Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia (SDM) "Tol Langit"

Berikut ini adalah berkas Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia (SDM) "Tol Langit". Buku ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan  Menengah Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan. Download file format PDF.

Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia "Tol Langit"
Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia "Tol Langit"

Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia "Tol Langit"

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia  (SDM) "Tol Langit":

Ketentuan Pendidikan diatur sejak lama dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Tepatnya terdapat pada Pasal 31 yang kemudian mengalami beberapa kali amandemen. Jika ketentuan UUD 1945 dicermati --baik sebelum amandemen maupun setelah amandemen-- maka mendapatkan pendidikan merupakan hak asasi bagi setiap warga Indonesia sekaligus merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh pemerintah. Sebaliknya, menghalangi dan melarang anak Indonesia untuk bersekolah adalah perbuatan yang melanggar hukum tertinggi (UUD 1945) dan ada sanksinya.

Salah satu yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan ikhtiar tersebut, UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) menyatakan bahwa: "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan". Ketentuan dalam ayat (1) tersebut menegaskan kewajiban pemerintah untuk menyediakan akses seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tidak hanya sebatas akses namun juga kualitas pendidikan guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya saing tinggi juga terus menjadi prioritas.

Pemerintah juga menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Revitalisasi SMK. Hal ini dilakukan pemerintah utamanya untuk meningkatkan daya saing Sumber di dunia usaha dan dunia industri (DUDI) diaharapkan semakin baik dan meningkat.

Teknologi informasi yang berkembang pesat menuntut Indonesia harus cepat beradaptasi terhadap tuntutan percepatan dan perubahan zaman. Tidak berhenti sampai di situ menyongsong revolusi industri 4.0 industri sudah harus efisiensi dengan memilih tenaga kerja terbaik untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil industri. Dalam arti kehadiran tenaga asing dan modernisasi/otomasi dalam rangka memperkuat industri yang ada di Indonesia tidak bisa dipungkiri. Dengan demikian berbagai perbaikan dan perubahan untuk penyempurnaan kurikulum SMK terus dilakukan. Saat ini kurikulum SMK sudah sangat fleksibel dan dapat dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan/keinginan dunia usaha dan dunia industri.

Program link and match dengan DUDI diperkuat, termasuk didalamnya penguatan pendidikan dengan masuknya revolusi industri 4.0. Dimana sejak beberapa tahun terakhir SMK memang sudah diperkenalkan pendidikan berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dengan demikian SMK sudah ikut membantu dunia usaha dan industri yang sudah mengikuti era revolusi 4.0 yang penekanannya pada penggunaan internet of Thing (IoT) Cloud dan lainnya.

Berkaitan dengan hal itu Direktorat Pembinaan SMK sangat mendukung penerbitan buku “SMK Dukung SDM TOL Langit” dengan harapan dapat mendukung keberhasilan pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia dan sebagai katalisator dalam penguatan dan peningkatan kualitas lulusan SMK yang tersebar di seluruh Indonesia.

Definisi Tol Langit

Istilah ‘Tol Langit’ belakangan menjadi perbincangan publik. Tepatnya kali pertama disampaikan KH Ma’ruf Amin kala masih menjadi calon wakil presiden 01 pada bulan Februari 2019 lalu. Ketika menjadi pembicara di hadapan relawan Gerakan Indonesia Maju yang dibentuk Institut Lembang Sembilan, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu 24 Februari 2019, KH Ma’ruf Amin memuji pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan di Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Periode 2014-2019). Menurut KH Ma’ruf Amin, Jokowi tidak hanya membangun infrastruktur di darat dan laut tetapi juga di langit atau istilahnya ‘Tol langit’. “Yang luar biasa lagi kita sudah memiliki investasi infrastruktur yang hebat. Tidak saja tol darat, tol laut, tol udara, tetapi saya sebutnya juga tol langit. Yaitu namanya yang kita gunakan untuk digital,” ujar Ma’ruf.

Disamping menyinggung soal ‘Tol Langit, KH Ma’ruf Amin juga menyebut istilah Unicorn. Pasalnya, infrastruktur digital itu membantu melahirkan perusahaan- perusahaan Unicorn baru. Sebab infrastruktur ini dibuat demi jaringan telekomunikasi dan internet yang berkualitas. “Insya Allah, ke depan lahir juga perusahaan start- up - start-up (perusahaan rintisan) yang tumbuh karena digitalisasi tersedia infrastrukturnya. Nantinya lahir lagi Unicorn yang baru di Indonesia,” kata KH Ma’ruf Amin. Istilah Unicorn sering digunakan untuk mengategorikan perusahaan rintisan atau start-up dengan valuasi 1 miliar dollar AS. Dengan valuasi yang cukup besar itu, ada empat perusahaan rintisan Indonesia yang dianggap sebagai Unicorn. Empat perusahaan itu adalah Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Go-Jek. Presiden Joko Widodo yang juga Calon Presiden Capres (Capres) 01 --selama ajang kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) Periode 2019-2024-- juga pernah menyinggung infrastruktur digital ini dalam kesempatan debat kedua. Jokowi menyinggung upaya pemerintah membangun proyek jaringan serat optik di seluruh wilayah Indonesia, yaitu Palapa Ring. “Kita bangun Palapa Ring, ini tersambungnya backbone (tulang punggung) dengan broadband kecepatan tinggi, di Indonesia Barat kita 100 persen, di Indonesia Tengah selesai 100 persen, dan Indonesia Timur akan kita selesaikan,” kata Joko Widodo.

Sebenarnya, istilah ‘Tol Langit’ disinggung KH Ma’ruf Amin sudah diperbincangkan sejak dua tahun lalu, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kementerian Kominfo) menjalin kerjasama berupa penggunaan jaringan internet untuk akses pendidikan. Kerjasama tersebut merupakan komitmen Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam memajukan dunia pendidikan melalui kemudahan semua sekolah serta siswa dan guru untuk mengakses internet sebagai sarana pendidikan sekaligus membangun infrastruktur internet di daerah-daerah terpencil, terluar dan jauh dari kawasan perkotaan.

Di era pemerintahannya periode tahun 2014 hingga 2019, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memang gencar melakukan pembangunan berbagai infrastruktur. Mulai dari infrastruktur yang terlihat seperti di darat berupa pembangunan jalan tol (baru atau melanjutkan proyek lama), jalur kereta api (baru atau pemeliharaan), bandara, pelabuhan, bendungan, maupun infrastruktur lainnya. Pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur tersebut untuk meningkatkan daya saing nasional dan pemerataan hasil pembangunan, sekaligus mengurangi disparitas antar wilayah.

Disamping dikenal Tol Darat (jalan darat bebas hambatan), pemerintah juga gencar membangun jaringan Tol Laut. Tol Laut merupakan konsep pengangkutan logistik dengan menggunakan kapal-kapal yang bermuatan besar yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar di seluruh Nusantara. Tujuannya harga-harga barang dan jasa yang didistribusikan bisa menjadi lebih murah, cepat dikirim dan masih segar karena sistemnya sekali angkut/pengiriman. Keuntungan lain, mobilisasi manusia dan barang akan semakin lebih cepat dari suatu daerah ke daerah lain. Namun, dalam beberapa bulan terakhir atau Semester I 2019 muncul istilah asing --meski sebenarnya sudah lama diperkenalkan--, yakni ‘Tol Langit’. Sebuah konsep ‘tol’ yang ditujukan untuk memperlancar sistem komunikasi di seluruh daerah Indonesia. Sebenarnya, konsep ‘Tol Langit’ tentu bukan seperti jalan tol yang berada di langit. ‘Tol Langit’ merupakan kelanjutan dari adanya tol laut (kapal laut/kapal motor) dengan udara (moda pesawat terbang). ‘Tol Langit’ ini merupakan sebuah istilah yang dimaksudkan  karena kehadiran sinyal telepon dan internet ke berbagai pelosok negeri, terutama Indonesia bagian timur. Sehingga dari satu daerah dengan antar daerah lain di Indonesia bisa saling berkomunikasi secara cepat dan efektif dengan menggunakan infrastruktur telekomunikasi.

Pemerintah menemukan fakta yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2015, dari 514 kabupaten dan kota, ternyata baru ditemukan 400 daerah yang baru terjangkau dengan jaringan serat optik. Sehingga ada 114 daerah yang belum terjangkau. Dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tercatat sebanyak 214 ribu jumlah sekolah di seluruh Indonesia. Akan tetapi, sebanyak 8 ribu hingga 10 ribu sekolah belum terhubung dengan jaringan internet. Sejumlah madrasah, pesantren, puskesmas dan fasilitas lainnya juga banyak yang belum terakses internet. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Indonesia kemudian mengajak para operator untuk membagi tugas dalam pembangunan tersebut. Intinya, istilah ‘Tol Langit’ ini ditujukan untuk infrastruktur telekomunikasi, khususnya yang berkaitan dengan internet.

Presiden Samsung Research America, Farooq Khan, pernah menulis sebuah proposal pada tahun 2015. Proposal tersebut berjudul “Mobile Internet from the Heavens” atau diterjemahkan secara bebas menjadi “Internet Bergerak dari Surga” atau “Internet Bergerak dari Langit”. Artikel yang membahas tentang space internet tersebut mengandung hal teknis dalam hal teknologi telekomunikasi. Kesimpulan artikel tersebut yakni bahwa teknologi space internet atau internet angkasa atau internet langit akan memberikan layanan internet yang lebih terjangkau bagi setiap orang di muka bumi lewat penggunaan satelit mikro murah.

Menariknya, kendati substansi artikel adalah tentang iptek, namun judulnya dibuat simpel dan tidak ada satu pun menyebut sosok malaikat atau menyinggung Kitab Suci dari agama manapun. Dengan demikian, konsep Tol Langit atau infrastruktur langit yang diajukan Bapak Joko Widodo serta KH Ma’ruf Amin merupakan teknologi serupa yang ditransmisikan lewat infrastruktur kabel serat optik dengan panjang kabel bawah laut mencapai 35.280 km dan kabel di darat yang terbentang sepanjang 21.807 km (Sumber: Majalah Gatra).

    Download Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia "Tol Langit"

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia  (SDM) "Tol Langit" ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:




    Download File:
    Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia "Tol Langit".pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia  (SDM) "Tol Langit". Semoga bisa bermanfaat.

    Belum ada Komentar untuk "Buku SMK Dukung Sumber Daya Manusia (SDM) "Tol Langit""

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel