literasi, (2) guru sebagai teladan membaca; (3) guru sebagai teladan menulis (guru menulis dan menerbitkan karya); dan (4) guru melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK).

Tidak diragukan lagi bahwa peran guru sebagai penggerak literasi sangat diperlukan. Selain itu, kegiatan membaca diyakini merupakan kunci yang akan membuka pintu kebaikan dan ilmu pengetahuan yang berperan dalam membentuk karakter seseorang. Dalam program literasi di sekolah, guru seharusnya menjadi teladan bagi siswa, khususnya dalam hal membaca. Jika guru menginginkan siswanya membaca, keteladanan dalam hal membaca harus terus dieksplisitkan dan diaurakan. Dengan kata lain, guru perlu menunjukkan minat terhadap bacaan dan turut membaca bersama siswa. Guru perlu membaca beragam sumber bacaan agar dapat meningkatkan kompetensi diri dan kualitas pembelajaran. Agar dapat memeroleh informasi dari sumber bacaan secara optimal, guru memerlukan strategi membaca efektif.

Pada sisi lain, menulis merupakan keterampilan yang perlu dikembangkan dalam kegiatan literasi. Sebagai teladan literasi, guru perlu menguasai keterampilan menulis. Jika guru meminta siswa menulis, seyogianya guru tersebut juga memberi contoh tulisannya. Salah satu langkah yang sederhana untuk menulis adalah membuat target harian yang bisa dicapai. Target ini diharapkan bukan menjadi beban, tetapi lebih pada suatu kegiatan yang menyenangkan dan terasa istimewa. Target harian ini bisa berisi cerita sehari-hari, topik-topik tertentu, ide-ide yang mencuat lepas sesaat, dst. Ide-ide inilah yang pada suatu saat bisa dipilih untuk dikembangkan menjadi tulisan.

Salah satu wujud tulisan yang bisa dibuat guru adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam hal pelaksanaan pembelajaran, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi praktik pembelajaran (cf. Tim PIPS dan PPKP, 2006). Mengapa guru perlu melakukan PTK? PTK pada dasarnya merupakan penelitian terhadap masalah praktis yang dialami guru dalam tugas sehari-hari. Dalam hal ini, peneliti (guru) sekaligus sebagai praktisi yang melakukan tindakan dan refleksi. Hanya saja, untuk menjaga objektivitas, perlu adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya. PTK sangat penting karena berperan untuk perbaikan dan peningkatan praktik pembelajaran. Selain itu, PTK diharapkan dapat menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru sebagai wujud profesionalismenya.

PTK dapat dikenali dari judulnya yang khas, yakni adanya masalah, “obat”, dan setting (kelas). Judul PTK biasanya cukup jelas menggambarkan upaya, masalah yang akan diteliti, “obat” atau tindakan untuk mengatasi masalah, dan tempat penelitian (setting). Dengan kata lain, judul PTK terdiri atas unsur upaya, masalah, obat, setting (disingkat UMOS). Contoh judul PTK: Peningkatan Kemampuan Mengidentifikasi Peta melalui Pembelajaran Kooperatif Siswa Kelas VII SMA Berkibar. Pada judul tersebut upaya terdapat pada kata “peningkatan”, masalah terlihat pada “kemampuan siswa dalam mengidentifikasi peta”, obat atau tindakannya adalah “pembelajaran kooperatif”, dan tempat penelitiannya “di kelas VII D SMA Berkibar”.

B. PELAKSANAAN

1. Kegiatan Guru sebagai Penggerak Literasi

Selain mempunyai kontribusi yang besar terhadap hasil belajar siswa, guru diharapkan dapat menjadi penggerak literasi, yaitu seseorang yang menggerakkan kegiatan literasi di sekolah melalui upaya-upaya kreatif. Peran guru sebagai penggerak literasi semakin diperlukan, khususnya pada Abad XXI ini. Kontribusi guru sebagai penggerak literasi bukan hanya akan berdampak pada hasil belajar siswa, tetapi juga akan semakin mendorong siswa mewujudkan kecakapan hidup Abad XXI: meningkatkan kemampuan literasi siswa, menguatkan karakter, dan mengembangkan kompetensi siswa sebagai masyarakat global di abad ke-21.

