Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

Diposting oleh Pada 5/25/2018 09:22:00 AM dengan No comments

Berikut ini adalah berkas Juknis PPDB Tahun 2018 yaitu Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat. Download file format PDF.

Juknis PPDB Tahun 2018
Juknis PPDB Tahun 2018

Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018:

PPDB bertujuan untuk menjamin penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, transparan, akuntabel, nondiskriminatif, dan berkeadilan dalam rangka mendorong peningkatan akses layanan pendidikan.

Nondiskriminatif dikecualikan bagi sekolah yang secara khusus melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu.

    Download Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

    Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat



    Download File:

    Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat.pdf


    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Juknis PPDB Tahun 2018 Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat. Semoga bisa bermanfaat.
    Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat PASKIL Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK

    Diposting oleh Pada 5/23/2018 05:18:00 AM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat (PASKIL) Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK. Download file format .doc atau .docx Microsoft Word.

    Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat PASKIL Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK
    Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat PASKIL Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK

    Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat (PASKIL) Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK

    Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat (PASKIL) Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK ini silahkan lihat preview salah satu file dan unduh file lainnya pada link di bawah ini:

    Contoh Program Kegiatan Pesantren Kilat (PASKIL) Ramadhan di SD/MI



    Download File:

    Contoh Jadwal Pesantren Kilat Ramadhan.docx
    Contoh Program Kegiatan Ramadhan di SD.docx
    Contoh Program Kerja (PASKIL) Pesantren Kilat SD-MI.doc
    Contoh Program Kerja (PASKIL) Pesantren Kilat SMP-MTs.doc
    Contoh Program Kerja PASKIL.doc
    Contoh Rencana Program Kerja Ramadhan.docx
    Contoh Susunan Acara Pesantren Kilat Ramadhan.docx
    Program Pesantren Kilat Ramadhan SD.doc
    Buku Kegiatan Ramadhan Pesantren Kilat
    Contoh Formulir Pesantren Kilat
    Proposal Kegiatan Ramadhan


    Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Contoh Program Kerja Kegiatan Pesantren Kilat (PASKIL) Ramadhan SD MI SMP MTs SMA MA SMK MAK. Semoga bisa bermanfaat.
    Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan

    Diposting oleh Pada 5/22/2018 05:06:00 PM dengan No comments

    Berikut ini adalah berkas Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan. Download file format PDF.

    Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan
    Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan

    Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan

    Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan mudah-mudahan bisa menjadi bahan referensi terkait dengan contoh isi buku kegiatan bulan ramadhan, buku kegiatan ramadhan siswa pdf, isi buku kegiatan ramadhan, buku kegiatan ramadhan doc, buku kegiatan siswa bulan ramadhan, ownload buku kegiatan ramadhan doc, buku agenda ramadhan, buku amaliyah ramadhan dan lain-lain.

      Download Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan



      Download File:
      Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan.pdf

      Berikut ini kutipan teks dari isi Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan:

      Pengertian, Syarat dan Rukun Puasa
      Apa itu Puasa? Puasa ialah menahan diri dari makan dan minum serta melakukan perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sehingga terbenamnya matahari.

      Hukum Puasa Hukum puasa terbagi tiga yaitu:
      • Wajib - Puasa pada bulan Ramadhan.
      • Sunat - Puasa pada hari-hari tertentu.
      • Haram – Puasa pada hari-hari yang dilarang berpuasa.

      Syarat Wajib Puasa
      • Beragama Islam 
      • Baligh (telah mencapai umur dewasa)
      • Berakal sehat Mampu untuk mengerjakannya

      Rukun Puasa
      Niat mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan puasa wajib) atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar. Meninggalkan sesuatu yang dapat membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

      Syarat Sah Puasa
      • Beragama Islam
      • Berakal / mumayyiz (dapat membedakan antara yang baik dan buruk) 
      • Tidak dalam haid, nifas dan wiladah (melahirkan anak) bagi kaum wanita 
      • Hari yang sah berpuasa.

      Sunat Berpuasa
      • Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman
      • Melambatkan bersahur Meninggalkan perkataan atau perbuatan keji
      • Segera berbuka setelah masuknya waktu berbuka
      • Mendahulukan berbuka dari pada shalat Maghrib
      • Berbuka dengan buah kurma, jika tidak ada dengan makanan yang manis
      • Membaca doa berbuka puasa

      Perkara Makruh Ketika Berpuasa
      • Selalu berkumur-kumur baik ketika berwudhu maupun hal-hal lain
      • Merasakan sisa makanan dengan lidah
      • Berbekam kecuali perlu

      Hal yang membatalkan Puasa
      • Memasukkan sesuatu ke dalam rongga anggota badan
      • Muntah dengan sengaja
      • Bersetubuh atau mengeluarkan mani/ sperma dengan sengaja
      • Kedatangan haid atau nifas (sehabis melahirkan)
      • Melahirkan anak atau keguguran
      • Gila walaupun sekejap
      • Mabuk ataupun pingsan
      • Murtad atau keluar dari agama Islam (berpindah keyakinan)

      Hari yang Disunatkan Berpuasa
      • Hari Senin dan Kamis
      • Hari putih (setiap 13, 14, dan 15 hari dalam bulan Islam)
      • Hari Arafah (9 Zulhijjah) bagi orang yang tidak mengerjakan haji
      • Enam hari dalam bulan Syawal
      • Bulan Rajab dan Sya'ban

      Hari yang diharamkan Berpuasa
      • Hari raya Idul Fitri (1 Syawal)
      • Hari raya Idul Adha (10 Zulhijjah)
      • Hari syak (29 Syaaban)
      • Hari Tasrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah)

      Shalat Idul Fitri
      Tatacara Pelaksanaan Shalat Idul Fitri: Dua roka'at berjama'ah, dengan tujuh takbir di roka'at pertama (selain takbir otul ihrom) dan lima takbir di roka'at kedua (selain takbir intiqol atau takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain). Adapun tata caranya adalah sebagai berikut :
      1. Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.
      2. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir (selain takbiratul ihrom) sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu 'Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, "Ibnu 'Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir."
      3. Di antara takbir-takbir yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud, ia mengatakan, "Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah." Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan, "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).
      4. Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka'at pertama dan surat Al Qomar pada raka'at kedua. Ada riwayat bahwa Sayyidina 'Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Lait siy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat 'Idul Adha dan 'Idul Fithri. la pun menjawab, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca "Qaaf, wal qur'anil majiid" (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa'atu wan syaqqol qomar" (surat Al Qomar).” [HR Muslim no. 891]. Boleh juga membaca surat Al A'laa pada raka'at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka'at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum'at, dianjurkan pula membaca surat Al A'laa pada raka'at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka'at kedua, pada shalat 'ied maupun shalat Jum'at. Dari An Nu'man bin Basyir, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat 'ied maupun shalat Jum'at "Sabbihisma robbikal a'la" (surat Al A'laa) dan "Hal ataka hadit sul ghosiyah" (surat Al Ghosiyah)." An Nu'man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum'at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat".[HR Muslim no. 878.]
      5. Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i'tidal, sujud, dst).
      6. Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka'at kedua.
      7. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir (selain takbir bangkit dari sujud) sebelum memulai membaca Al Fatihah.
      8. Kemudian membaca surat A Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
      9. Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.

