Buku Usaha Ternak Itik

Berikut ini adalah berkas Buku Usaha Ternak Itik. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Tahun 2009. Download file format PDF.

Buku Usaha Ternak Itik
Buku Usaha Ternak Itik

Buku Usaha Ternak Itik

Berikut ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas Buku Usaha Ternak Itik:

KATA PENGANTAR

Usahatani ternak itik cukup berkembang di Kalimantan Selatan. Nilai ekonomi ternak tersebut meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan daging dan telur. Peningkatan tersebut tentu harus diikuti oleh peningkatan produksi. Peningkatan produksi bisa dicapai jika didukung oleh biaya yang cukup dan upaya yang ulet dari petani peternak itu sendiri.

Sebagian peternak di Kalimantan Selatan masih ada yang menerapkan pola pemeliharaan itik secara tradisional/ekstensif yang sepenuhnya tergantung pada alam, padahal sistem pemeliharaan itik dengan cara semi intensif dan intensif dapat meningkatkan produksi telur 14 - 17,5 % dibandingkan dengan cara pemeliharaan tradisional.

Brosur ini berisi petunjuk teknis tentang Cara Beternak Itik Semi Intensif dan Intensif. Adanya brosur ini diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi para penyuluh dan petugas di lapangan yang selanjutnya dapat menyampaikan kepada petani peternak sehingga dapat dicapai produksi yang optimal dengan keuntungan yang layak.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
I. PENDAHULUAN
II. BIBIT
III. PERKANDANGAN
1. Pemilihan Lokasi
2. Bahan Kandang
3. Persyaratan Kandang
4. Luas dan Daya Tampung Kandang
5. Perlengkapan Kandang 
IV. PAKAN
1. Kebutuhan Gizi dan Ransum yang Memenuhi Persyaratan
2. Keperluan (Jumlah) Pakan
3. Alat yang dibutuhkan dan Cara Pembuatan
4. Beberapa Masalah dalam Penyusunan Pakan
V. TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
1. Tata laksana Anak Itik
2. Tata laksana Itik Masa Pertumbuhan
3. Tata Laksana Itik Masa Dewasa
4. Tata Laksana Itik Masa Bertelur
VI. PANEN DAN PEMASARAN
1. Pola dan Cara Panen
2. Strategi Pemasaran 
VII. PENYAKIT 
1. Mata Memutih (White Eye
2. Salmonella (Parathypus
3. Botulismus 
4. Lumpuh 
VIII. ANALISA USAHA 
1. Analisa Usaha Itik Petelur
2. Analisa Usaha Itik Pejantan
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN

Itik merupakan salah satu jenis unggas yang banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan. Salah satu itik lokal yang cukup dikenal dan berpotensi adalah itik Alabio (Anas platyrhincos Borneo) yang banyak dipelihara dan dibudidayakan masyarakat di daerah Kalimantan Selatan. Itik Alabio yang diusahakan utamanya berperan sebagai penghasil telur baik telur tetas maupun telur konsumsi dan daging.

Itik sebagai ternak unggas punya peranan penting sebagai penyedia protein hewani yang murah dan mudah didapat. Itik cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut terutama untuk itik pejantan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sebagai bahan untuk pemenuhan gizi berupa daging yang berasal dari unggas yang hingga saat ini masih didominasi oleh broiler.

Kandungan lemak yang tinggi pada daging ayam ras terutama bagian paha yang mencapai 6,80% menjadi momok bagi penderita hipertensi dan penderita jantung karena dianggap mengandung kolesterol tinggi, sementara kandungan lemak paha itik hanya 4,40%. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat setidaknya terjadi pergeseran pola konsumsi daging unggas dari ayam ras ke itik.
Keberhasilan dalam usaha ternak itik sangat ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu bibit (breeding), pakan (feeding) dan Tatalaksana pemeliharaan (management) serta satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu kemampuan memasarkan hasil (marketing) secara baik dan efisien (Samosir, 1993).

Ternak itik akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika didukung oleh pakan yang cukup kuantitas (jumlah) dan kualitasnya (kandungan gizinya) serta tata laksana pemeliharaan yang memenuhi persyaratan teknis. Selama masa pemeliharaan, sanitasi lingkungan perlu diperhatikan seperti membersihkan, mengapur kandang, mencuci peralatan dan melakukan disinfeksi secara teratur (Syamsudin, 1992). Selain itu perlu pula dilakukan vaksinasi untuk memperoleh kekebalan buatan sehingga ternak mampu melindungi serangan penyakit. 