Sebagai penggerak literasi, guru diharapkan menjadi motivator utama yang bersumber pada keteladanannya. Selain keteladanan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menggerakkan kegiatan literasi, di antaranya:

a. Berperan Aktif dalam Tim Literasi Sekolah (TLS) atau Melaksanakan Program TLS
Kegiatan dalam hal ini, antara lain: merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan merefleksi program literasi di sekolah (untuk TLS); melaksanakan program literasi; memberi masukan yang membangun; dan membantu melaksanakan TLS (untuk guru yang bukan termasuk dalam TLS).

b. Berperan Aktif Mengembangkan Lingkungan Kaya Teks di Sekolah

Kegiatan untuk hal ini, antara lain: mengembangkan sudut baca di kelas dan di sekolah; karya siswa dan karya guru dipajang di dinding-dinding kelas dan sekolah (dalam hal ini karya pajangan digunakan untuk membantu pembelajaran, bahkan dapat difungsikan sebagai sumber di luar buku pelajaran); dan mengurus penggantian pajangan karya secara berkala (cf. Wiedarti dan Kisyani-Laksono, ed. 2018; Beers, 2009).

c. Berperan aktif mengembangkan lingkungan sosial dan afektif

Kegiatan untuk hal ini, antara lain: memberi penghargaan untuk siswa yang berprestasi dalam membaca atau menulis (misalnya: siswa yang paling sering berkunjung ke perpustakaan dalam satu bulan; paling banyak membaca buku dalam satu minggu, dst. Penghargaan dapat berupa nama siswa dipajang untuk tempo mingguan, bulanan, atau penghargaan lainnya); menyelenggarakan pameran karya siswa/guru; membuat acara-acara yang berpumpun (berfokus) pada literasi; mengagendakan kunjungan ke perpustakaan lain atau mengundang mobil perpustakaan keliling (cf. Beers, 2009).

d. Berperan Aktif Mengembangkan Lingkungan Akademik yang Literat

Kegiatan dalam hal ini, antara lain: menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran, mengenalkan beragam teks, memotivasi siswa membuat prediksi; mendiskusikan kata-kata sulit, mendorong siswa membuat inferensi; mengaitkan pengetahuan dalam buku teks dengan yang ada di luar buku teks (cf. Beers, 2009).

Pada dasarnya, strategi literasi dalam pembelajaran adalah usaha untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis siswa, dan keterampilan berkomunikasi siswa secara menyeluruh. Strategi literasi dalam pembelajaran merujuk bagaimana membelajarkan materi, sedangkan materi dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan (Kisyani-Laksono dan Retnaningdyah, 2017).

2. Strategi Membaca Efektif untuk Guru

Secara prosedural, strategi membaca efektif terdiri atas tiga tahap dengan berbagai sub sebagai berikut.

a. Sebelum Membaca

Beberapa hal yang dilakukan sebelum membaca, antara lain:
  1. mempunyai alasan mengapa saya ingin membaca teks/topik tersebut? apakah karena isi (topik menarik/diperlukan), ingin mencari hal-hal baru, topik menantang, dst.;
  2. mengidentifikasi tujuan membaca (langkah lebih lanjut dari butir a); dan
  3. membuat prediksi tentang teks yang akan dibaca berdasarkan hal-hal yang sudah diketahui.

Pada tahap ini, kita juga dapat menjawab beberapa pertanyaan, antara lain, sebagai berikut (Kisyani-Laksono dkk., 2016).
  1. Berdasarkan judul dan gambar-gambar di buku, kira-kira cerita tersebut tentang apa?
  2. Apakah cerita ini nyata atau fantasi? Dari mana saya tahu?
  3. Bila teks ini nyata, pengetahuan atau manfaat apa yang akan saya dapatkan?
  4. Apa yang dibutuhkan atau diinginkan tokoh cerita?
  5. Mengapa saya ingin membaca cerita ini?
  6. Bagaimana saya bisa menggambarkan latar cerita?
  7. Berdasarkan judul dan gambar-gambar di buku, kira-kira isi buku ini tentang apa?
  8. Apakah isi buku ini faktual/nyata? Dari mana saya tahu?
  9. Apabila isi buku ini nyata, pengetahuan atau manfaat apa yang akan saya dapatkan?

b. Saat Membaca
Tahap ini dapat dirinci menjadi dua bagian, yakni tahap awal dan tahap lanjut.
1) Tahap Awal
a) Membaca scanning atau membaca memindai yang dilakukan secara sekilas dan teliti untuk menemukan informasi yang akurat dari bacaan, misalnya: kata di kamus, daftar perjalanan. b) Membaca skimming atau membaca cepat untuk mendapatkan gagasan utama sebuah teks yang dapat dilkukan dengan membaca kalimat topik dan kalimat/kata kunci.