      Doa Sehari-Hari
      1. Doa Sebelum Tidur; Bismikallahhumma ahyaa wa bismika amuut. Artinya : Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. (HR Bukhari dan Muslim)
      2. Doa Sesudah Bangun Tidur; Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilayhin nusyuur Artinya: Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami. Kepada-Nya lah kami akan kembali (HR Bukhari)
      3. Do'a Masuk WC; Allaahumma innii a'uudzubika minal Khubutsi wal khabaa'its Artinya: Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari syaitan besar laki-laki dan betina. (HR Bukhari dan Muslim)
      4. Do'a Keluar WC; Ghufraanaka. Alhamdulillaahil ladzii adzhaba 'annjil adzaa wa'aafaanii. Artinya: Ku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit ku dan telah menyembuhkan/menyelamatkanku. (HR Abu Daud)
      5. Do'a Ketika Hendak Berpakaian; Biismilaahirrahmaanirrahiimi. Allaahumma innii as-aluka min khayrihi wa khayri maa huwa lahu wa a'uudzubika min syarrihi wa khayri maa huwa lahu. Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan sesuatu yang ada di pakaian ini. Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan pakai an ini dan kejahatan sesuatu yang ada di pakaian ini.
      6. Do'a Ketika Bercermin; Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahassin khuluqii Artinya: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku. (HR Ahmad)
      7. Doa Sebelum Makan; Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtana wa qinaa 'adzaa-bannaari Bismillahirrahmaaniraahiim Artinya: Ya Allah berkahilah kami dalam rezki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (HR Ibnu as-Sani)
      8. Doa Sesudah Makan Alhamdulillahilladzii ath'amanaa wa saqaanaa wa ja'alanaa muslimiin Artinya: Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami muslim. (HR Abu Daud)
      9. Do'a Masuk Rumah Assalaamu 'alaynaa wa'alaa 'ibaadillahish shaalihiina. Allaahumma innii as-aluka khayral mawliji wa khayral makhraji. Bismillahi walajnaa wa bismillaahi kharahnaa wa 'alallahi tawakkalnaa, alhamdulilaahil ladzii awaanii. Artinya: Semoga Allah mencurahkan keselamat an atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang shalih. Ya Allah, bahwasanya aku memohon pada-Mu kebaikan tempat masuk dan tempat keluarku. Dengan menyebut nama-Mu aku masuk, dan dengan mneyebut nama Allah aku keluar. Dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah diri. Segala puji bagi Allah yang telah melindungi kami. (HR Abu Daud)
      10. Do'a Keluar Rumah; Bismilaahi tawakkaltu 'alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaah. Artinya: Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuat anselain dengan Allah saja. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
      11. Do'a Masuk Masjid; Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika. Artinya: Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. (H.R. Muslim)
      12. Do'a Keluar Masjid; Allaahumma innii as'aluka min fadhlika Artinya: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia-Mu. (HR Muslim, Abu Daud, an-Nasa'l dan Ibnu Majah)

      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Contoh Buku Agenda Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan. Semoga bisa bermanfaat.
      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

      Diposting oleh Pada 5/21/2018 11:30:00 PM dengan No comments

      Berikut ini adalah berkas Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat. Download file format PDF.

      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat
      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat

      Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Atau Bentuk Lain Yang Sederajat ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat



      Download File:
      Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat.pdf


      Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 Tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) TK SD SMP SMA SMK dan Sederajat:

      PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA TAMAN KANAK-KANAK, SEKOLAH DASAR, SEKOLAH MENENGAH PERTAMA, SEKOLAH MENENGAH ATAS, SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN, ATAU BENTUK LAIN YANG SEDERAJAT.

      BAB I
      KETENTUAN UMUM

      Pasal 1

      Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
      1. Taman Kanak-Kanak yang selanjutnya disingkat TK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal atau bentuk lain pendidikan formal yang sederajat.
      2. Sekolah adalah Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau bentuk lain yang sederajat.
      3. Penerimaan Peserta Didik Baru yang selanjutnya disingkat PPDB, adalah penerimaan peserta didik baru pada TK dan Sekolah.
      4. Sertifikat Hasil Ujian Nasional yang selanjutnya disingkat SHUN adalah surat keterangan yang berisi nilai ujian nasional sebagai tingkat capaian standar kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu yang dinyatakan dalam kategori.
      5. Rombongan Belajar adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satuan kelas dalam satu satuan pendidikan.
      6. Kementerian adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
      7. Menteri adalah Menteri yang menangani urusan di bidang Pendidikan.

      BAB II
      TUJUAN

      Pasal 2
      (1) PPDB bertujuan untuk menjamin penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, transparan, akuntabel, nondiskriminatif, dan berkeadilan dalam rangka mendorong peningkatan akses layanan pendidikan.

      (2) Nondiskriminatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi sekolah yang secara khusus melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu.

      BAB III
      TATA CARA PPDB

      Bagian Kesatu
      Waktu dan Mekanisme PPDB

      Pasal 3
      (1) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah melaksanakan PPDB dimulai pada bulan Mei setiap tahun.

      (2) Proses pelaksanaan PPDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai dari tahap pengumuman secara terbuka penerimaan calon peserta didik baru pada Sekolah yang bersangkutan sampai dengan tahap penetapan peserta didik setelah proses daftar ulang. 