II. BIBIT

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit antara lain asal-usul bibit, penampilan/kenampakan dan kesehatan bibit, berasal dari induk yang berproduksi tinggi, memiliki daya tetas yang tinggi dan memiliki daya tahan hidup yang baik.

Bibit atau calon bibit yang berkualitas baik tentunya memiliki ciri- ciri sebagai berikut :
1. Calon Bibit/Anak
Sehat, ditunjukkan oleh perangainya yang lincah dan tidak cacat. Matanya bening dan bercahaya, bagian rongga perut terasa lembut tetapi kenyal, pusar kering, kaki nampak kokoh, bulu halus, lembut dan merata menutup tubuh.
2. Itik Dara Siap Bertelur
Sehat dan tidak cacat, matanya bulat dan cerah, bulu mengkilat seperti berminyak, dubur halus, lembut, berminyak dan tidak keriput.
3. Calon Induk Petelur
Sama dengan itik dara siap bertelur (sehat dll), sudah berumur 5 – 6 bulan, produktifitasnya tinggi menurut catatan harian, bentuk badan bulat dan bidang perutnya luas.
4. Calon Pejantan
Sehat dan tidak cacat, sudah berumur 10 – 15 bulan, kepala tidak terlalu besar, tetapi lebih besar dari kepala itik betina, matanya bulat dan cerah, bulu mengkilat seperti berminyak, tidak lengket atau kering, bentuk badan memanjang dan dadanya tegak.

III. PERKANDANGAN

Dalam usaha ternak itik, agar diperoleh hasil yang baik dan keuntungan yang optimal tentu memerlukan upaya yang maksimal antara lain : disamping makanan yang cukup kandungan nutrisi/gizi dan jumlahnya, perlu pula menyediakan kandang yang memenuhi persyaratan.

Beternak itik dengan cara dikandangkan (dikurung) merupakan pemeliharaan intensif yang banyak memiliki keuntungan, seperti : lahan yang diperlukan tidak terlalu luas, dapat memelihara ternak dalam jumlah yang banyak dengan pengawasan dan penanganan yang lebih mudah, tidak tergantung musim, produksi dapat maksimal dan kotoran ternak dapat dimanfaatkan.

Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan untuk membuat kandang itik supaya berfungsi optimal, yaitu pemilihan lokasi yang tepat, bahan kandang kuat dan murah serta perlengkapan kandang yang sesuai keperluan.

1. Pemilihan Lokasi
Sebelum membuka usaha untuk beternak itik, hendaknya lokasi dan lingkungan kandang perlu diperhatikan. Lokasi yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Mendapat sinar matahari yang cukup dan sirkulasi udara yang baik
  • Tidak becek/lembab
  • Dekat dengan sumber air
  • Jauh dari kebisingan/ribut
  • Transportasi mudah dijangkau
2. Bahan Kandang
Bahan yang diperlukan untuk membuat kandang, tidak harus menggunakan bahan yang mahal dan modern tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan peternak, semurah mungkin namun kuat dan berdaya guna. Bahan yang cukup sederhana dan umum digunakan petani terdiri dari :
  • Tiang dari kayu galam
  • Lantai dan dinding dari bambu
  • Atap dari daun rumbia atau kajang
  • Kandang yang terbuat dari bahan-bahan tersebut biasanya tahan selama 1 – 4 tahun dengan beberapa perbaikan bila diperlukan.
3. Persyaratan Kandang
Ada beberapa persyaratan supaya kandang menjadi sehat dan nyaman, yaitu :
  • Tinggi kandang dari tanah sampai ke atap antara 1,5 – 2 meter
  • Kandang hendaknya diberi sekat/petak
  • Sebaiknya kandang dilengkapi dengan tempat umbaran
4. Luas dan daya tampung kandang
Luas kandang harus disesuaikan dengan jumlah dan umur itik yang dipelihara. Patokan luas kandang yang diperlukan adalah sebagai berikut :
  • Itik dewasa (> 6 bulan), 4 – 5 ekor/m2
  • Itik dara (2 – 6 bulan), 5 – 10 ekor/m2
5. Perlengkapan Kandang
Untuk kenyamanan dan kesehatan ternak yang dipelihara, maka perlengkapan kandang mutlak diperlukan. Perlengkapan tersebut antara lain berupa :
Alat pemanas (Lampu petromak/listrik))
  • Tempat pakan dan minum yang bersih/hygienis
  • Tempat bertelur

Apabila semua persyaratan kandang terpenuhi, tentu akan dicapai produksi yang optimal dan keuntungan yang memadai.