2) Tahap Lanjut
a) Membaca aktif dengan mencermati detail. b) Mengidentifikasi informasi yang relevan. c) Mengidentifikasi kosakata baru, kata kunci, dan/atau kata sulit dalam teks. d) Mengidentifikasi bagian teks yang sulit (jika ada) dan/atau membaca kembali bagian itu. e) Menandai hal-hal khusus (jika itu akan membantu mempertajam ingatan) atau membuat coretan kecil (jika itu membantu mengorganisasikan pikiran-pikiran kritis). Catatan: langkah ini khusus untuk buku pribadi. Untuk buku pinjaman, tidak mungkin dilakukan coretan. Untuk e-book, jika ingin membuat coretan dengan stylus, dapat digunakan aplikasi Xodo atau yang sejenis. f) Membuat inferensi. g) Membuat keterkaitan antarteks (merujuk pada keterkaitan teks dengan teks yang pernah dibaca, teks dengan pengalaman pribadi, atau teks dengan hal lain).

Pada tahap ini, kita juga dapat menjawab beberapa pertanyaan, sebagai wujud dari membaca kritis, antara lain, sebagai berikut (Kisyani-Laksono dkk., 2016).

(a) Apa yang akan terjadi di dalam cerita ini selanjutnya (setiap bagian selalu mengajak kita untuk penasaran # dengan cerita selanjutnya sampai kita juga ingin tahu bagaimana kira-kira akhir cerita ini? (b) Bagaimana perasaan saya tentang tokoh utama? (c) Mengapa tokoh cerita bersikap atau berperilaku seperti itu? (d) Apakah cerita atau teks ini masuk akal? (e) Apakah cerita ini mengingatkan saya pada hidup saya sendiri atau orang lain? (f) Apakah data dan informasi pendukung tersedia dengan memadai? (g) Bagaimana saya memahami setiap bagian di dalam buku? (h) Apakah bahasan pada setiap bagian masuk akal? (i) Bagaimana kira-kira ringkasan atau simpulan buku ini?

c. Setelah Membaca

Beberapa hal yang dilakukan setelah membaca, antara lain:
  1. membuat “ringkasan” (menceritakan kembali, membuat peta konsep atau peta cerita, dll.);
  2. mengevaluasi teks;
  3. mengonversi/mengubah suatu jenis teks ke jenis teks lainnya, namun isi pokok teks sama; contoh teks deskripsi diubah menjadi grafik;
  4. memilih, mengombinasikan, dan/atau menghasilkan teks multimodal (perpaduan antara teks tulis, lisan, visual statis/bergerak);
  5. mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi yang sudah disusun sebelum membaca; dan
  6. melakukan refleksi (merenungkan cerita dan mengambil hikmah baik).

Pada tahap ini, kita juga dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai wujud dari membaca kritis, antara lain sebagai berikut (Kisyani-Laksono dkk., 2016).
a) Bagaimana cerita ini mempengaruhi perasaan saya?
b) Apa yang saya sukai atau tidak sukai dari cerita ini?
c) Bagian mana dalam cerita ini yang menurut saya penting?
d) Apakah perasaan saya tentang tokoh cerita berubah di akhir cerita?
e) Adakah perubahan perasaan atau perilaku tokoh-tokoh cerita di akhir cerita?
f) Apa pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca seperti saya?
g) Bagaimana buku ini mempengaruhi pikiran atau pemahaman saya?
h) Apa yang saya sukai atau tidak sukai dari buku ini?
i) Bagian mana dalam buku ini yang menurut saya penting?
j) Bagian mana dalam buku ini yang pernah dibahas di buku lain?
k) Apakah bagian simpulan telah mencakup keseluruhan isi buku?
l) Apakah kritik dan saran yang saya kemukakan terhadap buku ini?
m) Apa maksud yang ingin disampaikan pembaca kepada pembaca seperti saya?

Strategi membaca efektif diharapkan dapat mewujudkan hasil-guna yang akan selalu terpateri dalam pikiran dan perasaan, menumbuhkembangkan karakter baik, dan meluaskan wawasan guru.

3. Menulis dan Menerbitkan Karya

Setelah menentukan ide yang tepat, mulailah untuk menjabarkan ide tersebut menjadi sebuah tulisan! Dalam hal ini ada beberapa poin yang perlu diperhatikan.
a. Jangan takut salah dalam menulis karena tulisan bisa diperbaiki, diperluas, dan diedit!
b. Membuat target menulis harian dengan penetapan batas minimal dan tetap fokus pada topik yang telah dipilih.
c. Jika menulis cerita, jembatan keledai ADIK SIMBA dapat digunakan sebagai patokan yang selayaknya ada secara alami. Oleh sebab itu, ADIK SIMBA yang merupakan singkatan/akronim dari “apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana” dapat digunakan untuk mereviu tulisan sendiri.

d. Jika menulis cerita, perlu ada fokus untuk membangun karakter. Dalam hal ini, plot dan situasi penyerta akan mengikutinya. Pembuatan peta konsep merupakan salah satu alternatif yang dapat membantu pengembangan plot.

e. Menulis di tempat yang tenang akan membuat kita menjadi lebih fokus. Jika menulis di keramaian atau restoran, mencari tempat di sudut akan lebih menyenangkan supaya tidak terganggu. Duduk di kursi menghadap sebuah buku tulis atau komputer akan mendorong kita menulis, baik lewat coretan tangan atau lewat ketukan di gawai atau komputer. Duduk di kursi atau di tempat mana pun akan membantu kita merealisasikan target harian.

f. Memanfaatkan forum penulis daring (dalam jaringan)_ atau pertemuan penulis lokal akan membantu mendapatkan masukan dan/atau ide.

g. Jika naskah telah siap, jangan ragu untuk memeriksa atau membacanya kembali. Pada dasarnya ini merupakan penyuntingan tahap I.

h. Sebelum masuk ke tahap selanjutnya, perlu ada orang lain yang membacanya untuk lebih menyempurnakan naskah tersebut. Keberadaan editor dimungkinkan.

i. Merevisi naskah berdasarkan masukan, wajib dilakukan.

j. Atak (layout) dapat dikerjakan oleh orang lain, penerbitan bisa dilakukan secara mandiri, sekolah, atau penerbit umum. Bahkan saat ini, penerbitan dapat dilakukan secara elektronik (e-book) yang dapat diunggah di laman pribadi, laman sekolah, atau di laman lainnya.

k. Pengurusan ISBN (International Series Book Number) dalam bentuk cetak atau e-book dapat diurus oleh penerbit/lembaga. Selain itu, buku dapat juga diuruskan HKI (hak kekayaan intelektual) untuk kategori Hak Cipta.

4. Prosedur PTK

PTK dilaksanakan oleh guru kelas dengan prosedur siklus, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi; begitu seterusnya sampai penelitian itu dirasakan sudah dapat memperbaiki pembelajaran. Dasar pelaksanaan PTK adalah adanya masalah dalam kelas yang bersifat klasikal. Beberapa isian berikut ini dapat membantu, misalnya:

Saya ingin memperbaiki ....;
Saya ingin mengubah ... karena ....;
Saya ingin mempelajari lebih banyak tentang ....;
Gagasan yang ingin saya ujicobakan di kelas saya adalah ....; 
Hal yang ingin saya lakukan adalah mengubah ...;
Saya sangat tertarik pada … .

Untuk yang terakhir ini, misalnya dapat diisi dengan: kemampuan siswa mengidentifikasi peta rendah, banyak siswa mengantuk saat pembelajaran; dst. Berdasarkan hal ini, guru kemudian mencari akar masalah mengapa kemampuan siswa rendah? Mengapa siswa mengantuk? Jika guru diibaratkan seperti dokter dan siswa sebagai pasien, akar masalah inilah yang perlu dicarikan solusi atau “obat”.

Dalam hal ini, perlu alternatif lebih dari satu “obat” yang kemudian disesuaikan dengan karakteristik siswa. “Obat” yang paling cocok dengan karakteristik siswa itulah yang dipilih. Oleh sebab itu, PTK dapat menampilkan hipotesis tindakan. Dalam hal ini, kriteria keberhasilan tindakan harus ditentukan sejak awal. Kriteria inilah yang akan menentukan apakah siklus dalam PTK masih terus berlangsung atau sudah cukup/berhenti karena sudah mencapai keberhasilan (Kisyani-Laksono dan Siswanto, 2017).

C. CONTOH PELAKSANAAN

1. Guru Sebagai Penggerak Literasi

Guru sebagai penggerak literasi melaksanakan program-program literasi dengan bersemangat. Beberapa sekolah menciptakan semangat dan gelora baru dalam gerakan literasi. Selain guru, kepala sekolah pun ikut menggelorakan semangat gerakan literasi dengan membuat berbagai program. Beberapa sekolah mulai merintis pojok baca di setiap kelas dan ruang sekolah, ada juga Program Limas (Literasi Margahayu Satu) dan banyak program literasi yang dilakukan di sekolah lain, program penulisan buku bagi guru dan siswa; gerobak baca di sekolah, taman baca yang terus berkembang di setiap sekolah, dll.

Selain program-program yang berkaitan dengan lingkungan fisik, program yang berkaitan dengan lingkungan sosial, afektif, dan lingkungan akademik juga semakin menebar. Kegiatan mendatangkan mobil perpustakaan keliling, wajib kunjung ke perpustakaan, beberapa penghargaan terkait kegiatan literasi, dan pembelajaran yang menggunakan strategi literasi sudah banyak dilakukan oleh sekolah.

2. Teladan Membaca: Pembiasaan Strategi Membaca
Guru yang telah melakukan strategi membaca efektif dapat menyebarkannya kepada para siswanya. Dalam hal ini—sebagai salah satu cara--dapat dibentuk kelompok-kelompok baca. Satu kelompok dapat terdiri atas 4—6 orang yang membaca buku yang sama dengan strategi membaca efektif yang diarahkan oleh guru. Setelah para anggota kelompok menyelesaikan bacaan mereka masing-masing, dilakukan diskusi dengan pancingan-pancingan kreatif (pertanyaan/arahan) guru. Dimungkinkan dari tiap kelompok akan memunculkan ide atau kreasi yang inovatif berdasarkan naskah yang telah dibaca.

Kelompok baca sekarang sudah mulai banyak terbentuk. Bahkan ada surat kabar yang ikut memopulerkan hal ini dengan membentuk kelompok baca yang berasal dari siswa beberapa sekolah. Satu buku dibaca, kemudian dibahas bersama sehingga pendapat bisa saling mengisi, diskusi menjadi hidup, dan para siswa akan menjalin komunitas dengan baik.

3. Teladan Menulis (Buku Guru yang Diterbitkan)

Guru yang baik tidak hanya akan meminta siswa menulis. Dia juga memberikan teladan dengan menulis karya. Berikut adalah contoh beberapa guru yang telah menerbitkan karya mereka lewat penerbit (cetak atau e-book) dan sekolah.

Cahyati, Elis. 2018. Jejak Sekolah Adiwiyata. Surabaya: CV Pustaka Media Guru. Kamila, Siti Sa’ariah. 2017. Calibels. Surabaya: CV Pustaka Media Guru.

Taruli, Aritonang. 2009. Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia untuk Tingkat SMP/MTs. Jakarta: Grasindo.

Taruli, Aritonang. 2016. Catatan Mengajar Seorang Guru (1) Mengajar Karakter dan Budaya Lewat Tulisan. Jakarta: SMPK 1 Penabur.

Taruli, Aritonang. 2018. Catatan Harian Guru: Mengubah Membaca dan Menulis Jadi Kegemaran. Yogyakarta: Andi (e-book).

Cahyaningtyas, Nuzuli, dkk. 2018. Angen-Angen Nganti Kangen. Kumpulan karya Guru dan Karyawan SMAN1 Gresik. Gresik: Perpustakaan SMAN I Gresik.

Contoh yang terakhir menunjukkan bahwa karyawan (tenaga kependidikan) di sekolah bisa juga menulis. Saat ini, banyak guru (termasuk kepala sekolah) yang sudah menerbitkan karya, memberi teladan, dan ikut mengoordinasikan supaya warga sekolah termasuk siswa ikut menerbitkan karya juga. Intinya, jika kita minta siswa mengerjakan sesuatu, seyogianya kita juga bisa mencontohkan hal tersebut. Kemampuan siswa yang akhirnya melejit melampaui kemampuan gurunya sangat diharapkan.