      (3) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib mengumumkan secara terbuka proses pelaksanaan dan informasi PPDB paling sedikit terkait:
      a. persyaratan;
      b. proses seleksi;
      c. daya tampung berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai rombongan belajar;
      d. biaya pungutan khusus untuk SMA/SMK/bentuk lain yang sederajat bagi daerah yang belum menerapkan wajib belajar 12 (dua belas) tahun; dan
      e. hasil penerimaan peserta didik baru melalui papan pengumuman Sekolah maupun media lainnya.

      Pasal 4
      (1) PPDB dilaksanakan dengan menggunakan mekanisme:
      a. dalam jaringan (daring); atau
      b. luar jaringan (luring).

      (2) Dalam pelaksanaan PPDB, Sekolah hanya dapat menggunakan salah satu jenis mekanisme sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

      (3) Pelaksanaan PPDB diutamakan menggunakan mekanisme dalam jaringan (daring).

      (4) Dalam hal PPDB tidak dapat dilaksanakan melalui mekanisme dalam jaringan (daring), maka PPDB dilaksanakan melalui mekanisme luar jaringan (luring).

      Bagian Kedua
      Persyaratan

      Pasal 5
      Persyaratan calon peserta didik baru pada TK atau bentuk lain yang sederajat adalah:
      a. berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 5 (lima) tahun untuk kelompok A; dan
      b. berusia 5 (lima) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun untuk kelompok B. 

      Pasal 6
      (1) Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD atau bentuk lain yang sederajat, berusia:
      a. 7 (tujuh) tahun; atau
      b. paling rendah 6 (enam) tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

      (2) Sekolah wajib menerima peserta didik yang berusia 7 (tujuh) tahun.

      (3) Pengecualian syarat usia paling rendah 6 (enam) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yaitu paling rendah 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan pada tanggal 1 Juli tahun berjalan yang diperuntukkan bagi calon peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa/bakat istimewa dan kesiapan psikis yang dibuktikan dengan rekomendasi tertulis dari psikolog profesional.

      (4) Dalam hal psikolog profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak tersedia, rekomendasi dapat dilakukan oleh dewan guru Sekolah.

      (5) Ketentuan pada ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan batas daya tampungnya berdasarkan ketentuan rombongan belajar dalam Peraturan Menteri.

      Pasal 7
      Persyaratan calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) SMP atau bentuk lain yang sederajat:
      a. berusia paling tinggi 15 (lima belas) tahun; dan
      b. memiliki ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SD atau bentuk lain yang sederajat.

      Pasal 8
      (1) Persyaratan calon peserta didik baru kelas 10 (sepuluh) SMA/SMK atau bentuk lain yang sederajat:
      a. berusia paling tinggi 21 (dua puluh satu) tahun;
      b. memiliki ijazah/STTB SMP atau bentuk lain yang sederajat; dan
      c. memiliki SHUN SMP atau bentuk lain yang sederajat. 

      (2) SMK bidang keahlian/program keahlian/kompetensi keahlian tertentu dapat menetapkan tambahan persyaratan khusus dalam penerimaan peserta didik baru kelas 10 (sepuluh).

      (3) Persyaratan calon peserta didik baru kelas 10 (sepuluh) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dikecualikan bagi calon peserta didik yang berasal dari Sekolah di luar negeri.

      Pasal 9
      Syarat usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 dibuktikan dengan akta kelahiran atau surat keterangan lahir yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang dan dilegalisir oleh lurah setempat sesuai dengan domisili calon peserta didik.

      Pasal 10
      Persyaratan calon peserta didik baru baik warga negara Indonesia atau warga negara asing untuk kelas 7 (tujuh) atau kelas 10 (sepuluh) yang berasal dari Sekolah di luar negeri selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8, wajib mendapatkan surat keterangan dari Direktur Jenderal yang menangani bidang pendidikan dasar dan menengah.

      Pasal 11
      Ketentuan terkait persyaratan usia dan memiliki SHUN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 8 tidak berlaku kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus yang akan bersekolah di Sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan inklusif. 

      Bagian Ketiga
      Seleksi

      Pasal 12
      (1) Seleksi calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD atau bentuk lain yang sederajat mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sebagai berikut:
      a. usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1); dan
      b. jarak tempat tinggal ke Sekolah sesuai dengan zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai kewenangannya.

      (2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.

      (3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.

      (4) Dalam seleksi calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan tes membaca, menulis, dan berhitung.

      Pasal 13
      Seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) SMP atau bentuk lain yang sederajat mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar sebagai berikut:
      a. jarak tempat tinggal ke Sekolah sesuai dengan ketentuan zonasi;
      b. nilai hasil ujian SD atau bentuk lain yang sederajat; dan 
      c. prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui Sekolah sesuai dengan kewenangan daerah masing-masing. 

      Pasal 14
      (1) Seleksi calon peserta didik baru kelas 10 (sepuluh) SMA atau bentuk lain yang sederajat mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar sebagai berikut:
      a. jarak tempat tinggal ke Sekolah sesuai dengan ketentuan zonasi;
      b. SHUN SMP atau bentuk lain yang sederajat; dan
      c. prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui Sekolah.

      (2) Seleksi calon peserta didik baru kelas 10 (sepuluh) SMK atau bentuk lain yang sederajat mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar sebagai berikut:
      a. SHUN SMP atau bentuk lain yang sederajat; dan
      b. prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui Sekolah.

      (3) Khusus calon peserta didik pada SMK atau bentuk lain yang sederajat, selain mengikuti seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat melakukan seleksi bakat dan minat sesuai dengan bidang keahlian/program keahlian/kompetensi keahlian yang dipilihnya dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan Sekolah dan institusi pasangan/asosiasi profesi.

      Pasal 15
      (1) Sekolah yang berdasarkan hasil seleksi memiliki jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung, wajib melaporkan kelebihan calon peserta didik tersebut kepada dinas pendidikan sesuai dengan kewenangannya.

      (2) Dinas pendidikan sesuai dengan kewenangannya wajib menyalurkan kelebihan calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada Sekolah lain sesuai dengan zonasi yang telah ditetapkan. 

      Bagian Keempat
      Sistem Zonasi

      Pasal 16
      (1) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari Sekolah paling sedikit sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

      (2) Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

      (3) Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut berdasarkan:
      a. ketersediaan anak usia Sekolah di daerah tersebut; dan
      b. jumlah ketersediaan daya tampung dalam rombongan belajar pada masing-masing Sekolah.

      (4) Dalam menetapkan radius zona sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemerintah daerah melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala Sekolah.

      (5) Bagi Sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.

      (6) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat menerima calon peserta didik melalui:
      a. jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona terdekat dari Sekolah paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima; dan
      b. jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar zona terdekat dari Sekolah dengan alasan khusus meliputi perpindahan domisili orangtua/wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

      Bagian Kelima
      Daftar Ulang dan Pendataan Ulang

      Pasal 17
      (1) Daftar ulang dilakukan oleh calon peserta didik baru yang telah diterima untuk memastikan statusnya sebagai peserta didik pada Sekolah yang bersangkutan.

      (2) Pendataan ulang dilakukan oleh TK dan Sekolah untuk memastikan status peserta didik lama pada TK dan Sekolah yang bersangkutan.

      Bagian Keenam
      Biaya

      Pasal 18
      (1) Biaya dalam pelaksanaan PPDB pada Sekolah yang menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dibebankan pada dana BOS.

      (2) Pendataan ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) tidak dipungut biaya.

      Pasal 19
      (1) SMA/SMK atau bentuk lain yang sederajat yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi wajib menerima dan membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu yang berdomisili dalam satu wilayah daerah provinsi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

      (2) Peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu  (SKTM) atau bukti lainnya yang diterbitkan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.

      (3) Dalam hal peserta didik memperoleh SKTM dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan perolehannya, akan dikenai sanksi pengeluaran dari Sekolah.

      (4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan berdasarkan hasil evaluasi Sekolah bersama dengan komite Sekolah dan dinas pendidikan provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

      BAB IV
      PERPINDAHAN PESERTA DIDIK

      Pasal 20
      (1) Perpindahan peserta didik antarsekolah dalam satu daerah kabupaten/kota, antarkabupaten/kota dalam satu daerah provinsi, atau antarprovinsi dilaksanakan atas dasar persetujuan Kepala Sekolah asal dan kepala Sekolah yang dituju.

      (2) Dalam hal terdapat perpindahan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka Sekolah yang bersangkutan wajib memperbaharui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

      (3) Perpindahan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib memenuhi ketentuan persyaratan PPDB dan sistem zonasi yang diatur dalam Peraturan Menteri ini.

      Pasal 21
      (1) Peserta didik setara SD di negara lain dapat pindah ke SD atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah memenuhi:
      a. surat pernyataan dari kepala Sekolah asal;
      b. surat keterangan dari Direktur Jenderal yang menangani bidang pendidikan dasar dan menengah; dan 
      c. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan Sekolah yang dituju.

      (2) Peserta didik setara SMP, SMA atau SMK di negara lain dapat diterima di SMP, SMA, SMK atau bentuk lain yang sederajat di Indonesia setelah:
      a. menyerahkan fotokopi ijazah atau dokumen lain yang membuktikan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang sebelumnya;
      b. surat pernyataan dari kepala Sekolah asal;
      c. surat keterangan dari Direktur Jenderal yang menangani bidang pendidikan dasar dan menengah; dan
      d. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan Sekolah yang dituju.

      Pasal 22
      (1) Peserta didik yang berasal dari satuan pendidikan nonformal atau informal dapat diterima di SD atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 1 (satu) setelah lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh SD atau bentuk lain yang sederajat yang bersangkutan.

      (2) Peserta didik jalur nonformal atau informal dapat diterima di SMP atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 7 (tujuh) setelah memenuhi persyaratan:
      a. lulus ujian kesetaraan Paket A; dan
      b. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh SMP atau bentuk lain yang sederajat yang bersangkutan;

      (3) Peserta didik jalur nonformal atau informal dapat diterima di SMA/SMK atau bentuk lain yang sederajat tidak pada awal kelas 10 (sepuluh) setelah:
      a. lulus ujian kesetaraan Paket B; dan
      b. lulus tes kelayakan dan penempatan yang diselenggarakan oleh SMA/SMK atau bentuk lain yang sederajat yang bersangkutan. 

      (4) Dalam hal terdapat perpindahan peserta didik dari satuan pendidikan nonformal atau informal ke SD, SMP, atau SMA/SMK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), maka Sekolah yang bersangkutan wajib memperbaharui Dapodik.

      BAB V
      PELAPORAN DAN PENGAWASAN

      Pasal 23
      (1) Sekolah wajib melaporkan pelaksanaan PPDB dan perpindahan peserta didik antarsekolah setiap tahun pelajaran kepada pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

      (2) Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota wajib memiliki kanal pelaporan untuk menerima laporan masyarakat terkait pelaksanaan PPDB.

      (3) Masyarakat dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui laman http://ult.kemdikbud.go.id.

      Pasal 24
      (1) Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota mengoordinasikan dan memantau pelaksanaan PPDB.

      (2) Kementerian melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan PPDB paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.


      BAB VI
      LARANGAN

      Pasal 25
      Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat yang menerima BOS dari Pemerintah maupun pemerintah daerah, dilarang melakukan pungutan dan/atau sumbangan yang terkait dengan pelaksanaan PPDB maupun perpindahan peserta didik.

      BAB VII
      SANKSI

      Pasal 26
      (1) Pelanggaran terhadap Peraturan Menteri ini diberikan sanksi dengan ketentuan sebagai berikut:
      a. Gubernur/bupati/wali kota memberikan sanksi kepada pejabat dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota berupa:
      1. teguran tertulis;
      2. penundaan atau pengurangan hak;
      3. pembebasan tugas; dan/atau
      4. pemberhentian sementara/tetap dari jabatan;
      b. Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota memberikan sanksi kepada kepala Sekolah, guru, dan/atau tenaga kependidikan berupa:
      1. teguran tertulis;
      2. penundaan atau pengurangan hak;
      3. pembebasan tugas; dan/atau
      4. pemberhentian sementara/tetap dari jabatan.

      (2) Pengenaan sanksi juga berlaku bagi komite Sekolah atau pihak lain yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

      (3) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), selain sanksi administratif juga dapat diberlakukan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

      BAB VIII
      KETENTUAN LAIN-LAIN

      Pasal 27
      (1) Sekolah yang diselenggarakan dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia dapat menerima warga negara asing menjadi peserta didik.

      (2) Ketentuan warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib:
      a. memiliki kemampuan bahasa Indonesia bagi Sekolah dengan pengantar bahasa Indonesia;
      b. memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini; dan
      c. memenuhi ketentuan mengenai warga negara asing di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

      Pasal 28
      Sekolah wajib melakukan pengisian, pengiriman, dan pemutakhiran data peserta didik dan Rombongan Belajar dalam Dapodik secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) semester.

      Pasal 29
      (1) Sekolah yang:
      a. menyelenggarakan pendidikan khusus;
      b. menyelenggarakan pendidikan layanan khusus; dan c. berada di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), dapat melebihi persyaratan usia dalam pelaksanaan PPDB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6 ayat (1) huruf a, Pasal 7 huruf a, dan Pasal 8 ayat (1) huruf a.

      (2) Ketentuan melebihi persyaratan usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi anak yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu. 

      (3) Ketentuan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dikecualikan untuk:
      a. Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat;
      b. Satuan Pendidikan Kerja Sama;
      c. Sekolah Indonesia di Luar Negeri;
      d. Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan khusus;
      e. Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan layanan khusus;
      f. Sekolah berasrama;
      g. Sekolah di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T); dan
      h. Sekolah di daerah yang jumlah penduduk usia Sekolah tidak dapat memenuhi ketentuan jumlah peserta didik dalam 1 (satu) rombongan belajar.

      (4) Pengecualian ketentuan zonasi bagi Sekolah di daerah yang jumlah penduduk usia Sekolah tidak dapat memenuhi ketentuan jumlah peserta didik dalam 1 (satu) rombongan belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf h ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

      Pasal 30
      (1) Pemerintah daerah wajib membuat kebijakan daerah sebagai tindak lanjut atas Peraturan Menteri ini dengan berasaskan objektifitas, transparansi, akuntabilitas, nondiskriminatif, dan berkeadilan.

      (2) Nondiskriminatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi sekolah yang secara khusus melayani peserta didik dari kelompok gender atau agama tertentu.

      Pasal 31
      (5) Dinas Pendidikan wajib memastikan bahwa semua Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dalam proses PPDB telah menerima peserta didik sesuai dengan zonasi yang telah ditetapkan. 

      (6) Dinas Pendidikan dan Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah tidak dapat menetapkan persyaratan lainnya dalam proses PPDB yang bertentangan dengan Peraturan Menteri ini.

      Pasal 32
      Penerapan ketentuan tentang zonasi dan pelaksanaan PPDB secara daring dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan masing-masing daerah.

      Pasal 33
      Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak- Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain yang Sederajat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 660), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

      BAB IX
      KETENTUAN PENUTUP

      Pasal 34
      Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 

      Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.


      Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 Mei 2018
      MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,
      TTD.
      MUHADJIR EFFENDY



      Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Atau Bentuk Lain Yang Sederajat. Semoga bisa bermanfaat.
      Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

      Diposting oleh Pada 5/15/2018 09:21:00 AM dengan No comments

      Berikut ini adalah berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Materi Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013 Edisi II 2018 Satgas GLS Ditjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Download file format PDF dan .docx Microsoft Word.

      Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018
      Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

      Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

      Dalam modul ini dibahas antara lain Latar Belakang, Tujuan Penyusunan, Masalah, Solusi, Implementasi Kegiatan Literasi, Persiapan, Rapat Koordinasi, Pembentukan Tim Literasi Sekolah, Sosialisasi, Persiapan Sarana Prasarana, Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi, Tindak Lanjut, Strategi Literasi Dalam Pembelajaran, Tujuan, Peta Konsep Strategi Literasi, Indikator literasi dalam Pembelajaran, Alat Bantu, Contoh Penerapan Strategi Literasi dalam Pembelajaran, dan lain-lain.

      Berikut ini kutipan teks dari isi berkas Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018:

      Pengantar
      Pasal 4 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa: Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah yang belum siap melaksanakan K13 untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2006 sambil melakukan persiapan-persiapan sehingga selambat-lambatnya pada tahun 2019/2020 sekolah tersebut telah mengimplementasikan K13 setelah mencapai kesiapan yang optimal.

      Untuk memfasilitasi sekolah (SMP) meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru dan membantu sekolah mengimplementasikan K13, Direktorat PSMP menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 bagi SMP. Pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 tersebut – dengan sejumlah program pendukung lainnya – diharapkan mampu menjadikan jumlah SMP pelaksana K13 rata-rata naik 25% setiap tahun. Pada tahun 2016 ditargetkan sekitar 9.000 SMP telah melaksanakan K13, sementara pada tahun 2017 diharapkan 18.000 SMP (50%), pada tahun 2018 kurang lebih 27.000 (75%), dan pada tahun 2019 semua SMP (100%) di seluruh wilayah Indonesia.

      Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan K13 yang dilaksanakan oleh Direktorat PSMP pada tahun 2015, masalah utama yang dihadapi oleh para guru dalam pelaksanaan K13 adalah dalam menyusun RPP, mendisain instrumen penilaian, melaksanakan pembelajaran, melakukan penilaian, dan mengolah dan melaporkan hasil penilaian. Memperhatikan hal tersebut, pelatihan dan pendampingan pelaksanaan K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran dan penilaian, menyajikan pembelajaran dan melaksanakan penilaian, serta mengolah dan melaporkan hasil penilaian pencapian kompetensi peserta didik. Pada tahun 2018 dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 perlu dilakukan penyesuaian.

      Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menuntut guru untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai- nilai utama PPK yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegaiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan Abad 21 seperti khususnya keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skills), keterampilan untuk bekerjasama (Collaboration), kemampuan untuk mencipta atau daya cipta (Creativity), dan kemampuan untuk berkomunikasi (Commnication).

      Penguatan Pendidikan Karakter merupakan platform pendidikan nasional yang memperkuat Kurikulum 2013. Modul Pelatihan Kurikulum 2013 ini telah mengintegrasikan tiga strategi implementasi Penguatan Pendidikan Karakter yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat sehingga implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter, kecakapan literasi, dan HOTS.

      Untuk menjamin bahwa pelatihan pelaksanaan K13 di semua jenjang baik nasional, provinsi, kabupaten/kota maupun sekolah sasaran mencapai hasil yang diharapkan, Direktorat PSMP menetapkan bahwa materi pelatihan untuk semua jenjang tersebut menggunakan materi standar yang disusun oleh Direktorat PSMP bersama dengan Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan Pusat Penilaian Pendidikan. Materi-materi tersebut didasarkan pada dokumen-dokumen dan ketentuan-ketentuan terakhir mengenai pelaksanaan K13. Setiap unit materi terdiri atas tujuan, uraian materi, tahapan sesi pelatihan, teknik penilaian kinerja peserta pelatihan, dan daftar sumber-sumber bahan untuk pengayaan. Selain itu, materi dilengkapi dengan sejumlah Lembar Kerja yang memberi panduan dan/atau inspirasi kegiatan pelatihan.

      Penyusunan materi pelatihan ini terselesaikan atas peran serta berbagai pihak. Direktorat PSMP menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penyusun dan penelaah yang telah bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan materi pelatihan yang layak. Semoga materi yang disusun ini merupakan amal baik yang tiada putus amalnya.

      Materi pelatihan ini hendaknya dipandang sebagai bahan minimal dari pelatihan yang dilaksanakan pada setiap jenjang. Selain itu, dengan dinamisnya perkembangan kurikulum, materi yang disusun ini perlu selalu disesuaikan dengan perkembangan.

      Akhirnya Direktorat PSMP mengharapkan materi ini digunakan sebaik-baiknya oleh pelaksana pelatihan implementasi K13 pada tahun 2018 pada tingkat SMP. Masukan- masukan untuk penyempurnaan materi ini sangat diharapkan dari berbagai pihak, terutama dari para instruktur dan peserta pelatihan.

      Latar Belakang
      Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai 'keberaksaraan' dan selanjutnya dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal, ―melek baca dan tulis" ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.

      Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja. Menurut Word Economic Forum (2016), peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad XXI, yakni literasi dasar (bagaimana peserta didik menerapkan keterampilan berliterasi untuk kehidupan sehari-hari), kompetensi (bagaimana peserta didik menyikapi tantangan yang kompleks), dan karakter (bagaimana peserta didik menyikapi perubahan lingkungan mereka). Berikut adalah penggambaran hal itu (Word Economic Forum, 2016).

      Selain itu, ada juga tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai oleh peserta didik, yakni literasi kesehatan, keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan kriminal (bagi siswa SD disebut ―sekolah aman‖) (Wiedarti, Mei 2016). Literasi gesture pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para difabel. Semua ini merambah pada pemahaman multiliterasi. Dalam lingkup karakter, penguatan pendidikan karakter (PPK) di Indonesia mengacu pada lima nilai utama, yakni (1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas (Depdikbud, 2016).

      Menurut Cope dan Kalantzis (2000), pedagogi multiliterasi yang dikembangkan oleh New London Group merupakan pandangan yang melihat semakin berkembangnya dimensi literasi yang multibahasa dan multimodal. Dengan demikian, sekolah dan masyarakat perlu mengembangkan praktik dan keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk-bentuk teks konvensional maupun bentuk-bentuk teks inovatif, simbol, dan multimedia (Abidin, 2015). Beragam teks yang digunakan dalam satu konteks ini disebut teks multimodal (multimodal text). Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi--menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran dengan memadukan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi)--diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat.

      Hal ini sesuai dengan apa yang tersaji dalam peta jalan gerakan literasi nasional (GLN). Dalam buku tersebut, makna dan cakupan literasi meliputi: :‖(a) literasi sebagai rangkaian kecakapan membaca, menulis, berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; (b) literasi sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; (c) literasi sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan , dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari, (d) literasi sebagai teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.

      Berdasarkan uraian tersebut, istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian, Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing.

      Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun sekolah yang literat. Untuk itu, implementasi GLS pun merupakan sebuah proses agar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akhirnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

      Saat ini kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya guru dan siswa. Hal ini disebabkan antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah selain buku-teks pelajaran. Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.

      Pada sisi lain, hasil beberapa tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

      PIRLS atau Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca siswa kelas IV. PISA atau Programme for International Student Assessment mengevaluasi kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. INAP atau Indonesia National Assessment Programme (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca, matematika, dan sains.

      INAP/AKSI disejajarkan dengan PIRLS karena sama-sama untuk SD kelas IV. Hasil AKSI menunjukkan bahwa kemampuan yang berkategori kurang adalah 77,13% untuk matematika; 46,83% untuk membaca, dan 73,61% untuk sains. Yang berkategori cukup adalah 20,58% untuk matematika; 47,11% untuk membaca; 25,38% untuk sains. Yang berkategori baik adalah 2,29% untuk matematika; 6,06% untuk membaca, dan 1,01% untuk sains.

      Sejalan dengan hal tersebut, hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies tahun 2016 untuk tingkat kecakapan orang dewasa juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Indonesia berada di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap siswa. Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-Laksono. ed., 2016).

      Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum sepenuhnya menyentuh aspek pembelajaran di kelas karena kondisi sekolah dan kelas berbeda-beda. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun 2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, (2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar, (3) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama, (4) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Luar Biasa, (5) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas; (6) Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, (7) Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, (8) Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama; (9) Strategi Literasi dalam Pembelajaran untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama (tahun 2017). Beberapa panduan GLS telah direvisi. Seperti halnya buku ini (edisi II), beberapa panduan GLS ediisi revisi juga diterbitkan pada tahun 2018.

      Salah satu pelatihan tersebut adalah pelatihan dan/atau penyegaran instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan terutama menekankan pada peningkatan keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21, termasuk keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013.

      Materi penyegaran Kurikulum 2013 ini merupakan edisi II (2018) dengan beberapa penambahan dan penyempurnaan. Seperti halnya edisi I yang terbit tahun 2017, materi ini dilengkapi dengan materi presentasi dan alat bantu berwujud pengatur grafis pada bagian akhir yang memandu aktivitas peserta untuk mendalami dan mengimplementasi strategi literasi dalam pembelajaran. Semua perangkat ini diharapkan dapat memandu instruktur dan pemangku kepentingan di jenjang nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah dalam pelaksanaan, pengembangan, dan penguatan strategi literasi dalam pembelajaran.

      Tujuan Penyusunan
      Tujuan penyusunan materi penyegaran ini adalah untuk:
      1. Memberikan inspirasi kepada peserta pelatihan untuk memanfaatkan beragam sumber belajar, termasuk buku-teks-pelajaran dan buku-nonteks-pelajaran dalam pembelajaran.
      2. Memandu peserta pelatihan menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran guna mengembangkan karakter, meningkatkan keterampilan berliterasi, dan meningkatkan kompetensi.

      Masalah
      Masalah 1
      Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berliterasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Guru seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Saat guru meminta siswa membaca, guru pun juga perlu membaca untuk memberi contoh yang baik bagi siswanya. Tradisi literasi (kemampuan komunikasi yang artikulatif secara verbal dan tulisan serta kemampuan menyerap informasi melalui teks) juga belum tumbuh secara koheren dalam diri beberapa guru.
      Masalah 2
      Upaya untuk menyosialisasikan dan meningkatkan keterampilan berliterasi di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru. Materi ajar dan teks yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan keterampilan berliterasi siswa. Selain itu, strategi literasi dalam pembelajaran belum diterapkan secara optimal.

      Solusi
      Guru perlu memahami bahwa upaya pengembangan literasi tidak berhenti ketika siswa dapat membaca dengan lancar dan memiliki minat baca yang baik sebagai hasil dari pembiasaan budaya literasi. Pengembangan literasi perlu terjadi pada pembelajaran di semua mata pelajaran melalui upaya untuk mengembangkan karakter serta meningkatkan kompetensi berpikir tingkat tinggi. Para guru perlu mengoptimalkan strategi literasi dalam pembelajarannya. Pengembangan kemampuan literasi di sekolah akan membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa. Penggunaan teks dan/atau bahan ajar yang bervariasi, disertai dengan perencanaan yang baik dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berliterasi siswa.

      Implementasi Kegiatan Literasi
      Implementasi penumbuhan budaya literasi di sekolah memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, sertatindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan operasionalisasi hal-hal yang telah dipersiapkan. Pemantauan dan evaluasi merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan.Tindak lanjut merujuk pada hal-hal yang perlu dilakukan selanjutnya (penyusunan program lanjutan).

      Penumbuhan literasi di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan tersebut dilakukan dalam tiga tahapan literasi yaitu tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Agar dapat melaksanakan tiga tahapan literasi tersebut diperlukan kegiatan persiapan, sebagai berikut.

      Persiapan
      1. Rapat Koordinasi
      Kegiatan ini dilaksanakan untuk membicarakan maksud dan tujuan dilaksanakannya literasi di sekolah. Rapat koordinasi digelar oleh kepala sekolah dan diikuti oleh:
      a. Kepala Sekolah
      b. Para Wakil Kepala Sekolah
      c. Perwakilan Guru dan Karyawan

      Tujuan rapat koordinasi ini antara lain:
      a. Pemahaman tentang literasi
      b. Pembentukan tim literasi sekolah (TLS)
      c. Penyusunangaris besar program kerja literasi sekolah (dilanjutkan oleh TLS)
      d. Persiapan materi sosialisasi lietrasi

      2. Pembentukan Tim Literasi di Sekolah (TLS)
      Kepala sekolah membentuk TLSmelalui Surat Keputusan Kepala Sekolahyang menyertakan tugas pokok dan fungsi anggota tim. Susunan anggota TLS disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Pembentukan TLS dapat dibaca dalam buku ―Manual Pendukung Gerakan Literasi Sekolah untuk Jenjang Sekolah Menengah Pertama.‖ (Kisyani-Laksono dkk. 2016).

      3. Sosialisasi
      a. Sosialisasi pada Guru dan Karyawan.
      Sosialisasi ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan komitmen guru dan karyawan tentang pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.
      b. Sosialisasi pada Siswa
      Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang literasi, tujuan pelaksanaan literasi, dan mekamisme pelaksanaan literasi.
      c. Sosialisasi pada Komite Sekolah dan Orang Tua Siswa
      Sosialisasi pada komite sekolah dan orang tua siswa bertujuan untuk memberitahukan adanya kegiatan literasi di sekolah dan berharap agar komite dan orang tua siswamendukung kegiatan tersebut. Dalam kegiatan sosialisasi ini diperlukan narasumber yang memahami dan mampu menjelaskan tentang literasi di sekolah.

      4. Persiapan Sarana Prasarana
      Untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah diperlukan ekositem sekolah yang literat dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang perlu dimiliki oleh sekolah antara lain:
      a. Perpustakaan sekolah (cf. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Parasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
      b. Pojok baca di kelas dan lingkungan sekolah
      c. Jumlah buku sesuai dengan Permendiknas no 24 tahun 2007: (1) Buku teks pelajaran: 1 eksemplar/mata pelajaran/peserta didik,
ditambah 2 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (2) Buku panduan pendidik: 1 eksemplar/mata pelajaran/guru mata pelajaranbersangkutan, ditambah 1 eksemplar/mata pelajaran/sekolah; (3) Buku pengayaan: 870 judul/sekolah, terdiri atas 70% nonfiksi dan
30% fiksi.
Banyak eksemplar/sekolah minimum: 1000 untuk 3--6 rombongan belajar, 1500 untuk 7--12 rombongan belajar, 2000 untuk 13--18 rombongan belajar, 2500 untuk 19--24 rombongan belajar; (4) Buku referensi: 20 judul/SMP; (5) Sumber belajar lain: 20 judul/SMP (Bandingkan dengan Permendikbud No 23 tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimal:Satu set buku teks untuk setiap perserta didik dan 200 judul buku pengayaan dan 20 buku referensi untuk SMP!).
      d. Web sekolah
      e. Akses internet di lingkungan sekolah
      f. Spanduk, poster,leaflet, dan/atau brosur penumbuhan budaya literasi

      Pelaksanaan
      Pada dasarnya, pelaksanaan GLS dapat dilihat pada tiga hal berikut ini.
      1. mengacu pada perencanaan
      2. mengacu pada keterampilan abad XXI dengan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter (PPK):(1) religius, (2) nasionalis, (3) mandiri,(4) gotong royong, (5) integritas.
      3. menggunakan daftar cek instrumen pengembangan budaya literasi di sekolah (pelaksanaan tiga tahapan literasi) yang terdapat dalam lampiran 1 dan daftar cek indikator pelaksanaan strategi literasi dalam pembelajaran. Pembahasan mengenai strategi literasi dalam pembelajaran terdapat dalam Bab III.

      Tiga kegiatan pelaksanaan GLS di sekolah merupakan dasar untuk membangun dan mengembangkan budaya literasi sekolah, dimulai dari Kegiatan Pembiasan, Kegiatan Pengembangan, dan Kegiatan Pembelajaran.

      Secara lebih rinci, ihwal ketiga kegiatan pelaksanaan GLS dapat dipelajari dalam ―Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah‖ dan ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖. Adapun indikator tiga kegiatan pelaksanaan literasi sekolah ada di lampiran 1 yang merupakan gabungan dari instrumen kegiatan pembiasaan (13 butir pertanyaan), pengembangan (17 butir pertanyaan), dan pembelajaran (23 butir pertanyaan) yang terdapat dalam ―Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP‖, 2016). Instrumen terdiri atas 27 butir pertanyaan. Satu butir pertanyaan dimungkinkan berada dalam tiga atau dua kegiatan sekaligus (contoh: 15 menit membaca ada dalam semua jenis kegiatan GLS). Berikut adalah petunjuk butir dan nomor dari setiap tahapan (tabel instrumen budaya literasi sekolah dengan 27 butir nomor terdapat dalam lampiran).

      Tindak Lanjut
      Hasil pemantauan dan evaluasi dapat dicermati sebagai bahan refleksi. Tindak lanjut diwujudkan dengan penyusunan perencanaan lanjutan dalam hal kegiatan berliterasi. Jika dalam pengisian instrumen masih ada hal-hal yang ―belum atau kurang, penyusunan rencana lanjut berpumpun (berfokus) pada upaya supaya yang ―belum menjadi ―sudah atau yang kurang menjadi baik. Jika hasil refleksi menunjukkan bahwa semua sudah dilakukan dan semua sudah baik, perlu dilakukan rencana lanjutan untuk mengimbaskan hal tersebut kepada sekolah-sekolah yang ada di sekitar.

      Strategi Literasi Dalam Pembelajaran
      Tujuan
      Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll. (cf. Robb, L, 2003).

      Konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, adapun literasi adalah bagaimana mengajarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam pembelajarannya. Salah satu tujuan penting dari strategi literasi dalam pembelajaran konten adalah untuk membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah (Ming, 2012: 213). Dengan demikian strategi literasi dalam pembelajaran akan membentuk karakteristik siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi).

      Pembelajaran yang menerapkan strategi literasi penting untuk menumbuhkan pembaca yang baik dan kritis dalam bidang apapun. Berdasarkan beberapa sumber, dapat disarikan tujuh karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif (cf. Beers 2010: 20-21; Pahl&Rowsell 2005: 82), antara lain:
      1. Pemantauan pemahaman teks (siswa merekam pemahamannya sebelum, ketika, dan setelah membaca).
      2. Penggunaan berbagai moda selama pembelajaran (literasi multimoda)
      3. Instruksi yang jelas dan eksplisit.
      4. Pemanfaatan alat bantu seperti pengatur grafis dan daftar cek.
      5. Respon terhadap berbagai jenis pertanyaan.
      6. Membuat pertanyaan.
      7. Analisis, sintesis, dan evaluasi teks.
      8. Meringkas isi teks.
      Menyimak karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi, dapat disimpulkan bahwa strategi literasi dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, berbasis teks, berbasis proyek, berbasis masalah, inquiry, discovery, dan saintifik sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut(Beers 2010; Greenleaf dkk, 2011; Robb, 2003; Toolin, 2004).

      Indikator Literasi dalam Pembelajaran
      Pada dasarnya, silabus berbagai mata pelajaran di SMP sudah menunjukkan adanya strategi literasi dalam pembelajaran. Penuangan silabus ke dalam kegiatan pembelajaran dapat diceksilangkan dengan indikator literasi dalam pembelajaran.

      Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa istilah ―teks‖ dalam literasi dapat berwujud teks tulis, lisan (audio), visual, auditori, audiovisual, spasial, nonverbal (kinestesik dsb). Wujud teks bisa digital atau nondigital. Sejalan dengan itu, istilah "membaca" yang digunakan dalam kegiatan literasi juga merujuk pada membaca dalam arti luas.

      Biarpun demikian, pembelajaran di sekolah tidak pernah lepas dari teks tulis karena tersedia buku siswa. Oleh sebab itu, pada tahap awal, strategi literasi dalam pembelajaran dapat berfokus pada teks tulis tersebut.

      Berikut adalah daftar cek untuk indikator literasi untuk menguatkan langkah-langkah pembelajaran, menumbuhkembangkan karakter, dan mengasah kompetensi. Pernumbuhkembangan karakter tertentu dan pengasahan kompetensi yang berkelindan dengan strategi literasi dalam pembelajaran disesuaikan dengan materi yang disajikan. Strategi literasi dalam pembelajaran bukan materi, tetapi merupakan strategi yang berwujud langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini nomor yang tersaji tidak merujuk pada urutan (dalam pembelajaran hal tersebut tidak harus urut). Semakin banyak tanda cek pada kolom ―sudah berarti strategi literasi dalam pembelajaran semakin sarat.

        Download Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018

        Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

        Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018



        Download File:

        Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.pdf
        Modul Literasi - Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP 2018.docx

        Demikian yang bisa kami sampaikan mengenai keterangan berkas dan share file Modul Strategi Literasi Dalam Pembelajaran di SMP Tahun 2018. Semoga bermanfaat.

        Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013

        Diposting oleh Pada 5/14/2018 11:31:00 PM dengan No comments

        Berikut ini adalah berkas Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013. Download file format .docx Microsoft Word.

        Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013
        Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013

        Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013

        Untuk menakar kesesuaian RPP ini tentunya berpedoman pada :
        1. Lihat: Kompetensi, Materi, Pembelajaran, dan Penilaiannya;
        2. Lihat Perancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
        3. Lihat Alur Praktik Pembelajaran dan Penilaian.
        4. Lihat Praktik Pengolahan dan Pelaporan Penilaian Hasil Belajar.
        5. Sudahkah terkandung Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan HOTS (High Order Thinking Skill).

          Download Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013

          Selengkapnya mengenai susunan dan isi berkas Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013 ini silahkan lihat dan unduh pada link di bawah ini:

          Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013



          Download File:
          Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013.docx

          Demikian share file Contoh RPP IPS SMP Kelas 7 Semester 2 Tahun 2018 Kurikulum 2013. Semoga bermanfaat. 

          Formulir Kontak

          Nama

          Email *

          Pesan *