IV. PAKAN

Pakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan usahatani itik. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun pakan diantaranya :
  1. Bahan pakan harus selalu tersedia (secara berkesinambungan), mudah diperoleh dan harganya relatif murah
  2. Bahan pakan harus berkualitas, artinya tidak rusak dan mengandung zat gizi yang dibutuhkan serta tidak mengandung toksik/racun
  3. Peternak mempunyai kemampuan mengelola dan menyusun pakan d. Pakan harus sesuai dengan jenis, umur dan tujuan beternak.
Terdapat perbedaan pemberian pakan antara itik jantan dan betina, antara itik dengan umur yang berbeda, dan tujuan beternak (untuk penghasil telur konsumsi, telur tetas dan atau penghasil daging).

Kebutuhan Gizi dan Ransum yang Memenuhi Persyaratan

Kecukupan gizi dapat dipenuhi dari campuran berbagai jenis bahan pakan. 

Cara Pemberian dan Pembuatan Pakan

Cara pemberian pakan yang banyak digunakan peternak skala kecil adalah membuat campuran bahan pakan sendiri. Cara ini membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, tetapi dapat mengurangi biaya, karena bahan yang digunakan murah dan mudah diperoleh di lingkungan peternak. Bahan-bahan tersebut misalnya keong, ikan, rumbia/sagu (paya).

Cara pembuatan pakan adalah bahan pakan dicincang/diparut menjadi potongan kecil-kecil, selanjutnya dicampur dengan bahan pakan lain yang bertekstur lebih halus (seperti dedak dll). Campuran harus merata, diberi air, diaduk dan siap disajikan.

Meskipun pakan buatan sendiri harganya lebih murah (kurang dari Rp 3.000,-/Kg), namun nilai gizinya tidak kalah dengan pakan buatan pabrik (komersial) yang harganya mencapai Rp 5.500,-/Kg.

Alat yang Dibutuhkan dan Cara Pembuatan

Bila bahan yang akan digunakan untuk membuat pakan sudah diperoleh dan tersedia serta sudah disesuaikan dengan komposisi yang dibutuhkan, pekerjaan selanjutnya adalah menyediakan alat- alat/peralatan. Alat yang diperlukan untuk menyusun pakan secara sederhana adalah sekop, tempat mengaduk, alat pencincang dan karung. 

Bahan pakan yang digunakan diaduk atau dicampur secara merata. Pencampuran dapat dilakukan dari bahan pakan yang sedikit misalnya mineral dicampur dengan ikan sehingga dihasilkan campuran pakan yang lebih banyak. Campuran ini kemudian dicampur lagi dengan bahan pakan lain yang jumlahnya lebih besar sehingga akan dihasilkan campuran yang lebih banyak lagi, demikian seterusnya sampai semua bahan pakan habis dan tercampur rata.

Cara Pemberian Pakan

Dengan semakin meningkatnya pemeliharaan ternak itik secara terkurung, maka pengetahuan dan keterampilan tentang penyusunan pakan dan pemberiannya sangat diperlukan. Untuk membuat pakan yang baik maka diperlukan beberapa pengetahuan seperti : pengetahuan tentang bahan pakan (kandungan gizi, adanya faktor pembatas atau anti nutrisi, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas bahan), kebutuhan gizi/nutrisi ternak sesuai dengan umur fisiologis atau tingkat produksi, teknik menghitung dan komputerisasi serta teknik yang berhubungan dengan penyusunan pakan (Sinurat, 1999).

Selanjutnya dari segi cara pemberian pakan untuk itik dikenal lima cara yaitu : cara gembala, mesh kering, mesh basah, campuran pakan sendiri dan pellet (Setioko, 1997). Cara gembala, yaitu pemberian itik dilepas di sawah, rawa-rawa, selokan-selokan serta saluran irigasi untuk mencari pakan sendiri. Peternak kadang-kadang memberikan pakan tambahan berupa dedak, sagu atau bahan pakan lain yang ada di lokasi setempat.

Cara pemberian pakan mesh kering, tidak disarankan dan jarang dilakukan peternak karena memiliki kelemahan yaitu banyak pakan yang terbuang, itik mengalami kesulitan untuk menelan pakan apalagi ternak itik mempunyai kebiasaan untuk minum atau membersihkan mulut setelah makan sehingga banyak pakan yang tercecer di tempat minum.

Cara pemberian pakan mesh basah banyak dilakukan oleh peternak karena mudah dan memberikan keuntungan yaitu tidak banyak pakan yang terbuang atau tercecer. Caranya adalah dengan mencampur pakan dan air minum secukupnya sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang agak basah. Pemberian air sebaiknya tidak terlalu banyak agar pakan tidak terlalu basah yang menyebabkan pakan mudah rusak dan bila tidak habis dapat tumbuh jamur yang berbahaya bagi itik. Tempat pakan dan minum harus selalu dibersihkan/dicuci untuk menghindari tumbuhnya jamur. Namun cara ini dinilai kurang praktis bila ternak itik yang dipelihara jumlahnya banyak.

Cara pemberian pakan dengan mencampur bahan pakan banyak dilakukan peternak dengan skala kecil. Bahan pakan dicincang menjadi potongan kecil-kecil dan dicampur dengan bahan pakan lain untuk ransum itik. Cara ini membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, tetapi dapat mengurangi biaya pakan karena bahan yang digunakan murah dan mudah diperoleh di lingkungan peternakan itik. Dalam cara ini yang perlu diperhatikan adalah cara menyusun pakan dimana harus homogen dan merata.

Beberapa Masalah dalam Penyusunan Pakan

Untuk memperoleh pakan yang paling baik (cukup gizi dan harga murah), maka formula harus diubah sesuai dengan perkembangan harga dan ketersediaan bahan. Namun perubahan yang dilakukan tidak drastis dan mendadak, karena hal ini akan mempengaruhi produksi, perubahan dapat dilakukan secara bertahap. Hal ini membutuhkan pengetahuan ilmu nutrisi dan perhitungan. Untuk itu, kerjasama antara petugas peternakan yang mengerti dalam penyusunan pakan dengan peternak mutlak diperlukan. Dengan demikian, petugas peternakan juga harus dilengkapi dengan pengetahuan dan peralatan untuk itu (Sinurat, 1999).

Permasalahan lain yang sering dijumpai di lapangan adalah penampilan produksi ternak yang kurang memuaskan, meskipun peternak sudah mengikuti formula pakan yang disarankan. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah ini diantaranya: pencampuran pakan yang tidak baik (tidak merata), kualitas bahan yang digunakan tidak baik atau tidak sesuai dengan perhitungan dan mutu bibit (keadaan genetik) itik yang bersangkutan. 

V. TATALAKSANA PEMELIHARAAN

Produksi telur itik Alabio mencapai 220-250 butir per tahun. Sedangkan produksi daging umur 8 minggu mencapai rata-rata 1,3 kg per ekor. Pencapaian produksi tersebut tentunya didukung dengan tata laksana yang baik yaitu bagaimana peternak memperlakukan ternak itik tersebut semenjak kecil, masa pertumbuhan, dewasa sampai itik bertelur.

1. Tata Laksana Anak Itik
Dalam tata laksana anak itik yang perlu diperhatikan antara lain adalah persiapan sebelum anak itik tiba. Hal ini sangat penting mengingat berhasil atau tidaknya membesarkan anak itik tergantung pada masa persiapan yaitu antara lain adanya indukan, tempat makan, tempat minum dan pagar pelindung.