4. Garis Besar Proposal PTK

Salah satu hal penting yang perlu dilakukan guru adalah kemampuan menulis PTK. Selama ini mungkin guru telah melakukannya dalam pembelajaran, tetapi belum terbiasa untuk menuliskan apa yang dilakukannya. PTK sebenarnya berdasarkan pada masalah yang ada di kelas. Oleh sebab itu, hampir setiap guru bisa melaksanakannya. Hanya saja karena sifatnya konteksnya kelas, karakter siswa di kelas A mungkin berbeda dengan karakter siswa di kelas B, sehingga obat atau tindakan yang diperlukan untuk langkah solusi mungkin bisa juga berbeda.

PTK diawali dengan penulisan perencanaan/rancangan kerja atau lazim disebut proposal. Untuk berbagai keperluan, ada acuan pola (template) proposal yang harus diikuti. Akan tetapi, pada dasarnya proposal memuat berbagai hal yang sama. Berikut adalah salah satu alternatif garis besar proposal PTK.

JUDUL
A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang
2. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Hasil Penelitian

B. KAJIAN PUSTAKA
Subbab ini terkait dengan kajian penelitian sebelumnya yang relevan (tidak harus menjadi subbab tersendiri, bisa juga berbaur dengan subbab yang ada); kajian mengenai akar masalah; kajian mengenai obat/tindakan; kajian mengenai setting; indikator keberhasilan tindakan.

C. PROSEDUR
Subbab ini terkait dengan sumber data; penyediaan/pengambilan data; PTK dengan siklusnya; analisis data termasuk diskusi hasil analisis

D. JADWAL

E. BIAYA (optional )

F. DAFTAR PUSTAKA

G. PERSONALIA

H. LAMPIRAN

Contoh Judul:

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARYA ILMIAH SISWA KELAS XII SMA BERKIBAR MELALUI KOREKSI BERPASANGAN

Upaya : peningkatan
Akar masalah : keterampilan menulis karya ilmiah
Obat/tindakan : koreksi berpasangan
Setting : Siswa kelas XII SMA Berkibar

Rumusan Masalah
Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis siswa kelas XII SMAN Berkibar melalui koreksi berpasangan?

Tujuan
Menghasilkan deskripsi peningkatan keterampilan menulis siswa kelas XII SMA Berkibar melalui koreksi berpasangan

Indikator Keberhasilan Tindakan (Tercapainya Tujuan)(1) Siswa aktif melakukan koreksi berpasangan.
(2) Siswa aktif mendiskusikan hasil koreksi secara berpasangan.
(3) Siswa memperbaiki tulisan sehingga tidak ada kesalahan penulisan/pengetikan, tidak ada kesalahan penulisan sistematika penomoran, dan semua daftar pustaka sesuai dengan catatan pustaka.

Proposal inilah yang kemudian dijadikan dasar pelaksanaan PTK. Adapun pelaksanaan PTK dengan berbagai hasil analisisnya dituangkan ke dalam suatu laporan pelaksanaan. Akan lebih bagus lagi jika laporan itu dapat diubah menjadi artikel untuk dikirimkan dalam ke jurnal tertentu. Adapun aturan mengenai pola acuan (template) untuk proposal, laporan, dan/atau artikel mengikuti template yang diberlakukan oleh sekolah atau jurnal yang dituju.


III. PENUTUP

Manual GLS ini dibuat untuk menyempurnakan kegiatan literasi di sekolah. Dalam hal ini peran guru sebagai penggerak literasi dan sebagai teladan pada Abad XXI semakin diperlukan. Kontribusi guru sebagai penggerak literasi dan keteladanan bukan hanya akan berdampak pada hasil belajar siswa, tetapi juga akan semakin mendorong siswa mewujudkan kecakapan hidup Abad XXI: meningkatkan kemampuan literasi siswa, menguatkan karakter, dan mengembangkan kompetensi siswa sebagai masyarakat global di abad ke-21.

Manual ini diharapkan dapat membantu menumbuhkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah dengan kreatif, mampu berkolaborasi, dan berkomunikasi dengan baik. Semoga manual ini--sebagai salah satu manual dari berbagai manual yang ada--dapat diimplementasikan dengan optimal oleh warga sekolah, terutama, untuk membumikan penerapan enam literasi dasar disertai keteladanan, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, literasi sains, finansial, digital, serta literasi budaya dan kewargaan.

    Download Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi



    Download File:
    Download Buku Seri Manual GLS: Guru sebagai Teladan Literasi.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi. Semoga bisa bermanfaat.

    Belum ada Komentar untuk "Buku Seri Manual GLS Guru sebagai Teladan Literasi"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel