Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

Diposting oleh Pada 5/15/2018 09:21:00 AM dengan No comments

Berikut ini adalah berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Materi Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013 Edisi II 2018 Satgas GLS Ditjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Download file format PDF dan .docx Microsoft Word.

Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018
Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

Dalam modul ini dibahas antara lain Latar Belakang, Tujuan Penyusunan, Masalah, Solusi, Implementasi Kegiatan Literasi, Persiapan, Rapat Koordinasi, Pembentukan Tim Literasi Sekolah, Sosialisasi, Persiapan Sarana Prasarana, Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi, Tindak Lanjut, Strategi Literasi Dalam Pembelajaran, Tujuan, Peta Konsep Strategi Literasi, Indikator literasi dalam Pembelajaran, Alat Bantu, Contoh Penerapan Strategi Literasi dalam Pembelajaran, dan lain-lain.

Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018:

Pengantar
Pasal 4 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa: Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah yang belum siap melaksanakan K13 untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2006 sambil melakukan persiapan-persiapan sehingga selambat-lambatnya pada tahun 2019/2020 sekolah tersebut telah mengimplementasikan K13 setelah mencapai kesiapan yang optimal.

Untuk memfasilitasi sekolah (SMP) meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru dan membantu sekolah mengimplementasikan K13, Direktorat PSMP menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 bagi SMP. Pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 tersebut – dengan sejumlah program pendukung lainnya – diharapkan mampu menjadikan jumlah SMP pelaksana K13 rata-rata naik 25% setiap tahun. Pada tahun 2016 ditargetkan sekitar 9.000 SMP telah melaksanakan K13, sementara pada tahun 2017 diharapkan 18.000 SMP (50%), pada tahun 2018 kurang lebih 27.000 (75%), dan pada tahun 2019 semua SMP (100%) di seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan K13 yang dilaksanakan oleh Direktorat PSMP pada tahun 2015, masalah utama yang dihadapi oleh para guru dalam pelaksanaan K13 adalah dalam menyusun RPP, mendisain instrumen penilaian, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian, dan mengolah dan melaporkan hasil penilaian. Memperhatikan hal tersebut, pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran dan penilaian, menyajikan pembelajaran dan melaksanakan penilaian, serta mengolah dan melaporkan hasil penilaian pencapian kompetensi peserta didik. Pada tahun 2018 dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 perlu dilakukan penyesuaian.

Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menuntut guru untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai- nilai utama PPK yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegaiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan Abad 21 seperti khususnya keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skills), keterampilan untuk bekerjasama (Collaboration), kemampuan untuk mencipta atau daya cipta (Creativity), dan kemampuan untuk berkomunikasi (Commnication).

Penguatan Pendidikan Karakter merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul Pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi Penguatan Pendidikan Karakter yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat sehingga implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter, kecakapan literasi, dan HOTS.

Untuk menjamin bahwa pelatihan pelaksanaan K13 di semua jenjang baik nasional, provinsi, kabupaten/kota maupun sekolah sasaran mencapai hasil yang diharapkan, Direktorat PSMP menetapkan bahwa materi pelatihan untuk semua jenjang tersebut menggunakan materi standar yang disusun oleh Direktorat PSMP bersama dengan Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan Pusat Penilaian Pendidikan. Materi-materi tersebut didasarkan pada dokumen-dokumen dan ketentuan-ketentuan terakhir mengenai pelaksanaan K13. Setiap unit materi terdiri atas tujuan, uraian materi, tahapan sesi pelatihan, teknik penilaian kinerja peserta pelatihan, dan daftar sumber-sumber bahan untuk pengayaan. Selain itu, materi dilengkapi dengan sejumlah Lembar Kerja yang memberi panduan dan/atau inspirasi kegiatan pelatihan.

Penyusunan materi pelatihan ini terselesaikan atas peran serta berbagai pihak. Direktorat PSMP menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penyusun dan penelaah yang telah bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan materi pelatihan yang layak. Semoga materi yang disusun ini merupakan amal baik yang tiada putus amalnya.

Materi pelatihan ini hendaknya dipandang sebagai bahan minimal dari pelatihan yang dilaksanakan pada setiap jenjang. Selain itu, dengan dinamisnya perkembangan kurikulum, materi yang disusun ini perlu selalu disesuaikan dengan perkembangan.

Akhirnya Direktorat PSMP mengharapkan materi ini digunakan sebaik-baiknya oleh pelaksana pelatihan implementasi K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP. Masukan- masukan untuk penyempurnaan materi ini sangat diharapkan dari berbagai pihak, terutama dari para instruktur dan peserta pelatihan.

Latar Belakang
Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai 'keberaksaraan' dan selanjutnya dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal, ―melek baca dan tulis" ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.

Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja. Menurut Word Economic Forum (2016), peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka). Berikut adalah penggambaran hal itu (Word Economic Forum, 2016).

Selain itu, ada juga tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai oleh peserta didik, yakni literasi kesehatan, keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan kriminal (bagi siswa SD disebut ―sekolah aman‖) (Wiedarti, Mei 2016). Literasi gesture pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para difabel. Semua ini merambah pada pemahaman multiliterasi. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan karakter (PPK) di Indonesia mengacu pada lima nilai utama, yakni (1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas (Depdikbud, 2016).

Menurut Cope dan Kalantzis (2000), pedagogi multiliterasi yang dikembangkan oleh New London Group merupakan pandangan yang melihat semakin berkembangnya dimensi literasi yang multibahasa dan multimodal. Dengan demikian, sekolah dan masyarakat perlu mengembangkan praktik dan keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk-bentuk teks konvensional maupun bentuk-bentuk teks inovatif, simbol, dan multimedia (Abidin, 2015). Beragam teks yang digunakan dalam satu konteks ini disebut teks multimodal (multimodal text). Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi--menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran dengan memadukan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi)--diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat.

Hal ini sesuai dengan apa yang tersaji dalam peta jalan gerakan literasi nasional (GLN). Dalam buku tersebut, makna dan cakupan literasi meliputi: :‖(a) literasi sebagai rangkaian kecakapan membaca, menulis, berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; (b) literasi sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; (c) literasi sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan , dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari, (d) literasi sebagai teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.

Berdasarkan uraian tersebut, istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian, Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing.

Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun sekolah yang literat. Untuk itu, implementasi GLS pun merupakan sebuah proses agar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akhirnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

Saat ini kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya guru dan siswa. Hal ini disebabkan antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah selain buku-teks pelajaran. Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.

Pada sisi lain, hasil beberapa tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

PIRLS atau Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca siswa kelas IV. PISA atau Programme for International Student Assessment mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. INAP atau Indonesia National Assessment Programme (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca, matematika, dan sains.

INAP/AKSI disejajarkan dengan PIRLS karena sama-sama untuk SD kelas IV. Hasil AKSI menunjukkan bahwa kemampuan yang berkategori kurang adalah 77,13% untuk matematika; 46,83% untuk membaca, dan 73,61% untuk sains. Yang berkategori cukup adalah 20,58% untuk matematika; 47,11% untuk membaca; 25,38% untuk sains. Yang berkategori baik adalah 2,29% untuk matematika; 6,06% untuk membaca, dan 1,01% untuk sains.

Sejalan dengan hal tersebut, hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies tahun 2016 untuk tingkat kecakapan orang dewasa juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Indonesia berada di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap siswa. Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-Laksono. ed., 2016).

Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum sepenuhnya menyentuh aspek pembelajaran di kelas karena kondisi sekolah dan kelas berbeda-beda. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun 2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, (2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar, (3) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama, (4) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Luar Biasa, (5) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas; (6) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, (7) Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, (8) Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama; (9) Strategi Literasi dalam Pembelajaran untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama (tahun 2017). Beberapa panduan GLS telah direvisi. Seperti halnya buku ini (edisi II), beberapa panduan GLS ediisi revisi juga diterbitkan pada tahun 2018.

Salah satu pelatihan tersebut adalah pelatihan dan/atau penyegaran instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan terutama menekankan pada peningkatan keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21, termasuk keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013.

Materi penyegaran Kurikulum 2013 ini merupakan edisi II (2018) dengan beberapa penambahan dan penyempurnaan. Seperti halnya edisi I yang terbit tahun 2017, materi ini dilengkapi dengan materi presentasi dan alat bantu berwujud pengatur grafis pada bagian akhir yang memandu aktivitas peserta untuk mendalami dan mengimplementasi strategi literasi dalam pembelajaran. Semua perangkat ini diharapkan dapat memandu instruktur dan pemangku kepentingan di jenjang nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah dalam pelaksanaan, pengembangan, dan penguatan strategi literasi dalam pembelajaran.

Tujuan Penyusunan
Tujuan penyusunan materi penyegaran ini adalah untuk:
  1. Memberikan inspirasi kepada peserta pelatihan untuk memanfaatkan beragam sumber belajar, termasuk buku-teks-pelajaran dan buku-nonteks-pelajaran dalam pembelajaran.
  2. Memandu peserta pelatihan menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran guna mengembangkan karakter, meningkatkan keterampilan berliterasi, dan meningkatkan kompetensi.

Masalah
Masalah 1
Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berliterasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Guru seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Saat guru meminta siswa membaca, guru pun juga perlu membaca untuk memberi contoh yang baik bagi siswanya. Tradisi literasi (kemampuan komunikasi yang artikulatif secara verbal dan tulisan serta kemampuan menyerap informasi melalui teks) juga belum tumbuh secara koheren dalam diri beberapa guru.
Masalah 2
Upaya untuk menyosialisasikan dan meningkatkan keterampilan berliterasi di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru. Materi ajar dan teks yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan keterampilan berliterasi siswa. Selain itu, strategi literasi dalam pembelajaran belum diterapkan secara optimal.

Solusi
Guru perlu memahami bahwa upaya pengembangan literasi tidak berhenti ketika siswa dapat membaca dengan lancar dan memiliki minat baca yang baik sebagai hasil dari pembiasaan budaya literasi. Pengembangan literasi perlu terjadi pada pembelajaran di semua mata pelajaran melalui upaya untuk mengembangkan karakter serta meningkatkan kompetensi berpikir tingkat tinggi. Para guru perlu mengoptimalkan strategi literasi dalam pembelajarannya. Pengembangan kemampuan literasi di sekolah akan membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa. Penggunaan teks dan/atau bahan ajar yang bervariasi, disertai dengan perencanaan yang baik dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berliterasi siswa.

Implementasi Kegiatan Literasi
Implementasi penumbuhan budaya literasi di sekolah memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, sertatindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan operasionalisasi hal-hal yang telah dipersiapkan. Pemantauan dan evaluasi merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan.Tindak lanjut merujuk pada hal-hal yang perlu dilakukan selanjutnya (penyusunan program lanjutan).

Penumbuhan literasi di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan tersebut dilakukan dalam tiga tahapan literasi yaitu tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Agar dapat melaksanakan tiga tahapan literasi tersebut diperlukan kegiatan persiapan, sebagai berikut.

Persiapan
1. Rapat Koordinasi
Kegiatan ini dilaksanakan untuk membicarakan maksud dan tujuan dilaksanakannya literasi di sekolah. Rapat koordinasi digelar oleh kepala sekolah dan diikuti oleh:
a. Kepala Sekolah
b. Para Wakil Kepala Sekolah
c. Perwakilan Guru dan Karyawan

Tujuan rapat koordinasi ini antara lain:
a. Pemahaman tentang literasi
b. Pembentukan tim literasi sekolah (TLS)
c. Penyusunangaris besar program kerja literasi sekolah (dilanjutkan oleh TLS)
d. Persiapan materi sosialisasi lietrasi

2. Pembentukan Tim Literasi di Sekolah (TLS)
Kepala sekolah membentuk TLSmelalui Surat Keputusan Kepala Sekolahyang menyertakan tugas pokok dan fungsi anggota tim. Susunan anggota TLS disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Pembentukan TLS dapat dibaca dalam buku ―Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama.‖ (Kisyani-Laksono dkk. 2016).

3. Sosialisasi
a. Sosialisasi pada Guru dan Karyawan.
Sosialisasi ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan komitmen guru dan karyawan tentang pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.
b. Sosialisasi pada Siswa
Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang literasi, tujuan pelaksanaan literasi, dan mekamisme pelaksanaan literasi.
c. Sosialisasi pada Komite Sekolah dan Orang Tua Siswa
Sosialisasi pada komite sekolah dan orang tua siswa bertujuan untuk memberitahukan adanya kegiatan literasi di sekolah dan berharap agar komite dan orang tua siswamendukung kegiatan tersebut. Dalam kegiatan sosialisasi ini diperlukan narasumber yang memahami dan mampu menjelaskan tentang literasi di sekolah.

4. Persiapan Sarana Prasarana
Untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah diperlukan ekositem sekolah yang literat dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang perlu dimiliki oleh sekolah antara lain:
a. Perpustakaan sekolah (cf. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Parasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
b. Pojok baca di kelas dan lingkungan sekolah
c. Jumlah buku sesuai dengan Permendiknas no 24 tahun 2007: (1) Buku teks pelajaran: 1 eksemplar/mata pelajaran/peserta didik,
ditambah 2 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (2) Buku panduan pendidik: 1 eksemplar/mata pelajaran/guru mata pelajaranbersangkutan, ditambah 1 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (3) Buku pengayaan: 870 judul/sekolah, terdiri atas 70% nonfiksi dan
30% fiksi.
Banyak eksemplar/sekolah minimum: 1000 untuk 3--6 rombongan belajar, 1500 untuk 7--12 rombongan belajar, 2000 untuk 13--18 rombongan belajar, 2500 untuk 19--24 rombongan belajar; (4) Buku referensi: 20 judul/SMP; (5) Sumber belajar lain: 20 judul/SMP (Bandingkan dengan Permendikbud No 23 tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal:Satu set buku teks untuk setiap perserta didik dan 200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi untuk SMP!).
d. Web sekolah
e. Akses internet di lingkungan sekolah
f. Spanduk, poster,leaflet, dan/atau brosur penumbuhan budaya literasi

Pelaksanaan
Pada dasarnya, pelaksanaan GLS dapat dilihat pada tiga hal berikut ini.
  1. mengacu pada perencanaan
  2. mengacu pada keterampilan abad XXI dengan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter (PPK):(1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas.
  3. menggunakan daftar cek instrumen pengembangan budaya literasi di sekolah (pelaksanaan tiga tahapan literasi) yang terdapat dalam lampiran 1 dan daftar cek indikator pelaksanaan strategi literasi dalam pembelajaran. Pembahasan mengenai strategi literasi dalam pembelajaran terdapat dalam Bab III.

Tiga kegiatan pelaksanaan GLS di sekolah merupakan dasar untuk membangun dan mengembangkan budaya literasi sekolah, dimulai dari Kegiatan Pembiasan, Kegiatan Pengembangan, dan Kegiatan Pembelajaran.

Secara lebih rinci, ihwal ketiga kegiatan pelaksanaan GLS dapat dipelajari dalam ―Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah‖ dan ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖. Adapun indikator tiga kegiatan pelaksanaan literasi sekolah ada di lampiran 1 yang merupakan gabungan dari instrumen kegiatan pembiasaan (13 butir pertanyaan), pengembangan (17 butir pertanyaan), dan pembelajaran (23 butir pertanyaan) yang terdapat dalam ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖, 2016). Instrumen terdiri atas 27 butir pertanyaan. Satu butir pertanyaan dimungkinkan berada dalam tiga atau dua kegiatan sekaligus (contoh: 15 menit membaca ada dalam semua jenis kegiatan GLS). Berikut adalah petunjuk butir dan nomor dari setiap tahapan (tabel instrumen budaya literasi sekolah dengan 27 butir nomor terdapat dalam lampiran).

Tindak Lanjut
Hasil pemantauan dan evaluasi dapat dicermati sebagai bahan refleksi. Tindak lanjut diwujudkan dengan penyusunan perencanaan lanjutan dalam hal kegiatan berliterasi. Jika dalam pengisian instrumen masih ada hal-hal yang ―belum atau kurang, penyusunan rencana lanjut berpumpun (berfokus) pada upaya supaya yang ―belum menjadi ―sudah atau yang kurang menjadi baik. Jika hasil refleksi menunjukkan bahwa semua sudah dilakukan dan semua sudah baik, perlu dilakukan rencana lanjutan untuk mengimbaskan hal tersebut kepada sekolah-sekolah yang ada di sekitar.

Strategi Literasi Dalam Pembelajaran
Tujuan
Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll. (cf. Robb, L, 2003).

Konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, adapun literasi adalah bagaimana mengajarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam pembelajarannya. Salah satu tujuan penting dari strategi literasi dalam pembelajaran konten adalah untuk membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (Ming, 2012: 213). Dengan demikian strategi literasi dalam pembelajaran akan membentuk karakteristik siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi).

Pembelajaran yang menerapkan strategi literasi penting untuk menumbuhkan pembaca yang baik dan kritis dalam bidang apapun. Berdasarkan beberapa sumber, dapat disarikan tujuh karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif (cf. Beers 2010: 20-21; Pahl&Rowsell 2005: 82), antara lain:
  1. Pemantauan pemahaman teks (siswa merekam pemahamannya sebelum, ketika, dan setelah membaca).
  2. Penggunaan berbagai moda selama pembelajaran (literasi multimoda)
  3. Instruksi yang jelas dan eksplisit.
  4. Pemanfaatan alat bantu seperti pengatur grafis dan daftar cek.
  5. Respon terhadap berbagai jenis pertanyaan.
  6. Membuat pertanyaan.
  7. Analisis, sintesis, dan evaluasi teks.
  8. Meringkas isi teks.
Menyimak karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi, dapat disimpulkan bahwa strategi literasi dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, berbasis teks, berbasis proyek, berbasis masalah, inquiry, discovery, dan saintifik sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut(Beers 2010; Greenleaf dkk, 2011; Robb, 2003; Toolin, 2004).

Indikator Literasi dalam Pembelajaran
Pada dasarnya, silabus berbagai mata pelajaran di SMP sudah menunjukkan adanya strategi literasi dalam pembelajaran. Penuangan silabus ke dalam kegiatan pembelajaran dapat diceksilangkan dengan indikator literasi dalam pembelajaran.

Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa istilah ―teks‖ dalam literasi dapat berwujud teks tulis, lisan (audio), visual, auditori, audiovisual, spasial, nonverbal (kinestesik dsb). Wujud teks bisa digital atau nondigital. Sejalan dengan itu, istilah "membaca" yang digunakan dalam kegiatan literasi juga merujuk pada membaca dalam arti luas.

Biarpun demikian, pembelajaran di sekolah tidak pernah lepas dari teks tulis karena tersedia buku siswa. Oleh sebab itu, pada tahap awal, strategi literasi dalam pembelajaran dapat berfokus pada teks tulis tersebut.

Berikut adalah daftar cek untuk indikator literasi untuk menguatkan langkah-langkah pembelajaran, menumbuhkembangkan karakter, dan mengasah kompetensi. Pernumbuhkembangan karakter tertentu dan pengasahan kompetensi yang berkelindan dengan strategi literasi dalam pembelajaran disesuaikan dengan materi yang disajikan. Strategi literasi dalam pembelajaran bukan materi, tetapi merupakan strategi yang berwujud langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini nomor yang tersaji tidak merujuk pada urutan (dalam pembelajaran hal tersebut tidak harus urut). Semakin banyak tanda cek pada kolom ―sudah berarti strategi literasi dalam pembelajaran semakin sarat.

    Download Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018



    Download File:

    Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.pdf
    Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.docx

    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Semoga bermanfaat.

    Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013

    Diposting oleh Pada 5/08/2018 10:41:00 AM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013. Download file format .docx Microsoft Word.

    Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013
    Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013

    Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA-MA Kurikulum 2013

    Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA/MA Kurikulum 2013:

    Naskah Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat di SMA ini dimaksudkan sebagai acuan dalam pelaksanaan dan pengembangan tugas pokok Tim Pengembang Kurikulum (TPK) SMA dalam melakukan program peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat di SMA. Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat ini disusun untuk dapat membantu TPK SMA dalam melaksanakan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat sesauai dengan tuntutan Kurikulum 2013. 

    Latar Belakang
    Sebagai konsekuensi keberadaan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pembinaan SMA menerbitkan berbagai model pendukung pembelajaran agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia dapat memenuhi acuan atau standar tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

    Upaya pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) sebagaimana Permendikbud No. 54 tahun 2013, standar isi yang mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal sesuai Permendikbud No. 64 tahun 2013, serta kerangka dasar dan struktur kurikulum Permendikbud No 69 tahun 2013 yang merupakan landasan filosofis, sosiologis, psikopedagogis, dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, merupakan pengorganisasian kompetensi inti, matapelajaran, beban belajar, dan kompetensi dasar pada setiap Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, isi kurikulum yang terdiri dari kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD), serta struktur kurikulum yang akan dicapai dan diikuti oleh peserta didik melalui proses pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu.

    Permendikbud 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum mengamanatkan bahwa Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik. 

    SKL terdiri atas kriteria kualifikasikemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelahmenyelesaikan masa belajar secara tuntas di satuan pendidikan pada jenjangpendidikan dasar dan menengah. Agar KD, KI, maupun SKL tercapai, satuan pendidikan perlu mengelola stuktur kurikulum dengan cermat sehingga pada pelaksanaannya sejalan dengan kemampuan dan minat peserta didik. 

    Pilihan kelompok peminatan merupakan bagian penting dalam upaya pencapaian SKL, KI, dan KD oleh peserta didik. Hal ini dikarenakan ketepatan dalam memilih kelompok peminatan merupakan bagian dari rencana awal peserta didik untuk menentukan fakultas atau jurusan pada jenjang pendidikan selanjutnya yakni perguruan tinggi.

    Untuk membantu peserta didik mencapai berbagai kompetensi yang diharapkan, pemilihan kelompok peminatan menjadi bagian penting diusahakan setepat mungkin. Dengan demikian, matapelajaran yang diambil akan sesuai dengan minat dan kemampuan serta berdampak pada perkembangan fisik dan psikologisnya.

    Dalam PP nomor 32 tahun 2013 Pasal 77K ayat (1) bagian a, b, dan c dinyatakan bahwa strukutur kurikulum di SMA terdiri dari muatan umum, muatan peminatan akademik, dan muatan lintas minat akademik. Hal ini diperjelas dalam Permendikbud No. 69 tahun 2013 bahwa matapelajaran-matapelajaran dikelompokan ke dalam a). Kelompok matapelajaran wajib, b). Kelompok matapelajaran peminatan, dan c). Pilihan Kelompok Peminatan dan Pilihan Matapelajaran Lintas Kelompok Peminatan. Oleh karena itu, satuan pendidikan sebaiknya memfasilitasi peserta didik dalam mengambil kelompok matapelajaran peminatan sesuai minat yang didukung dengan kemampuan. Satuan pendidikan diharapkan mampu melayani kebutuhan peserta didik yang dituangkan dalam ketentuan khusus berupa dokumen sekolah. Dokumen ini selanjutnya menjadi acuan untuk pelaksanaan pemilihan kelompok peminatan maupun pemilihan matapelajaran lintas kelompok peminatan pada setiap awal tahun pelajaran dan acuan pelaksanaan pendalaman minat awal tahun pelajaran bagi pesrta didik kelas XI atau XII. 

    Guna mengimplementasikan Permendikbud nomor 54/2013 tentang SKL, Permendikbud nomor 64/2013tentang SI, serta Permendikbud nomor 69/2013tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum, Direktorat Pembinaan SMA memandang perlu menyusun model penyelenggaraan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat SMA sehingga dapat dijadikan acuan oleh satuan pendidikan. 

    Tujuan
    Model ini bertujuan :
    1. memberikan pemahaman lebih luas untuk melaksanakan pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat;
    2. memberikan gambaran strategi implementasi pelaksanaan pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat;
    3. mendorong peningkatan mutu pembelajaran melalui pilihan kelompok peminantan, lintas minat, dan pendalaman minat yang tepat; dan
    4. memberikan gambaran pindah pilihan kelompok peminatan.

    Ruang Lingkup
    Ruang lingkup model ini meliputi pengertian dan konsep penyelenggaraan peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat sertapengorganisasiannya.

    Pengertian Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat

    Pengertian Peminatan
    Peminatan adalah suatu keputusan yang dilakukan peserta didik untuk memilih kelompok matapelajaran sesuai minat, bakat, dan kemampuan selama mengikuti pembelajaran di SMA. Pemilihan peminatan dilakukan atas dasar kebutuhan untuk melanjutkan keperguruan tinggi.

    Struktur kurikulum merupakan sekelompok matapelajaran yang dapat diikuti dan diambil selama peserta didik menempuh pendidikan seperti tertuang dalam PP No. 32 tahun 2013, Pasal 77B ayat(1) Struktur Kurikulum merupakan pengorganisasian Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, muatan Pembelajaran, matapelajaran, dan beban belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan, dalam ayat (4) Struktur Kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pengorganisasian matapelajaran untuk setiap satuan pendidikan dan/atau program pendidikan, serta ayat (7) Struktur Kurikulum untuk satuan pendidikan menengah terdiri atas: a. muatan umum; b. muatan peminatan akademik; c. muatan akademik kejuruan; dan d. muatan pilihan lintas minat/peminatan. 

    Demikian juga struktur kurikulum SMA sebagaimana tercantum dalam Permendikbud nomor 69 tahun 2013 matapelajaran yang dapat diikuti dan diambil terdiri atas Kelompok Matapelajaran Wajib dan Matapelajaran Pilihan. Matapelajaran pilihan terdiri atas pilihan akademik untuk Sekolah Menengah Atas. Matapelajaran pilihan ini memberi corak kepada fungsi satuan pendidikan, dan didalamnya terdapat pilihan sesuai dengan minat peserta didik. Struktur ini menerapkan prinsip bahwa peserta didik merupakan subjek dalam belajar yang memiliki hak untuk memilih matapelajaran sesuai dengan minatnya.

    Pengertian Lintas Minat
    Dalam Kurikulum 2013, peserta didik selain memilih kelompok matapelajaran (peminatan), mereka diberi kesempatan untuk mengambil matapelajaran dari kelompok peminatan lain. Hal ini memberi peluang kepada peserta didik untuk mempelajari matapelajaran yang diminati namun tidak terdapat pada kelompok mataplajaran peminatan.

    Pengertian Pendalaman Minat
    Peserta didik yang memiliki kemampuan akademik di atas peserta didik lain diberi kesempatan untuk mendalami matapelajaran-matapelajaran pada kelompok peminatannya. Hal ini memberi kesempatan bagi peserta didik yang pada matapelajaran tertentu di kelompok peminatannya memiliki kemampuan dan prestasi tertentu sehingga penguasaan terhadap substansi matapelajaran bersangkutan menjadi tumpuan bagi kelangsungan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

    Konsep Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat
    Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 12 ayat (1) butir b, menyatakan bahwa peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

    Agar bakat, minat, dan kemampuan peserta didik terlayani maka salah satu kebijakan penting dalam Kurikulum 2013 adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memilih kelompok matapelajaran (peminatan) yang diminati.

    Pemilihan kelompok matapelajaran tersebut dipilih peserta didik semenjak masuk ke SMA atau kelas X semester pertama. Seperti tertuang dalam tabel 3 di atas, peserta didik boleh memilih kelompok matapelajaran, yakni peminatan Matematika dan Ilmu Alam, atau Ilmu-ilmu Sosial, atau Ilmu Bahasa dan Budaya. 

    Sebagai contoh pertama, apabila seorang peserta didik X, sesuai minat dan bakatnya, rekomendasi dari guru BK SMP/MTs, dan angket dari guru BK SMA, serta didukung oleh data prestasi, baik nilai rapor SMP/MTs dan nilai UN SMP/MTs memilih peminatan Matematika dan Ilmu Alam, maka peserta didik ini selama duduk di bangku SMA wajib untuk mempelajari matapelajaran Matematika, Biologi, Fisika, dan Kimia disamping matapelajaran-matapelajaran yang ada di kelompok wajib A dan B.Contoh kedua, peserta didk Y memilih peminatan Ilmu-ilmu Sosial maka dia wajib untuk mempelajari matapelajaran Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi beserta matapelajaran-matapelajaran yang ada di kelompok wajib A dan B. Demikian pula peserta didik Z memilih peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya maka dia wajib mempelajari matapelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Arab (misalnya sebuah SMA menetapkan Bahasa dan Sastra Arab sebagai bahasa asing lain wajib pada peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya), dan Antropologi.

    Untuk lintas minat, peserta didik kelas X memilih matapelajaran di luar matapelajaran-matapelajaran wajib A dan B serta di luar kelompok peminatan yang telah dipilihnya. Peserta didik tersebut harus memilih dua matapelajaran dari kelompok peminatan yang lain. Misalnya peserta didik X di atas dapat memilih geografi dan ekonomi; atau geografi dan antropologi; atau bahasa dan sastra inggris dengan bahasa dan sastra arab. Peserta didik Y dapat memilih matematika dan biologi; atau matematika dengan bahasa dan sastra inggris; atau bahasa dan sastra inggris dengan bahasa dan sastra arab. Peserta didik Z bisa memilih biologi dan kimia; atau sejarah dan ekonomi; atau biologi dan sejarah.

    Khusus untuk kelompok peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya, satuan pendidikan boleh membuka matapelajaran bahasa dan sastra asing lainnya, misalnya Bahasa dan Sastra Jepang dengan Bahasa dan Sastra Korea. Selain itu, peserta didik yang memilih peminatan ilmu Bahasa dan Budaya dapat memilih lintas minat di peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya juga. Sebagai contoh peserta didik di peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya selain dapat memilih lintas minat di peminatan Matematika dan Ilmu Alam atau Ilmu-ilmu Sosial, juga dapat memilih bahasa Asing yang disediakan sekolah selain bahasa asing yang telah dipilihnya sebagai peminatan.Dengan demikian peserta didik yang telah memilih peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya dengan matapelajaran Bahasa dan Satra Prancis, dapat pula memilih matapelajaranBiologi danBahasa dan Sastra Korea nat, atau matapelajaran Sejarah dan Bahasa dan Sastra Jepang; sebagai matapelajaran lintas minat. Satuan pendidikan sebaiknya menyarankan peserta didik untuk mempertahankan matapelajaran lintas minat, salah satu pilihannya sampai di kelas XII. Peserta didik di kelas X mengikuti dua matapelajaran lintas minat sebanyak 6 jam pelajaran, dan di kelas XI dan kelas XII mengikuti satu matapelajaran lintas minat sebanyak 4 jam pelajaran sesuai dengan Permendikbud No. 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum.

    Pemilihan matapelajaran lintas minat dan pendalaman minat bersifat opsional, artinya seorang peserta didik dapat mengambil dua matapelajaran lintas minat; atau satu matapelajaran lintas minat dan satu pendalaman minat; atau dua matapelajaran pendalaman minat

    Pada saat kelas XI, peserta didik dapat melanjutkan salah satu matapelajaran lintas minat atau mengambil matapelajaran untuk pendalaman minat. 

    Pendalaman minat dapat dilakukan mulai dari kelas X, akan tetapi karena peserta didik baru mengenal dan mempelajari beberapa matapelajaran maka dalam menentukan pendalaman minat sebaiknya diperhatikan hal-hal seperti; 1) dilakukan mulai kelas XI; 2) mendapat rekomendasi dari guru matapelajaran yang akan dipilih dan disetujui oleh guru bimbingan konseling; 3) bagi satuan pendidikan yang telah memiliki kerja sama dengan perguruan tinggi,bentuk dan pelaksanaan kerja sama diatur dengan perguruan tinggi bersangkutan;dan 4) memiliki peserta didik yang memang mempunyai potensi lebih untuk matapelajaran tertentu yang terdapat pada perguruan tinggi tersebut dapat mengikutsertakan pembelajaran peserta didiknya pada perguruan tinggi tersebut.

      Download Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013



      Download File:
      Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA MA Kurikulum 2013.docx

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Model Pengembangan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat Siswa SMA/MA Kurikulum 2013. Semoga bisa bermanfaat.
      Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017

      Diposting oleh Pada 12/13/2017 12:47:00 AM dengan No comments

      Berikut ini adalah berkas Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017. Download file format PDF. Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK ini diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017.

      Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017
      Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017

      Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017

      Berikut ini kutipan teks keterangan mengenai Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017:

      Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dunia pendidikan khususnya SMK sangat terbantu karena akan terciptanya sinergi antar instansi dan lembaga terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dalam usaha mengangkat kualitas SMK. Kehadiran Buku Serial Revitalisasi SMK ini diharapkan dapat memudahkan penyebaran informasi bagaimana tentang Revitalisasi SMK yang baik dan benar kepada seluruh stakeholder sehingga bisa menghasilkan lulusan yang terampil, kreatif, inovatif, tangguh, dan sigap menghadapi tuntutan dunia global yang semakin pesat.

      Buku Serial Revitalisasi SMK ini juga diharapkan dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi para penyelenggara pendidikan Kejuruan, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan untuk mengembangkan pendidikan kejuruan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang sesuai tuntuan dunia usaha dan industri.

      Tidak dapat dipungkuri bahwa pendidikan kejuruan memiliki peran strategis dalam menghasilkan manusia Indonesia yang terampil dan berkeahlian dalam bidang-bidang yang sesuai dengan kebutuhan.

      Buku ini diharapkan dapat menjadi media informasi terkait upaya peningkatan kualitas lulusan dan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) di SMK yang harus dilakukan secara sistematis dan terukur.

        Download Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017 ini silahkan lihat preview beberapa file buku dan unduh modul/buku lainnya pada link di bawah ini:









        Download File:
        Dioda Semikonduktor.pdf
        Simulasi Rangkaian Elektronika Daya Dengan Aplikasi Fluidsim 5.0 Electronic.pdf
        Pneumatik Dengan Aplikasinya.pdf
        Pengoperasian PLC.pdf
        Kendali Elektropneumatik Berbasis Plc Siemens S7- 300.pdf
        Pneumatika Dasar.pdf
        Elektronika Dasar.pdf
        Dasar Hidrolik Dan Pneumatik.pdf
        Teknik Elektronika Dasar-Dasar Listrik Dan Elektronika.pdf
        Motor Servo.pdf
        Pengendalian Sistem Pneumatik Menggunakan PLC Siemens S7 PC-300.pdf
        Konsep Rangkaian Gerbang Logika.pdf
        Limit Switch Dan Sensor Pada Pneumatik Dan Elektro Pneumatik.pdf
        Fundamental Direct Current (Resistor).pdf
        Limit Switch dan Sensor Pada Pneumatik dan Elektropneumatik.pdf
        Aplikasi Pengontrolan Motor Listrik 3 Fasa Berbasis Fluidsim.pdf
        Pengoperasian Motor Servo.pdf
        PENGUKURAN DAN PENGGUNAAN KOMPONEN RESISTOR, KAPASITOR DAN DIODA.pdf
        SISTEM KONTROL ROBOTIKA MODULAR PRODUCTION SISTEM (SORTING).pdf
        MODULAR PRODUCTION SYSTEM (MPS) STASIUN DISTRIBUSI DENGAN SIEMENS S7300.pdf
        DASAR TEKNIK LISTRIK ARUS SEARAH MODUL PEMBELAJARAN TEKNIK ELEKTRONIKA.pdf
        DASAR RESISTOR DAN TRANSISTOR.pdf
        PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL (PLC) DENGAN MENGGUNAKAN SMART RELAY.pdf

        Sumber: http://psmk.kemdikbud.go.id

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Elektronika dan Mekatronika Buku Serial Revitalisasi SMK 2017. Semoga bisa bermanfaat.
        Pedoman Pendataan Calon Peserta UN SD-MI Tahun Pelajaran 2017-2018

        Diposting oleh Pada 12/05/2017 10:15:00 AM dengan No comments

        Berikut ini adalah berkas Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018. Diterbitkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidian dan Kebudayaan.  Download file format PDF.

        Pedoman Pendataan Calon Peserta UN SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018
        Pedoman Pendataan Calon Peserta UN SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018

        Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018

        Berikut ini kutipan teks keterangan dari isi berkas modul Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018:

        Pusat Penilaian Pendidikan mengembangkan sistem Pendataan Calon Peserta Ujian Nasional Online 2018 SD/MI berawal pada pelaksanaan UN tahun ajaran 2016/2017 yang mana saat itu hanya berfungsi untuk pemeliharaan data siswa saja. Pendataan Calon Peserta Ujian Nasional pada tahun 2016 dan sebelumnya hanya dijaring oleh panitia tingkat Provinsi dengan menggunakan program secara offline dan waktu deadline yang digunakan terlalu dekat dengan pelaksanaan UN.

        Sejalan dengan bergeraknya waktu, dan kebutuhan rekap data calon peserta UN yang lebih awal, serta berkembangnya teknologi yang mudah didapat dan digunakan, maka diubah metode pendataan yang biasa digunakan pada waktu lampau dengan metode online. Karena hal tersebut disusunlah “Panduan Sistem Pendataan Calon Peserta Ujian Nasional Online 2018” untuk mempermudah penggunaannya.

        Panduan ini merupakan gabungan dari beberapa modul Sistem Pendataan Calon Peserta Ujian Nasional Online 2018, yang khusus membahas pendataan calon peserta secara online.

        Panduan Penggunaan Sistem Pendataan Calon Peserta Ujian Nasional Online 2018 ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pegangan atau referensi bagi tenaga-tenaga teknis komputerisasi UN di seluruh Indonesia untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam mengoperasikan program yang dibuat. 

        Pembahasan di dalam Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018 ini antara lain mengenai: 

        Spesifikasi kebutuhan perangkat komputer, terdiri dari:
        • Spesifikasi Hardware
        • Spesifikasi Software
        Memulai Sistem Pendataan, yaitu mengenai:
        1. Proses Login
        2. Halaman Utama
        3. Actions (Menu Utama) 
        4. Data Master
        5. Rekap
        6. Kelengkapan Data
        7. Tools

          Download Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

          Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018



          Download File:
          Pedoman Pendataan Calon Peserta UN SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018.pdf

          Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Pedoman Pendataan Calon Peserta UN (Ujian Nasional) SD/MI Tahun Pelajaran 2017/2018. Semoga bisa bermanfaat.
          Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

          Diposting oleh Pada 12/02/2017 09:09:00 AM dengan No comments

          Berikut ini adalah berkas mengenai Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Download file format .docx Microsoft Word dan PDF.

          Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning
          Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

          Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

          Berikut ini kutipan teks dari isi berkas modul mengenai Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning:

          Dalam modul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning ini terdiri dari 2 Kegiatan Pembelajaran yaitu:

          Kegiatan Pembelajaran 1 Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) membahas tentang Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi dan Aktivitas Pembelajaran, Latihan, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut.

          Kegiatan Pembelajaran 2 Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning membahas Tujuan, Indikator Pencapaian Kompetensi, Uraian Materi dan Aktivitas Pembelajaran, Latihan, Rangkuman, Umpan Balik dan Tindak Lanjut.

          Latar Belakang
          Menjadi guru di era modern dengan beragam perkembangan teknologi (termasuk teknologi informasi dan komunikasi atau TIK) seperti sekarang ini dapat dikatakan sebagai berkah karena banyak kemudahan yang dapat Anda manfaatkan melalui penggunaan TIK untuk pendidikan. Namun ternyata ada sisi lain yang perlu Anda pikirkan lebih lanjut mengenai keterkaitan TIK dengan pembelajaran. Peserta didik Anda adalah generasi yang lebih akrab dan lebih siap dengan penggunaan TIK, maka Anda sebagai guru dituntut untuk mampu mendampingi peserta didik Anda dalam belajar dengan TIK. Mau tidak mau, Anda harus mengerti perkembangan zaman termasuk TIK, terutama untuk meminimalisir dampak negatif dari arus perkembangan yang ada.

          Di dalam era modern pula, terjadi pergeseran-pergeseran paradigma pendidikan yang salah satunya adalah perubahan dari teacher centered learning menjadi student centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik bukan hanya objek pembelajaran tapi harus terlibat secara aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak hanya transfer ilmu dari guru ke peserta didik. Era globalisasi serta perkembangan teknologi TIK telah menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Batasan wilayah, bahasa dan budaya yang semakin tipis, serta akses informasi yang semakin mudah menyebabkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperoleh seseorang menjadi cepat usang. Persaingan yang semakin tajam akibat globalisasi serta kondisi perekonomian yang mengalami banyak kesulitan, terutama di Indonesia, membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif, memiliki jiwa enterpreneur serta kepemimpinan. Pendidikan yang menekankan hanya pada proses transfer ilmu pengetahuan tidak lagi relevan, karena hanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan masa lampau, tanpa dapat mengadaptasinya dengan kebutuhan masa kini dan masa depan.

          Dengan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik maka apakah tugas Anda sebagai guru menjadi semakin sedikit? Ternyata jawabannya adalah tidak. Tugas dan peran Anda sebagai guru di dalam proses pembelajaran hanya mengalami pergeseran dan perubahan. Anda adalah fasilitator dalam mengaktivasi belajar peserta didik. Kehadiran TIK untuk pendidikan seharusnya dapat membantu tugas-tugas Anda sebagai guru. Apalagi ditambah dengan tantangan zaman dan permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik berbeda dengan yang dihadapi oleh generasi Anda. Maka salah tugas Anda adalah mempersiapkan peserta didik untuk siap menghadapi tantangan dan memecahkan permasalahan pada masanya.

          Sesuai dengan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Secara garis besar permen tersebut berisi 4 kompetensi inti guru yaitu: kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Sebagai guru, Anda harus selalu meningkatkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan pendidikan. Perlu dilakukan penyesuaian antara metode pembelajaran yang dilakukan dengan kebutuhan serta permasalahan yang ada sehingga hasil dari proses pembelajaran tersebut efektif dan memberikan dampak yang positiif. Peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan melalui pelatihan atau bimbingan teknis dengan materi pelatihan yang beragam terkait pembelajaran.

          Pelatihan peningkatan kompetensi guru dilakukan secara konvensional melalui pelatihan tatap muka, maupun dengan cara pelatihan dalam jaringan (daring atau online). Materi dalam pelatihan daring untuk guru tidak hanya berisi materi mengenai TIK itu sendiri, tapi tetap beragam termasuk mengenai metode pembelajaran. TIK di dalam pelatihan daring dijadikan sebagai sarana dalam pelatihan sehingga ada dua keuntungan yang diperoleh oleh guru peserta pelatihan yaitu memperoleh materi pelatihan, dan memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan TIK dalam diklat sehingga kompetensi terkait substansi dan kompetensi TIK dapat berekskalasi.

          Pada tahun 2016 ini, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Kemendikbud) masih tetap menyelenggarakan pelatihan untuk guru secara daring, dengan memperkaya materi pelatihan yang disampaikan. Sesuai dengan tugas dan fungsi Pustekkom sebagai penanggungjawab TIK untuk pendidikan nasional, maka materi pelatihan tetap terkait dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Di dalam modul ini, Anda akan mempelajari metode pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan unsur pemanfaatan TIK di dalam strategi penerapannya.

          Tujuan
          Modul ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya guru yang sedang mengikuti program Peningkatan Kompetensi TIK Guru secara Online. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda memiliki kompentensi sebagai berikut:
          1. Menjelaskan konsep pembelajaran berbasis masalah
          2. Merancang strategi pembelajaran berbasis masalah di kelas.

          Ruang Lingkup
          Modul ini berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning”. Yang menjadi fokus pembahasan adalah mengenai konsep dan gambaran umum pembelajaran masa kini yang berpusat pada peserta didik guna menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ruang lingkup materi yang akan dibahas di dalam modul ini dibagi ke dalam 2 (dua) Kegiatan Belajar, yaitu (1) Konsep Pembelajaran Berbasis Masalah, dan (2) Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan memiliki pemahaman yang sama mengenai prinsip terkait pembelajaran berbasis masalah, aturan dan tatacara dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah.

          Cara Penggunaan Modul
          Pertama, Anda disarankan untuk mempelajari modul ini secara bertahap dan mandiri, yaitu mulailah dari materi pembelajaran yang disajikan pada Kegiatan Belajar-1.

          Kedua, setelah selesai mempelajari materi pembelajaran yang diuraikan pada Kegiatan Belajar-1 dan mengerjakan soal-soal latihannya serta telah yakin memahaminya, barulah Anda diperkenankan untuk mempelajari materi pembelajaran yang disajikan pada Kegiatan Belajar-2. Kerjakanlah semua soal latihan yang disediakan.

          Setelah Anda berhasil menjawab soal-soal latihan yang tersedia di bagian akhir Kegiatan Belajar-2 80% benar, maka barulah Anda dikatakan telah memahami sebagian besar atau keseluruhan materi pembelajaran yang diuraikan pada Kegiatan Belajar-2. Sebagai tindak lanjut dari keberhasilan Anda mengerjakan 80% benar soal-soal latihan, Anda diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal-soal atau Tes Akhir Modul (TAM).

          Di dalam modul ini tersedia beberapa soal latihan dan hendaknya semua soal latihan ini Anda kerjakan. Dengan mengerjakan semua soal latihan yang ada diharapkan Anda akan dapat menilai sendiri tingkat penguasaan atau pemahaman Anda terhadap materi yang terdapat di dalam modul ini. Keuntungan lainnya dari mengerjakan semua soal latihan adalah bahwa Anda dapat mengetahui bagian-bagian mana dari materi yang disajikan di dalam modul ini yang masih belum sepenuhnya Anda pahami.