Untuk memudahkan tata laksana tahap ini dapat mengikuti program sebagai berikut :

a. Minggu Pertama (hari ke1– 7)
Temperatur indukan 29 - 32° C, dipasang siang dan malam Makanan diberikan 4 x sehari. Dua hari pertama di atas Koran dan berikutnya di atas bak makanan, berikan makanan dalam bentuk tepung atau butiran pecah kecil Perhatikan jumlah tempat makan dan minum apakah sudah cukup dengan jumlah itik yang dipelihara Jangan lupa pagar pembatas yang mengelilingi indukan setinggi 40 cm. Anak itik/DOD dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah vitamin dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor itik. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumble) yang ditebar dalam tempat pakan berbentuk datar (baki/nyiru).

b. Minggu Kedua (hari ke 8 – 14)
  • Temperatur indukan disesuaikan lagi, hanya dipasang pada malam hari
  • Sesuaikan luas lantai, dan pagar perlu diperlebar lagi
  • Sesuaikan lagi tempat makan dan minum
  • Air minum jangan sampai kosong, terutama pada siang hari
  • Sekam alas yang basah harus diganti
  • Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 40 gr per ekor atau 4 kg untuk 100 ekor itik.
c. Minggu Ketiga (hari ke 15 – 21)
  • Pemanasan tidak perlu, indukan dikeluarkan
  • Sesuaikan lagi luas lantai, jumlah tempat makan dan minum 
  • Anak itik yang terlalu kecil sebaiknya dipisahkan
  • Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 60 gr per ekor atau 6 kg untuk 100 ekor.
d. Minggu keempat dan Kelima (hari ke 22 – 35)
  • Sesuaikan luas lantai dan jumlah tempat makan dan minum
  • Lakukan pemisahan antara jantan dan betina
  • Perhatikan kesehatan anak itik, yang tidak baik dan cacat dapat dikeluarkan.
  • Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu itik sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan penimbangan berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan itik. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan minimal 774,5 Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor itik.
  • Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Apabila jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor itik. Pada umur 35 hari juga dilakukan penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 950 g – 1 kg.
e. Minggu Keenam (hari ke 36 – 42)
  • Merupakan masa awal bagi anak itik
  • Mulai pergantian ransum ke ransum itik remaja
  • Untuk mengetahui pemanasan/indukan yang diberikan cukup atau belum adalah dengan cara memperhatikan gerak-gerik anak itik (pada waktu tidak diberi makanan). Kalau panasnya kurang, itik berdesak-desakan sekitar lampu (sumber panas). Terlalu panas anak itik menjauhi sumber panas menempel pada dinding kandang atau kotak, panasnya sedang (cukup) anak itik menyebar merata.
  • Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, itik sudah mencapai bobot 1,211,8 kg, dengan jumlah pakan yang diberikan sebesar 102 gr per ekor per hari. Pada umur enam minggu itik sudah bisa dijual/dipotong, tetapi sebagian konsumen menginginkan bobot badannya yang lebih besar sampai bobotnya berkisar antara 1,4 – 1,6 kg, ini bisa dicapai pada umur 7 – 8 minggu dengan kebutuhan pakan sebesar 117 – 125 gr per ekor per hari.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Anak-anak itik yang kelihatan kurang gesit memperebutkan makanan, segera dipisahkan, apabila tidak dipisahkan akan terus menerus “kalah” dengan kawan-kawannya berakibat pertumbuhannya terhambat.
b. Apabila terlihat diantara anak-anak itik, setiap akan mengambil makanan menggeleng-gelengkan kepalanya segera ambil dan dibuka mulutnya. Kemungkinan terdapat gumpalan makanan yang melekat di bagian atas mulutnya, dan gumpalan makanan segera dibuang.
c. Apabila anak itik mulai terlihat tidak memperebutkan makanan lagi (hanya tinggal diam), segera sisa makanan diambil dan alas lantai diganti dengan yang baru (kering)

2. Tata Laksana Itik Masa Pertumbuhan
a. Pemberian Makan dan Minum
Pada masa pertumbuhan ini pemberian ransum perlu mendapat perhatian. Pemberian ransum yang tidak terbatas (ad-libitum) akan berakibat tingkat kedewasaan kelamin terlalu cepat, tidak seimbang dengan pertumbuhan tubuh. Hal ini akan berakibat telur-telur pertama yang dihasilkan kecil. Sebaliknya pertumbuhan yang lambat pun akan merugikan, karena terlambat mulai bertelurnya. Sampai umur 3 bulan pemberian makanan tetap 3 x sehari (pagi, siang dan sore). Kemudian cukup diberikan 2 x sehari (pagi dan sore). Pada siang hari diberikan makanan hijau (daun-daunan) yang dipotong-potong kecil secukupnya. Air minum tetap tersedia sepanjang waktu dan dijaga, bilamana sudah kotor segera diganti.
b. Pemisahan dan Perluasan Tempat.
Kelompok itik terus menerus-menerus diawasi. Itik yang nampaknya kurang gesit (lincah) atau pertumbuhannya terlambat, dipisahkan dari kelompok dan dikumpulkan dengan yang agak sama besarnya. Luas lantai setiap minggu diperluas dengan memindah-mindahkan sekat, sesuai dengan patokan daya tampung.
c. Pemberian Cahaya
Pada cuaca mendung atau malam hari, sebaiknya kandang diberi penerangan atau lampu. Menurut penelitian itik dara membutuhkan penerangan sekitar 10 jam sehari. 

3. Tata Laksana Itik Masa Dewasa
  • Berat tubuh itik pada umur 5 bulan menjelang masa bertelur sebaiknya sekitar 1,4 kg. Keadaan ini dapat tercapai dengan pemberian ransum yang tepat.
  • Waktu pemberian ransum tetap tidak berubah-ubah, demikian pula jenis ransum yang diberikan. Apabila menggunakan ransum produksi pabrik, diusahakan tidak berubah-ubah pabrik pengolahnya. Demikian pula jika akan mengolah sendiri, susunan bahan-bahannya tidak berubah-ubah.
  • Ransum yang akan diberikan sedikit dibasahi. Hal ini sehubungan dengan cara makan itik tidak sama dengan ayam. Kerap kali mengibaskan paruhnya, sehingga makanan yang kering mudah terhambur. Demikian juga jika diberikan dalam bentuk kering, ransum banyak yang terbuang ke tempat air minum. Karena pada saat makanan masih berada di paruhnya, itik akan segera pindah ke air minum untuk membasahi makanannya, sehingga sebagian makanan larut dalam air minum.
  • Air minum disediakan cukup banyak dan ditempatkan tidak terlalu jauh dari tempat makan. Setiap kali setelah mengambil makanan, itik akan ke tempat air minum untuk menghirup air sebagian ditelan dan sebagian lagi dikeluarkan kembali dari samping paruhnya.
  • Apabila itik telah meninggalkan makanan, segera sisa makanan diambil untuk tetap menjaga nafsu makan pada waktu makan berikutnya. Makanan diberikan 2 x sehari (pagi dan sore). Pada siang hari diberikan hijauan berupa kangkung, bayam dan lain-lain yang diiris kecil-kecil. Jangan membiasakan memberi makanan tambahan (umpama sisa dapur, nasi dan sebagainya) tidak pada waktu makan yang telah ditetapkan.

4. Tata Laksana Itik Masa Bertelur
Rata-rata itik mulai bertelur pada umur 5,5 - 6 bulan. Lamanya bertelur sekitar 8 - 9 bulan, kemudian mengalami masa istirahat (luruh bulu) sekitar 3 - 3,5 bulan, baru bertelur kembali. Pada masa ini sangat penting diperhatikan pemberian makan dan minum. Kesalahan kecil seperti jumlah ransum yang berkurang, jenis atau kualitas yang berubah atau waktu pemberian makan tidak tepat waktunya, akan berakibat berkurangnya produksi. Produksi dijaga tetap sekitar 70% dari jumlah itik dalam 1 kelompok. Demikian juga dihindarkan gangguan dari luar, seperti keributan atau membuka pintu memasuki kandang yang mendadak. Bahkan cahaya mendadak (umpama menyalakan lampu setelah malam hari atau menyalakan lampu sorot). 

VI. PANEN DAN PEMASARAN

1. Pola dan Cara Panen
Pola dan cara panen penggemukan itik jantan tergantung dari manajemen pemeliharaan yang diterapkan, ada 2 pola pemeliharaan:
  • Sistem satu umur (all on all out) : itik dipanen setiap 6 minggu sekali, selesai panen kandang diistirahatkan sekitar 2 minggu, kemudian diisi kembali dengan anak itik (DOD), jadi siklus dari masuk DOD sampai masuk DOD kembali + 8 minggu/2 bulan.
  • Sistem berbagai umur (multi age), peternak dapat panen setiap minggu tetapi kelemahannya jumlah dipanen tidak banyak dibanding satu umur, kandang tidak sempat diistirahatkan sehingga resiko penyakit lebih tinggi.
  • Sedang untuk itik petelur, produk yang dihasilkan berupa telur yang harus segera diambil dari kandang secara rutin, misal pada pagi hari dan disimpan dalam rak telur. Telur yang kotor sebaiknya dibersihkan dengan cara dilap. Penjualan dapat dilakukan setiap hari atau pada waktu tertentu baik kepada pedagang pengumpul, ke warung-warung atau langsung ke pasar.

2. Strategi Pemasaran
Banyak cara yang dilakukan untuk memasarkan produk itik antara lain mendatangi warung-warung pinggir jalan, rumah makan, restoran yang menyediakan menu daging itik, tawarkan kepada mereka bahwa anda dapat mensuplai daging itik sesuai yang diminta, kalau sudah memiliki langganan yakinkan bahwa itik yang anda tawarkan mempunyai keunggulan dari itik lainnya misal bobot badan lebih besar,dagingnya lebih empuk, warnanya putih dan tidak amis dibanding daging itik pada umumnya.

Jika strategi ini gagal anda bisa mencari pedagang pengumpul itik yang dapat menampung produk anda, memang harga ditingkat pengumpul lebih rendah dari pada harga pasaran karena pengumpul mencari keuntungan lagi dari penjualan itik tersebut, Namun walaupun demikian peternak masih mendapat keuntungan asal harga tersebut masih dalam kategori wajar.

VII. PENYAKIT

Walaupun ternak itik pada umumnya lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ternak ayam, namun beberapa jenis penyakit dapat pula menyerang itik yang mengakibatkan kematian. Pemberian ransum yang bermutu, pengasingan (isolasi) terhadap itik yang menunjukkan gejala sakit, lebih baik daripada pengobatan. Beberapa penyakit yang terdapat pada itik, antara lain sebagai berikut:

1. Mata Memutih (White Eye).
Penyebab : Masih diduga sejenis virus, faktor kekurangan vitamin A, menurunkan daya tahan penyakit
Penularan : Sangat mudah menular terutama pada anak itik umur 2 bulan
Tanda-tanda : Cairan putih bening keluar dari mata, dalam waktu setengah hari cairan mengental dan menutupi mata, rongga bawah mata bengkak, Susah bernafas, lemah dan akhirnya terguling mati
Pencegahan : Segera dipisahkan itik yang sakit.

2. Salmonella (Parathypus)
Penyebab : Kuman sejenis yang menyebabkan pullorum pada ayam tetapi lain jenis.
Penularan : Melalui telur tetas induk yang sakit, kontak langsung dengan yang sakit, peralatan, kotoran itik yang sakit, makanan dan minuman
Tanda-tanda : Nafsu makan-minum hilang, lesu seperti kedinginan, mencret, berlendir campur butir- butiran putih.
Pengobatan : Beberapa jenis sulfa atau antibiotika

3. Botulismus
Penyebab : Toxin atau racun yang dihasilkan oleh sejenis kuman (Clostridium botolium)
Penularan : Bila itik makan bangkai, untuk itik dengan pemeliharaan terkurung tentu saja jarang 
terjadi, akan tetapi dapat juga tertular dari sayur-sayuran yang telah busuk.
Tanda-tanda : Itik lesu dan semangat lemah, lumpuh pada leher, kaki dan sayap, bulu mudah rontok
Pencegahan : Hindarkan memberi makanan yang telah busuk atau yang telah tercemar
Pengobatan : Diberikan obat laxansia (obat cuci perut) untuk mengeluarkan racun dari saluran pencernaan.

4. Lumpuh
Penyebab : Kekurangan vitamin B1 atau terserang penyakit Salmonella yang kronis.
Tanda-tanda : Kaki Itik bengkak-bengkak dibagian persendian kaki, sehingga jalannya pincang dan lumpuh.
Pencegahan : Pemberian sayuran/hijauan segar setiap hari
Pengobatan : Pemberian vitamin B1 dalam ransum.