            Download Modul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

            Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas modul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

            Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning



            Download File:

            Model Pembelajaran Problem Based Learning.pdf
            Model Pembelajaran Problem Based Learning.docx


            Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file modul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Semoga bisa bermanfaat.
            Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013

            Diposting oleh Pada 11/16/2017 12:06:00 PM dengan No comments

            Berikut ini adalah Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013. Berkas ini merupakan salah satu modul materi Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum 2013 SMK. Download file format .docx Microsoft Word dan PDF.

            Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013
            Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013

            Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013

            Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013:

            Pengertian dan cara menyusun indikator pencapaian kompetensi Didalam RPP maupun silabus, salah satu komponen yang harus disusun oleh guru adalah indikator pencapaian kompetensi. Bagaimana cara menyusun indikator pencapaian kompetensi? Dan apa pula pengertian indikator?

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), indikator adalah sesuatu yg dapat memberikan atau menjadi petunjuk atau keterangan. Jika dikaitkan dengan pembelajaran, indikator merupakan petunjuk bagi guru apakah hasil pembelajaran telah tuntas atau belum. Sederhananya, indikator pencapaian kompetensi adalah garis-garis besar yang harus dicapai oleh siswa selama pembelajaran berlangsung.

            Misalnya, Dalam satu pertemuan, siswa harus mampu menyebutkan nama-nama binatang melata. Maka pembelajaran dilaksanakan semata-mata agar siswa dapat menyebutkan nama-nama binatang melata. Ketika siswa sudah mampu menyebutkan nama-nama binatang melata berarti pembelajaran telah tuntas, sebaliknya jika siswa belum mampu menyebutkan nama-nama binatang melata, pembelajaran belum tuntas.

            Jadi, indikator merupakan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa atau dengan kata lain adalah perubahan yang diharapkan yang terjadi pada diri siswa pada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan setelah pembelajaran berlangsung, untuk mengetahuinya dilaksanakan melalui evaluasi, apakah dilakukan dengan tes lisan, tertulis atau tanya jawab.

            Untuk menyusun indikator pelajaran perlu diketahui terlebih dahulu syarat-syarat yang harus dipenuhi, banyak orang menyarankan agar menggunakan metoda SMART.

            S pecific : Indikator yang dibuat haruslah berfokus pada satu kemampuan.
            M easurable : indikator harus dapat diukur dan dievaluasi.
            A chievable : indikator harus bisa diraih atau dicapai oleh siswa.
            R eality : indikator harus Nyata dalam prosesnya.
            T ime : Perhitungan waktu mencukupi.

            Selain kelima syarat di atas, guru memerlukan kata kerja operasional, kata kerja biasanya mengacu pada taksonomi bloom. Berikut beberapa kata kerja yang bisa dipakai oleh guru dalam merumuskan indikator yang akan dicapai untuk dituangkan kedalam RPP.

              Download Modul Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013

              Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

              Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013



              Download File:

              Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013.docx
              Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013.pdf


              Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file tentang Pengertian dan Cara Menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) SMK Kurikulum 2013. Semoga bisa bermanfaat.
              Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK

              Diposting oleh Pada 11/15/2017 03:05:00 PM dengan No comments

              Berikut ini adalah berkas modul Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK. Download file format .docx Microsoft Word dan PDF.

              Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK
              Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK

              Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK

              Berikut ini kutipan teks dari isi berkas modul Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK yang merupakan salah satu materi BIMTEK (Bimbingan Teknis) Implementasi Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMK - Dirjen Dikdasmen - Kemdikbud Tahun 2017 :

              Konsep
              Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih, yang dilaksanakan di kelas teori, kelas praktik dan/atau dunia kerja. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

              Setiap guru di setiap satuan pendidikan wajib menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar. Hal ini sangat penting, karena RPP merupakan rencana tindakan yang akan dilakukan oleh guru ketika ia mengajar, sedemikian rupa sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Milkova (www.crlt.umich.edu, 20/03/2017), bahwa rencana pembelajaran merupakan peta perjalanan kegiatan mengajar yang memuat tentang apa-apa yang perlu dipelajari oleh para siswa dan bagaimana kegiatan pembelajaran dilaksanakan sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif.

              Penyusunan RPP dilakukan sebelum awal semester atau awal tahun pelajaran dimulai dan perlu diperbarui sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

              Milkova (www.crlt.umich.edu, 20/03/2017), menyatakan bahwa terdapat tiga komponen kunci rencana pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran (bagi siswa), aktifitas pembelajaran, dan strategi untuk mengecek pemahaman siswa (keberhasilan siswa belajar). Dengan demikian penyusunan RPP harus menerapkan prinsip-prinsip pedagogis secara tertulis untuk direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang efektif dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. RPP disusun agar proses pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 

              Selain prinsip-prinsip di atas, penyusunan RPP harus juga memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: (a) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik; (b) partisipasi aktif peserta didik; (c) berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian; (d) pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan; (e) pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi; (f) penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar; (g) mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya; (h) penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi; (i) pembelajaran mata pelajaran umum harus mendukung pencapaian kompetensi keahlian kejuruan.

              Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh masing-masing guru atau kelompok guru mata pelajaran tertentu yang difasilitasi dan disupervisi oleh kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah, atau melalui MGMP antar sekolah atau antar wilayah yang dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan. Dalam mengembangkan RPP, guru harus memperhatikan silabus, buku teks peserta didik, dan buku guru.

              Deskripsi
              Komponen dan Sistematika RPP
              Mengacu pada Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

              Sebagaimana telah disebutkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan untuk satu kali pertemuan atau lebih.

              Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun harus memuat komponen-komponen sebagai berikut:
              a. identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
              b. identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
              c. kelas/semester;
              d. materi pokok;
              e. alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
              f. tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
              g. kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
              h. materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
              i. metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai; 
              j. media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
              k. sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
              l. langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
              m. penilaian hasil pembelajaran.

              Langkah-langkah Penyusunan RPP
              RPP disusun melalui langkah-langkah berikut.

              a. Analisis Program Semester
              Analisis program semester merupakan langkah awal sebelum menyusun RPP. Analisis ini dikembamgkan berdasarkan alur pencapaian kompetensi, dimaksudkan untuk menentukan urutan pembelajaran kompetensi dasar (KD) per semester yang dikembangkan berdasarkan silabus. Analisis program semester juga dilakukan untuk menentukan alokasi waktu yang di setiap pasangan kompetensi dasar (KD). Tabel 1 berikut merupakan contoh analisis program semester pada mata pelajaran Simulasi dan Komunikasi Digital.

              b. Mengembangkan RPP dengan menggunakan format RPP yang pengisiannya mengikuti rambu-rambu pengembangan RPP.

                Download Modul Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK

                Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas modul Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

                Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK



                Download File:

                Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK.pdf
                Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK.docx


                Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file modul Perancangan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum 2013 SMK. Semoga bisa bermanfaat.

                Formulir Kontak

                Nama

                Email *

                Pesan *