VIII. ANALISIS USAHA

I. ANALISIS USAHA ITIK PETELUR

Perhitungan dilakukan dengan asumsi, biaya bibit itik Rp. 50.000 / ekor dan nilai itik afkir dijual dengan harga Rp. 30.000 / ekor. Dengan perhitungan ini diketahui bahwa nilai R/C pada itik terkurung 1,23 dengan pendapatan Rp. 402.250 / bulan sedang untuk kontrol R/C 1,09 dengan pendapatan sebesar Rp. 124.167 / bulan. Perhitungan MBCR (Margin Benefit Cost Ratio) yang dihasilkan dari teknologi baru (terkurung) terhadap teknologi lama (dilepas) sebesar 1,33 ini mengandung arti bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk merubah sistem pemeliharaan cara petani (dilepas) ke cara baru (terkurung) akan mendapatkan 1,33 rupiah. Menurut Mailan (2004), MBCR teknologi baru harus mempunyai nilai lebih besar dari 1 agar menarik petani untuk mengadopsi teknologi itu. Bila MBCR sama dengan 1 maka teknologi baru itu tidak berpotensi secara ekonomis. Untuk sementara pemeliharaan itik secara terkurung dengan skala 100 ekor dengan tanpa memperhitungkan biaya tenaga kerja masih layak dan menguntungkan, namun bila biaya tenaga kerja akan diperhitungkan maka skala usaha harus minimal 200 ekor.

2. ANALISIS USAHA ITIK PEJANTAN

A. Asumsi yang digunakan :
Populasi 200 ekor
Lahan milik sendiri
Luas kandang 20 m2
Masa pakai kandang 3 tahun
Harga DOD jantan Rp 1500
Total konsumsi pakan selama 8 minggu 3 kg/ekor
Harga jual itik umur 8 minggu Rp 25.000,-/ekor
Tingkat kematian 5%

B. Modal Investasi :
Kandang dan peralatannya = Rp 4.000.000,-

C. Modal Kerja :
Pembelian DOD jantan 200 ekor X Rp 2.500 = Rp. 500.000,-
Pakan selama 8 minggu 200 ekor X 3 Kg X Rp 3.075 = Rp.1.845.000
Total Modal Kerja = Rp 2.345.000

D. Biaya Operasional :
Vitamin/obat-obatan = Rp. 150.000,-
Penyusutan Kandang = Rp. 250.000,-
Biaya Lain – lain = Rp. 200.000,-
Total Biaya Operasional = Rp. 600.000,-
Total Input : modal kerja + biaya Operasional
= Rp. 2.345.000,- + Rp. 600.000,-
= Rp. 2.945.000,-
Total Output : Penjualan itik 190 ekor @ Rp.23.000,-
= Rp.4.370.000,-

Keuntungan : Output - Input
= Rp 4.370.000 – Rp. 2.945.000
= Rp. 1.425.000,- / periode (2 bulan)

R/C = Rp. 4.370.000,- : Rp. 2.945.000
= 1,48

DAFTAR PUSTAKA

Nawhan, A. 1991. Usaha Peternakan Itik Alabio (Anas platyrinchos Borneo) di Kalimantan Selatan. Makalah Pidato Ilmiah pada Lustrum II dan Wisuda VI Sarjana Negara. Uniska. Banjarmasin.

Redaksi Trubus. 1999. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar
Swadaya. Jakarta.

Samosir, D. J. 1993. Ilmu ternak Itik. Gramedia. Jakarta.

Subhan, A. 2009. Pengaruh Substitusi Sagu Kukus dan Tepung Keong Mas dengan Jagung Kuning Terhadap Penampilan Itik Jantan Alabio, Mojosari dan Hasil Persilangannya. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Suharno, B dan K. Amri. 2005. Beternak Itik secara Intensif. Penebar Swadaya. Jakarta.

Supriyadi. 2009. Panen Itik Pedaging Dalam Enam Minggu. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta

Syamsudin, A. 1992. Pengendalian Penyakit Itik. Makalah Temu Tugas dalam Aplikasi Teknologi Bidang Peternakan. Badan Litbang Pertanian. P.47-70.

Windhyarti, S.S. 2005. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya. Jakarta. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan

    Download Buku Usaha Ternak Itik

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Buku Usaha Ternak Itik ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    [Download] Buku Usaha Ternak Itik.pdf
    [Download] Buku Tata Laksana Pemeliharaan Itik.pdf 
    [Download] Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Itik Petelur dengan Sistem Kandang Baterai dan Ranch.pdf

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Buku Usaha Ternak Itik. Semoga bisa bermanfaat.

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel